Home / Budaya / Memikirkan Kembali Ritual Adat Tolak Bala Suku Dayak (2)

Memikirkan Kembali Ritual Adat Tolak Bala Suku Dayak (2)

| Fransiskus Gregorius Nyaming

Lalu terhadap peristiwa pertama, bagaimana kita mesti menyikapinya?

Kita patut berterima kasih kepada para leluhur yang telah mewariskan kearifan lokal dalam bentuk ritual adat tolak bala kepada kita. Ada banyak sekali pengajaran yang dapat kita petik dari ritual adat ini bagi kehidupan pribadi maupun bersama.

Saya sendiri melihat bahwa dengan menciptakan ritual adat tolak bala, nenek moyang kita ingin mengingatkan bahwa bencana dan penyakit (penderitaan) akan selalu menjadi bagian dari peziarahan hidup kita sebagai mensia (manusia).

Selain itu, nenek moyang kita ingin mengajarkan agar kita tidak menyerah pasrah begitu saja terhadap segala penyakit dan penderitaan. Manusia boleh berupaya, namun selebihnya kita serahkan dalam tangan Tuhan (Petara, Jubata, Duata, Penompa, Duataq, Duato, Tanangaan, Ranying Hatalla Langit). Itulah kiranya pengajaran yang hendak disampaikan kepada kita.

Baca juga: Memikirkan Kembali Ritual Adat Tolak Bala Suku Dayak (1)

Dan bahwa upaya tersebut tidak dilakukan seorang diri, tapi melibatkan semua anggota komunitas, juga mau mengajarkan kepada kita betapa pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam menghadapi dan mengatasi setiap kesulitan dan tantangan hidup.

Salah seorang sahabat, yang juga turut menuliskan komentar pada status yang saya unggah di akun facebbok itu, mengatakan bahwa dalam suku Iban ritual tolak bala juga disebut dengan ngampun. Yang artinya sudah jelas, yakni manusia memohon ampun kepada Yang Kuasa atas segala dosa dan kesalahan yang telah mereka perbuat.

Dari pengajaran-pengajaran di atas memang sudah tak terbantahkan lagi bila ritual tolak bala kita kategorikan sebagai sebuah kearifan lokal. Mengapa? Karena kearifan lokal itu sendiri dipahami sebagai filsafat yang hidup di dalam hati masyarakat, berupa kebijaksanaan akan kehidupan, way of life, ritus-ritus adat dan sejenisnya. Dia merupakan produk berabad-abad yang melukiskan kedalaman batin manusia dan keluasan relasionalitas dengan sesamanya serta menegaskan keluhuran rasionalitas hidupnya (Armada Riyanto dkk, 2015:28).

Betapa kita terkagum-kagum akan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam ritual tolak bala. Namun bila melihat kembali peristiwa pertama yang saya tampilkan di atas, pertanyaan yang saya ajukan di awal tulisan ini kembali mengemuka.

Mungkin saja ada dari antara kita yang tidak mau ambil pusing karena peristiwa yang saya jadikan sebagai contoh itu terjadi di sub suku Dayak lain. Kita lalu beranggapan bahwa ritual tolak bala di tempat kita selama ini sudah berjalan seturut yang diwariskan oleh leluhur. Sehingga tidak perlu lagi ada yang harus dibenahi.

Baca juga: “Ngelepak Jalai”: Kearifan Lokal yang Masih Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Sikap demikian rasanya kurang bijak. Sebagai orang yang beradab, beradat dan beragama, saya rasa Anda sependapat dengan saya bahwa sangatlah tidak elok berdoa mohon keselamatan untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat, tapi pada saat yang sama meminta agar bencana dan malapetaka menimpa orang lain.

Apakah barangkali itu yang menyebabkan pandemi Covid-19 ini tidak kunjung selesai karena seperti yang ditulis oleh Rasul Yakobus dalam suratnya: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3)? Entahlah…!

***

Bila demikian, apa yang harus kita perbuat? Wabah virus corona tentulah bukan satu-satunya penyakit yang membuat manusia menderita. Untuk mau mengatakan bahwa penderitaan akan selalu hadir dalam aneka rupa.

Bila kita meyakini bahwa ritual tolak bala memiliki kemujaraban dalam menghalau segala penyakit, bencana dan marabahya, maka kita harus memikirkan bersama-sama bagaimana agar ritual adat ini tidak hanya sebatas ritual, tapi sungguh berkenan di hadapan Yang Mahatinggi.

Oleh karena itu, saya mengusulkan agar suatu waktu mungkin baik bila diadakan pertemuan untuk semua rumpun suku Dayak. Adapun pokok pembahasannya ialah menyeragamkan, katakanlah demikian, isi dari doa permohonan/mantra yang disampaikan dalam ritual.

Setiap rumpun memang mempunyai bahasa yang berbeda. Namun sejak ritual tolak bala ada dalam setiap rumpun, dan juga tujuannya sama, yakni memohon perlindungan dan keselamatan dari Yang Mahakuasa agar terhindar dari bencana dan marahabaya, rasanya bukan hal yang mustahil bila penyeragaman itu dilakukan.

***

Sumber gambar: pontianak.tribunnews.com

Bionarasi

Fransiskus Gregorius Nyaming, dilahirkan di Medang, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada 17 Agustus 1984.

Seorang Pastor Katolik. Sedang menempuh studi program doktoral jurusan Teologi Dogmatik di Universitas Katolik St. Paus Yohanes Paulus II Lublin, Polandia

About Admin

Check Also

Lemang Bambu ala Perantau Dayak di Ibu Kota

| Penulis: Lisa Mardani Kesibukan para pekerja maupun seniman tidak akan pernah berhenti. Apalagi bagi …

Leave a Reply

Your email address will not be published.