Home / Pojok Renungan / Peran Gereja dalam Masyarakat

Peran Gereja dalam Masyarakat

| Penulis: Hertanto, S.Th., MACM, M.I.Kom

Mungkin Anda pernah bertanya pada diri sendiri, bagaimana seharusnya gereja berperan dalam masyarakat? Mana yang harus diutamakan terlebih dahulu, pelayanan di dalam gereja atau di luar gereja?

Beberapa orang mengatakan bahwa melayani di dalam gereja seharusnya lebih dahulu dikerjakan, setelah itu baru melakukan pelayanan di luar. Namun ada juga yang beranggapan bahwa melakukan pelayanan di luar seharusnya lebih dahulu dilakukan karena orang-orang yang berada di dalam gereja sudah mendapatkan anugerah atas kasih karunia Allah. Perbedaan pendapat ini tentunya tidak akan pernah berakhir.

Satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bagaimana seharusnya kita memiliki satu pemahaman yang sama mengenai makna gereja.

Hal klasik yang seringkali didengar adalah “gereja” tidak menunjuk pada gedung atau bangunan fisik, namun pada umat yang telah ditebus Allah di dalam YESUS KRISTUS yang bangkit dari kematian. Kata klasik sengaja digunakan karena seringnya pembahasan ini diulang-ulang dan saat ini pun tidak segan-segan untuk mengulang istilah gereja yang digunakan ini.

Gereja berasal dari Bahasa Portugis, yaitu igreja. Kata igreja sendiri ternyata berasal dari kata Yunani yaitu “ekklesia” yang berarti “ek” (keluar) dan “klesia” = “kaleo” (memanggil). Berdasarkan hal tersebut tentunya kita menemukan makna yang lebih sederhana bahwa gereja berarti umat yang dipilih dan ditebus untuk keluar dari kuasa dunia sebab Allah memanggil mereka menuju terang dan keselamatan-Nya. Perubahan status dinyatakan dalam 1 Petrus 2:9-10.

Umat yang dahulunya berada di bawah “kutuk” kini berada dan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Berdasarkan pengertian dari kata gereja itu sendiri, kini saatnya kita masuk dalam pemahaman mengenai jawaban atas pertanyaan yang sengaja dimunculkan di awal. Mana yang harus diutamakan terlebih dahulu, pelayanan di dalam gereja atau pelayanan di luar gereja?

Rasul Paulus sangat memahami perseteruan-perseteruan sejenis yang terjadi, khususnya dalam konteks jemaat di Korintus. Dengan beragamnya karunia yang ada, maka sangatlah memungkinkan umat Tuhan terpecah dalam berbagai karunia tersebut. Pertanyaan ekstrim mungkin akan muncul, “apakah karunia penyebab terjadinya perpecahan di kalangan umat?” Mari kita perhatikan 1 Korintus 12:7-11.

Jadi apakah benar karunia penyebab perpecahan? Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penyebab perpecahan bukanlah karunia tetapi si penerima karunia. Mengapa? Karena sangat memungkinkan bahwa si penerima karunia merasa dirinya “dikhususkan sebagaimana yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11).

Penafsiran yang salah membawa si penerima karunia merasa lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya bukan? Kembali ke pokok awal pembahasan mengenai pelayanan utama, di dalam gereja atau di luar gereja?

Dalam Matius 20:28, Yesus menyatakan bahwa tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani dan bukan untuk dilayani, sehingga dalam kesempatan ini seharusnya pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah.

Apakah esensi dari pelayanan di dalam gereja atau di luar gereja? Apakah hanya untuk menjalankan program? Apakah hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan? Ataukah pelayanan itu memang muncul dari hati dan untuk melayani Dia, Sang Raja?

Setiap pengikut Kristus adalah seorang pelayan. Hal ini tentunya menjadi dasar pengakuan bagi pengikut Kristus, sehingga pelayanan bukan saja dimonopoli mereka yang memiliki jabatan dalam gereja. Mungkin kalimat ini terkesan arogan namun kenyataannya setiap orang yang ingin terjun dalam pelayanan di dalam gereja harus melewati tahapan-tahapan yang sudah menjadi ketetapan dalam sebuah gereja.

Apakah ini dibenarkan? Penulis tidak berani berdebat terlalu jauh karena masing-masing gereja telah mengatur hal itu dan masing-masing memiliki kriteria dalam bidang pelayanan.

Apakah ini baik? Penulis pun tidak berani masuk terlalu dalam tentang pembahasan ini namun yang perlu dipahami lebih lanjut adalah pelayanan di dalam gereja telah memiliki aturan-aturan yang baku dan tidak sembarang “umat” dapat terlibat di dalamnya.

Lalu bagaimana dengan pelayanan di luar gereja? Ketika pelayanan di luar gereja masih berada dalam ruang lingkup gereja tertentu, maka aturan-aturan baku pun tetap mengikuti, kecuali “umat” membuka dan memiliki pelayanan di luar gereja yang tidak terikat oleh gereja atau komunitas manapun.

Akhirnya, terbentuknya gereja bukanlah karena adanya kepentingan yang sama dari beberapa orang untuk bersatu. Namun, karena Allah telah memanggil mereka dalam keberagaman. Sehingga tidak heran ditemukannya “perselisihan” di dalam gereja.

Dan Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk membentuk karakter “gereja-gereja” agar semakin kuat dalam iman dan bertumbuh dewasa dalam kerohanian. Tidak penting mana yang harus diutamakan, apakah pelayanan di dalam gereja atau di luar gereja, yang terpenting adalah sikap hati saat melayani karena kita diajarkan bukan melayani manusia, tetapi Tuhan sebagaimana surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose (Kolose 3:23).

Di dalam pelayanan dan persekutuan inilah seharusnya berlangsung kehidupan yang saling memperhatikan, menguatkan, mendorong, menasihati, menerima dan memberi sehingga gereja dalam persekutuannya sungguh-sungguh menjadi alat kemuliaan yang indah bagi semua orang. (Trust & Obey)

***

Bionarasi

Hertanto, S.Th., MACM, M.I.Kom lahir di Jakarta pada 1 Juni 1977.

Bekerja di PT. Asuransi Central Asia. Penulis merupakan Pendiri dan Pelaksana Ruhiman Ministry, sebuah lembaga yang bergerak di bidang Pewartaan dan Kegiatan Sosial.

Menikah dengan Sri Hati Ningsih dan dikarunia anak: Euaggelion, Euridyce, Eulogia.

Saat ini sedang menempuh Magister Pendidikan Agama Kristen di STT Bethel Petamburan, Jakarta

About Admin

Check Also

Refleksi Teologis Terhadap Balis

| Penulis: Dominikus Irpan Dalam kisah Yesus yang mengusir roh jahat dari seseorang di Gerasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published.