Home / Berita / Ketika Merah Putih Berkibar di Puncak Bukit Yuvai Semaring

Ketika Merah Putih Berkibar di Puncak Bukit Yuvai Semaring

| Penulis: R. Masri Sareb Putra

Yuvai Semaring. Nama asing bagi orang luar Lundayeh dan Krayan. Namun, bagi penduduk setempat, itu nama amat mashyur.

Di puncak bukit itulah. Pada 17 Agustus 2021. Dr. Yansen TP, M.Si., Wakil Gunernur Kalimantan Utara dan segenap pimpinan dan wakil masyarakat Krayan memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-76 yang cukup unik.

Mengapa harus di puncak bukit? Bukit Yuvai Semaring lagi?

Tentu, hal itu telah dipikir jauh dan dalam. Puncak bukit simbol ketinggian, tanpa batas, melampaui. Masyarakat perbatasan ingin menunjukkan. Bahwa nasionalisme kebangsaan melampaui tapal batas. Di mana pun, gelora semangat nasionalisme dan patriotisme bisa tumbuh dan berkembang.

Tinggal di perbatasan, seperti di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tidak berarti membatasi nasionalisme dan patriotisme.

Masyarakat Krayan lekat dengan tokoh legenda Yuvai Semaring. Ia digambarkan seorang yang memiliki tubuh tinggi besar, melebihi manusia pada umumnya. Ia mendiami wilayah bukit yang berada di sebelah barat Long Bawan.

Syahdan, menurut cerita yang beredar dari mulut ke telinga. Yuvai Semaring dikenal sebagai orang yang baik hati. Sering membantu warga masyarakat di Long Bawan. Yuvai Semaring yang hidup di atas bukit, suatu ketika, turun ke sungai Krayan.

Pada suatu waktu. Ketika Yuvai Semaring sedang mandi di sungai. Dia mendapati sebuah anyaman bambu tergeletak begitu saja di tepian. Berbentuk lingkaran. Dengan lingkar-ukuran yang sangat besar. Anyaman itu untuk membuat bubu, yakni alat tradisional orang Dayak menangkap ikan. Bentuknya mirip dengan “bekel”, yakni gelang yang biasanya melingkar di betis manusia Krayan.

Serta merta melihat lingkar anyaman bambu yang sangat besar itu, yang terlepas dari bubu, Yuvai Semaring berpikir. Dirinya saja yang tinggi besar, bekel-nya, tidak sebesar itu! Pasti ada manusia yang lebih besar lagi tinggi perawakannya daripadanya. Manusia raksasa yang juga mendiami bumi Krayan, selain dirinya.

Yuvai Semaring mencoba bekel itu.

Ia bisa bayangkan betapa orang yang punya bekel itu manusia-raksasa. Seketika, ia merasa gentar. Maka Yuvai Semaring melarikan diri dari termpat itu. Yuvai Semaring melarikan diri ke arah utara demi menghindari manusia-raksasa yang ada dalam pikirannya. Ia meninggalkan bukit tempat tinggalnya selama ini.

Itulah legenda Bukit Yuvai Semaring dengan ketinggian 800 meter yang terletak di daerah Long Bawan. Sebenarnya, terdiri atas dua perbukitan kembar. Yaitu bukit bagian timur dan bukit Yuvai Semaring pada daerah bagian barat. Pada bagian puncak, bukit itu berukuran dataran 18 x 31 meter.

Kini Bukit Yuvai Semaring menjadi ikon daya tarik wisata daerah long Bawan. Jika ke sana, kita disuguhi pemandangan yang khas.

Pada awal pendakian, terdapat tangga yang terbuat dari beton hingga pertengahan perjalanan. Kemudian, pengunjung harus menyusuri jalan setapak. Di kiri kanan, kita disuguhi dengan pemandangan yang eksotik, alami, lagi indah. Ia bagian dari “the heart of Borneo” yang magis dengan sejuta tebar pesonanya.

Dari puncak Bukit Yuvai Semaring, kita dapat saksikan panorama eksotik. Dari sini, tampak permukiman Long Bawan, Bandara Yuvai Semaring, permukiman terang baru dan sejumlah permukiman yang mengitari asri pemandangan Long Bawan.

Nah. Di puncak bukit itulah bendera merah putih telah pun dikibarkan. Dr. Yansen TP, Msi. pada 17 Agustus 2021 menandai puncak bukit itu sebagai terus menggeloranya semangat nasionalisme kebangsaan masyarakat perbatasan.

Di puncak bukit Yuvai Semaring, Wagub Yansen menggemakan pekik:

“Negara ini membutuhkan semangat dari lubuk hatimu yang terdalam. Sedetik nafasmu akan mewarnai negara ini. Jaga, bela negara ini dengan semangat heroisme dan semangat kebangsaan-mu”.

Dr. Yansen TP, M.Si
Wakil Gubernur Kalimantan Utara
Gunung Yuvai Semaring, Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, Selasa 17 Agustus 2021.

***

Bionarasi

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Brigjen Pol (P).Drs.H Damianus Jackie Mendukung DAD Mempawah Atas Keputusan Sanksi Hukum Adat & Tuntutan Penjara

Brigjen Pol (P).Drs.H Damianus Jackie Mendukung DAD Mempawah Atas Keputusan Sanksi Hukum Adat & Tuntutan Penjara

Brigjen Pol (P).Drs.H Damianus Jackie Mendukung DAD Mempawah Atas Keputusan Sanksi Hukum Adat & Tuntutan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.