Home / Budaya / Balis dalam Mitologi Dayak Bakati Kalbar

Balis dalam Mitologi Dayak Bakati Kalbar

| Penulis: Dominikus Irpan

Dalam masyarakat Dayak Bakati’, terdapat suatu cerita atau mitos yang dipercayai dari generasi ke generasi, yakni tentang adanya suatu roh halus/roh jahat yang dalam bahasa masyarakat setempat dinamakan Amot Balis.

Amot Balis atau bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan sebutan Hantu Iblis, ialah suatu roh penggoda, penjerumus atau penghasut terhadap seseorang untuk berbuat jahat.

Roh ini juga dikenal dengan ulahnya yang terkadang menghasut atau bahkan menjeremuskan seseorang yang sedang berada di dalam keadaan sangat marah/emosi berat, untuk melakukan tindakan-tindakan di luar kebiasaannya atau kendalinya.

Hal-hal di luar kendali yang dapat diarahkan oleh roh jahat ini biasanya mulai dari tindakkan jahat ringan seperti memukul, hingga tindakan jahat yang berat seperti membunuh orang, serta tindakan-tindakan anarkis lainnya.

Menurut para tokoh adat, untuk menentukan jenis atau bentuk rupa balis ini sangat sulit dan bahkan tidak ada yang pernah mengetahui seperti apa rupa atau wajahnya. Hal ini karena ia hanya bisa ketahui ketika ia merasuki seseorang saja, ataupun dari hasil tindakan abnormal yang dilakukan.

Dalam beberapa kasus/kejadian, seseorang yang berada dalam keadaan ini biasanya dapat melakukan tindakan-tindakan anarkis seolah-olah dengan sadar dan tanpa ragu ataupun tanpa takut untuk memukul seseorang atau bahkan membunuh orang yang dianggapnya menyakiti hatinya.

Namun setelah selesai melakukan tindakan tersebut, seseorang yang tadinya seoalah jago atau beringas, kemudian kembali seperti semula. Dan bahkan ada yang menjadi takut (hingga menggigil ketakutan apabila telah membunuh orang) atau trauma atas apa yang telah ia lakukan.

Menurut para orang tua, terdapat beberapa kejadian, di mana seseorang yang berada dalam keadaan terpengaruh roh jahat ini ada yang dapat dicegah atau dihentikan baik oleh orang lain (di luar dirinya) maupun oleh dirinya sendiri. Jika dihentikan oleh orang lain, hal ini membutuhkan banyak tenaga.

Namun demikian, jika hal ini bisa dihentikan sendiri olehnya, maka tentu saja dorongan tersebut berasal dari hati nuraninya yang baik. Sebab, menurut para orang tua, orang yang mampu melawan dorongan atau hasutan dari roh jahat/Amot Balis ini adalah mereka yang mempunyai hati yang baik, dan tidak mudah terpengaruh oleh hasutan orang lain, apalagi suara hati (bisikan) yang jahat.

Sumber Wawancara

  1. Julius Kompen, tokoh adat, Orang Tua (ayah) penulis.
  2. Royot, dkk, tokoh adat Desa Malo Jelayan

Sumber Dokumentasi

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fcitizen6%2Fread%2F2366737%2

***

Bionarasi

Dominikus Irpan, dilahirkan di Jelayan, Desa Malo Jelayan, 23 Januari 1998. Saat ini sedang menempuh Pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Jawa Timur, sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat Keilahian. Bercita-cita menjadi seorang pemerhati budaya Dayak.

About Admin

Check Also

Lemang Bambu ala Perantau Dayak di Ibu Kota

| Penulis: Lisa Mardani Kesibukan para pekerja maupun seniman tidak akan pernah berhenti. Apalagi bagi …

5 comments

  1. Mantap Frater…pemerhati budaya yang menjembatani budaya itu sendiri dgn kehidupan iman kristiani sehingga keduanya tetap diterima dlm budaya dan gereja katolik.

  2. Mantap Fr 🙏. Lanjutkan 💪🇮🇩

  3. Kajian yang bagus untuk menambah literatur studi budaya Dayak, khususnya Dayak Bakati’.
    Semangat terus untuk berkarya, Bro.

    Salam Literasi ✍️

  4. Terimakasih kepada penulis telah berbagi pengetahuan dan menambah literasi tentang mitologi Dayak

  5. Selamat berkarya. Falsafah Dayak sangat banyak yang dapat dikaji. Terimakasih dedikasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.