Home / Features / Gua Niah – Mengenal Asal Usul Penduduk Borneo (1)

Gua Niah – Mengenal Asal Usul Penduduk Borneo (1)

| Penulis: Masri Sareb Putra, M.A.

Tulisan ini bagian dari “gnothi seauton” – mengenal diri-sendiri.  Akan berserial. Menukilkan kisah perjalanan riset Penulis dari Gua Niah – artefak batu peninggalan zaman Hindu-Jawa di Pakit dan Kapuas Hulu. Hingga kuburan tua Batu Sicien di Krayan, serta bukti sejarah kebudayaan batu di Ba’Binuang, Karayan Tengah.

Dari Kuching. Ibunegeri tanah Sarawak. Lokus, bukti penduduk telah menghuni bumi Borneo itu pun, meninggalkan jejak sejarahnya.

Kita mulai dari Gua Niah.

Sejam perjalanan dari Kuching menuju Gua Niah. Bukti sejarah tak terbantah. Bahwa Borneo sekurang-kurangnya 46.000 tahun lalu telah dihuni manusia. Hal itu dicatat Barker cum suis ( 2007). Bahwa manusia purba telah menempati Kalimantan di daerah perbukitan di sekitar Niah, Sarawak.

Prof. Collins (2017) mencatat. Bahwa penduduk di Niah itu ini mewakili migrasi Australo-Melanesia. Klan inilah  yang selanjutnya bergerak mengisi Indonesia Timur, Papua dan juga Australia.

Pun pula, seperti dicatat sang Profesor, “Walaupun sudah dijejaki migrasi manusia 40.000 tahun itu, namun, sudah diketahui juga bahwa sekitar 4.000 tahun lalu terdapat arus migrasi baru di Nusantara. Migrasi kedua itu membawa orang Austronesia ke Nusantara” (Collins 2014). Lihat juga Bellwood (1997:92). Dua migrasi purbakala ini, sudah membentuk dan mempengaruhi kompleksitas yang kita saksikan di Kalimantan pada waktu ini.”

Saya berjumpa dengan Collins pada Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak di Bengkayang (2-6 Juni 2017). Sebagai ketua Steering Commitee (SC), saya cukup intens diskusi dengannya. Lalu menyimak dengan saksama paparannya. Meski tidak menohok ke asal usul penduduk Borneo, Profesor dari Institut Kajian Etnik Universiti Kebangsaan Malaysia ini, setidaknya telah memberi clue. Untuk kita teliti lebih lanjut, sebab semakin terpacu ingin tahu tentang Gua Niah.

Manusia penghuni Borneo terbukti dari Gua Niah. Usianya sudah diuji dengan C-35. Penelitian dilakukan orang Inggris bekerja sama dengan Museum Sarawak, di Kuching, ini membuktikan. Bahwa peradaban kita telah begitu tua, lagi mulia. Dan, memang, kita manusia mulia.

Jadi, mengapa mesti mengikuti teori. Yang musykil dibuktikan. Bahwa nenek moyang orang Dayak dari Yunan?

Mana bukti sejarahnya? Sejarah wajib mengandung: 1) di mana setting (lokus dan waktunya)? 2) Siapa tokoh/ pelakunya? 3) Bagaimana peristiwa/sejarahnya? 4) Apa bukti dokumennya?

Gua Niah telah memenuhi syarat sebagai alat bukti sejarah. Bagaimana metode riset sejarah? Sedemikian rupa, sehingga saya berada pada mazhab bahwa penduduk asli Borneo tidak dari mana pun juga. Tapi asli dari sini. Dan di tempat ini.

Hal itu akan kita simpan untuk serial tulisan yang berikutnya.

***

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Hutan Kalimantan dan Kenangan Terindahnya

| Penulis: Deodatus Kolek Suatu sore saya bercerita dengan beberapa bapak di teras pastoran Paroki …

Leave a Reply

Your email address will not be published.