Home / Sastra / Cerpen | Ruang Kenangan yang Istimewa

Cerpen | Ruang Kenangan yang Istimewa

| Penulis: Lisa Mardani

Namanya Tarigas. Ia gadis yang cantik. Matanya tajam seperti elang. Berkulit putih bersih bagaikan gadis Cina. Tanpa sapuan bedak pun ia telah terlihat cantik menawan. Tarigas tidak hanya cantik. Ia pandai bergaul, ramah dan pintar. Berkat kecerdasan yang dimiliki, ia mendapat beasiswa untuk kuliah di sebuah universitas di Jakarta.

Namun, baru saja memasuki semester kedua, ia harus cuti dari kampus. Akibat wabah demam berdarah dan sakit tipes yang menimpanya. Hampir saja maut menjemputnya. Badannya yang ramping semakin ramping. Kulit putihnya semakin terlihat pucat.

Senja itu, ia baru pulang dari rumah sakit. Perlahan ia mulai menaiki tingkap-tingkap tangga. Langkahnya gemetaran dan sempoyongan.

“Ya Tuhan, tolong…!” teriaknya yang memecahkan keheningan. Hampir saja ia oleng dan terjatuh. Kedua tangannya gemetaran, sambil memegang erat tiang penyangga.

“Aduh…. pelan-pelan dong Tari… kenapa gak bilang sih kalo mau naik!” teriakku panik sembari menghempaskan semua barang bawaanku.

Aku langsung menuntunya naik tangga. Kami ke lantai 3, menuju sebuah kamar KK S3 (Kamar Kos Sungguh Sangat Sederhana).

“Akhirnya aku bisa kembali lagi ke kamar ini. Ruang istimewa yang penuh kehangatan,” Ucap Tarigas sambil menarik nafas lega.

 “Ha… apa katamu… ruang istimewa?!” pernyataannya sontak membuatku kaget.

“Apanya yang istimewa…? Ruang sempit dan panas gini dibilang istimewa,” Jawabku ketus.

Baca juga: Inoi dan Mangga Ranum

“Itu kan menurutmu Lina”. Kamu belum ngerasain sih Lin…. nginap berminggu-minggu di rumah sakit. Ditusuk sana-sini. Boro-boro mau makan. Tarik nafas aja susah tau!”.

Sejenak aku terdiam. Sambil menarik nafas yang dalam. Terucap kata syukur yang keluar dari bibirku.

“Puji Tuhan… aku masih bisa menarik nafas tanpa alat oksigen. Aku masih sehat,” Gumamku.

“Lagipula, cuma kamar kos ini kan Lin, yang bisa kita sewa. Itu pun tiap bulan bayarannya sering nunggak. Untung aja bu kosnya super sabar dan pengertian. Kalo gk…???

“Kalo gak… ya kita diusirlah, trus kita jadi gelandangan deh…!” lanjutnya.

“Gue mah ogah jadi gelandangan, elu aja kale sis… mendingan gue pulkam ajah!” jawabku yang kadang bicara sesuka hati dan tak beraturan.

“Pulang kampung juga perlu biaya kale… emangnya lu pikir bisa petik daun, buat beli tiket pesawat. Lagipula gengsi dong, udah jauh-jauh kuliah ke Jakarta. Pulang ke kampung gak bawa hasil, gagal kuliah pula!” Kata Tarigas.

Tak terasa peluh tercecer mengguyur bajuku. Butiran kristal mulai bercucuran membasahi pori. Bersyukur ada sebuah kipas angin kecil, yang dapat memberikan sedikit kesegaran bagi kami. Kubuka sedikit jendela kosan yang sempit. Mataku menerawang jauh hingga ke pusat kota Jakarta. Terlihat gemerlap lampu yang berkilauwan. Menambah semaraknya ibu kota.

 “Jakarta memang tak pernah tidur dengan segala aktfitasnya,” Gumamku seraya berharap pada angin malam untuk membawa kesegaran.

 “Ini sudah larut malam Lin. Ayo kita tidur. Besok kita harus bangun pagi dan masih kuliah,” Kata Tarigas yang menghentikan lamunanku.                

Tak terasa sudah 4 tahun berlalu. Kami pun wisuda. Tangis haru, canda dan tawa menggema, menghiasi perayaan wisuda kami.

“Tak terasa, sekarang kita sudah jadi sarjana ya Lin!” ucap Tarigas sambil tersenyum lebar.

“Ia ya Tar. Kalo mengingat perjuangan kita saat tinggal di kos dulu, rasanya gak mungkin kita bisa melewatinya,” jawabku tersenyum haru.

