Home / Didaktika / Bersyukur dan Simple Attitude

Bersyukur dan Simple Attitude

| Penulis: Rio Hanapi

Di tengah pandemi Covid-19 ini kiranya kita semua dalam keadaan baik dan sehat. Tetapi dalam kesempatan ini bukan covid yang jadi topik tulisan ini. Ya, walau begitu rasanya masih sangat terkait dengan hal itu.

Bersyukur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: bersyukur berasal dari kata syukur yang artinya adalah berterimakasih kepada Tuhan. Kalau kita mendengar kalimat bersyukur seperti “Bersyukur lo” pasti hubungannya dengan Tuhan.

Nah, sekarang lagi happening di Instagram atau twitter istilah-istilah simple attitude dalam pergaulan. Yang salah satu isinya bicara “Kalo temen lu lagi ceritain masalahnya tuh jangan ngomong –Mengkanya bersyukur/kayanya lu kurang bersyukur deh/liat deh ada orang yang engga seberuntung lo“.

Statement tersebut benar karena memang beberapa orang cerita bukan butuh feedback. Mereka hanya ingin punya tempat bicara saja.

Kembali pada pokok bahasan: bersyukur. Bukan semata ingin mengoreksi tentang simple attitude tersebut. Tetapi sedikit meluruskan perihal bersyukur.

Seorang sahabat pernah berkata, “Gw bingung deh sama orang-orang yang bisa berhenti sedih, down, depression. Dengan alasan bersyukur. Gw ga bisa. Orang gw lagi ada masalah, gimana mau bersyukur. Udah gitu dibanding-bandingin, ada orang yang lebih susah dari kita”. Biasa anak millennial tidak suka dibanding-bandingkan.

Sejenak saya memikirkan jawabannya. Menurutku sering kali kita menemukan kata bersyukur itu diiringi dengan kata senang, sukacita, dan senyuman yang indah. Intinya bersyukur harus diiringi ekspresi gembira.

Orang sering terjebak dengan pemahaman bahwa beryukur itu harus terlihat senang. Padahal tidak selalu demikian. Bersyukur tidak harus ditunjukkan dengan ekspresi senang.

Misalnya Anda ditraktir teman makan. Tetapi makanannya Anda tidak suka. Namun sebagai bentuk terima kasih Anda akan menghabiskan makanan tersebut. Atau jika makanannya bikin ‘eneg’ setidaknya Anda akan makan beberapa sendok. Nah, menurut saya bersyukur juga begitu.

Mungkin hidup Anda sedang fuckedup. Ada berbagai masalah ekonomi hancur, karir tidak naik hingga menyebabkan muka Anda murung dan senyum saja sulit. Sekalipun begitu, Anda tetap berjuang untuk menjalani hidup. Masih mau makan, mandi, bahkan masih sempat merawat diri. Bahkan ekspresi senang atau sukacita mungkin tak nampak. Apakah itu bukan bersyukur namanya?

Bagi Anda generasi Millennial yang tadi ngomong “tidak suka dibanding-bandingkan”. Solusinya, bersyukur tidak perlu melihat orang lain. Tidak perlu membandingkan diri.

Just do what you can do, hold what you can hold, do the best as you can, itu bersyukur.

Bersyukur juga tidak bisa disamakan dengan sekedar berterima kasih. Kalau berterima kasih itu kepada sesama sedangkan bersyukur itu kepada Tuhan. Itu esensinya. Karena apa arti kata terima kasih kalau Anda diberikan sesuatu sementara Anda tidak bisa menjaganya dengan baik.

Perkataan tanpa aksi nyata sama saja dengan nol besar. Jika sudah ada aksinya, barulah pantas untuk tersenyum dan bersukacita.

Jadi bersyukur itu rasa terima kasih kepada Tuhan yang esensinya adalah menjaga apa yang sudah diberikan-Nya dan mengusahakan pemberian-Nya meskipun keadaan hidup sedang kacau, pahit, dan membuat sulit tersenyum.

But you keep do what you do, hold what you can hold, and to the best as you can.

***

Bionarasi

Rio Hanapi dilahirkan di Jakarta pada 20 September 2003.

Mahasiswa gap year yang mengisi waktu luangnya dengan membuat podcast bernama ISAKUDE.

About Admin

Check Also

Bagaimana Saya Produktif dan Mengungguli Orang Lain?

| Penulis: R. Masri Sareb Putra Benjamin Franklin di depan para pebisnis muda Amerika pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published.