Tak kuasa aku menahan tetesan yang jatuh berderai membasahi pipi. Sungguh tak mudah bagiku sebagai anak kampung, yang harus berjuang sendiri ke ibu kota demi menimba ilmu di tanah Jawa. Selama liburan, aku tidak pernah pulang ke kampung halaman. Demi mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhanku.

“Tapi kita masih tetap bersama kan Lin…? Melanjutkan perjuangan di kota yang penuh kesibukan ini,” kata Tarigas dengan penuh semangat.

Aku hanya menggeleng kepala.

“Loh kenapa Lin…?” tanya Tarigas kebingungan.

“Maaf aku gak bisa Tar. Aku harus pulang ke pedalaman Kalimantan,” jawabku singkat.

“Emang harus ya…?” tanyanya heran.

“Ya gak juga sih. Tapi kan aku udah terlanjur janji pada orangtua. Jika sudah selesai kuliah aku langsung pulang.

“Ya itu kan dulu. Sekarang zamannya udah beda. Ya setidaknya kamu cari pengalaman dulu beberapa tahun. Kamu kan perlu menjalin relasi juga di Jakarta,” kata Tarigas.

“Gak bisa Tar,” jawabku tegas.

Tarigas hanya bisa menarik nafas panjang, setelah mendengarkan penjelasanku panjang lebar.

Seminggu kemudian, saya mem-booking tiket pesawat Garuda. Jurusan penerbangan Jakarta-Pontianak.

Baca juga: Cerpen | Tomalui, Gadis Misterius di Hutan Belantara

“Aduh sorry banget ya Lin… gue gak bisa antarin lu ke bandara. Soalnya 2 jam lagi aku ada interview pekerjaan di sebuah perusahaan asing,” kata Tarigas sambil menyusun berkas-berkasnya.

“Santai aja kali Tar. Aku udah biasa kok naik taxy ke bandara,” jawabku.

Kami langsung bergegas keluar dari kamar kos. Aku menyeret koperku ke luar kamar.

“Selamat tinggal ruang kenangan yang penuh kehangatan,” Ucapku lirih dalam hati, sambil menatap pintu kos yang sudah tertutup rapat dan terkunci.

Entah mengapa, langkahku terasa berat saat melewati lorong-lorong kos-kosan itu. Nafasku pun terasa sesak di dada. Air mata menetes membasahi pipi. Tak terasa aku telah menghabiskan waktuku bertahun-tahun di kos itu. Buru-buru aku mengeluarkan tisu dan menghapus tetesan air di pipiku.

Aku dan Tari menunggu taksi Blue Bird di sebuah konter HP.

“Kamu baik-baik ya Lin di Kalimantan. Kalo lu ke Jakarta, jangan lupa kabarin gue… titip salam ya buat keluargamu di sana!” kata Tarigas.

“Ia Tar, maaf ya kalo aku banyak salah. Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku!” ucapku sambil membendung air mata yang hendak tercurah.                  

“Nah itu dia taksi bandaranya udah datang!” kata Tarigas.

Supirnya segera keluar dan berkata, “silakan masuk neng,” sambil membuka pintu mobil, dan membantu memasukan koperku ke bagasi mobil.

Aku pun langsung masuk dan duduk di kursi mobil. Dari kaca mobil aku melihat Tarigas melambaikan tangan. Aku pun membalas lambaian tangannya. Kulihat Tarigas terburu-buru, naik transportasi umum. Ia menuju sebuah kantor tempatnya melamar kerja. Aku langsung memanjatkan sepenggal doa.

“Ya Tuhan tolonglah Tarigas. Bantulah dia supaya sukses dan berhasil di kota ini. Dan yang lebih penting, dia sehat dan tidak sakit-sakitan lagi, amin!”.

Setelah belasan tahun berlalu. Kulihat sahabatku Tarigas sudah jauh berbeda. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, ia pun menuai hasil.

Tarigas memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Tentunya tidak lagi tinggal di kosan istimewa yang penuh kehangatan. Melainkan tinggal di komplek perumahan elit dengan harga yang fantastis.

Sejumlah kendaraan pribadi juga turut menghiasi teras rumahnya. Semua berkat ketekunan dan kerja kerasnya di sebuah perusahaan asing. Namun ia tetap bersahaja dan ramah.

***

Sumber gambar: https://cdn-image.hipwee.com

Bionarasi

Lisa Mardani, S.Pd.K., dilahirkan di Kepingoi, Kalimantan Barat pada 11 Oktober 1986. Seorang perempuan dari suku Dayak Uud Danum. Sejak tahun 2021 aktif menulis feature tentang suku Dayak Uud Danum.

About Admin

Check Also

Monolog Sang Pecandu Bulan dan purnama

| Penulis: Oktafianus Candra Selama ini kita mungkin sudah saling mengenal sehingga salahku dan salahmu …

Leave a Reply

Your email address will not be published.