Home / Sastra / Monolog Sang Pecandu Bulan dan purnama

Monolog Sang Pecandu Bulan dan purnama

| Penulis: Oktafianus Candra

Selama ini kita mungkin sudah saling mengenal sehingga salahku dan salahmu itu sudah mulai terlupakan, ketika kita berpijak dimana saat itu waktu sudah pergi dan melupakan sama seperti setiap rating kering yang terbakar habis menyisakan abu begitu juga di dalam setiap keadaan selalu tersisa goresan kenangan dan cerita atas apa yang sudah berlalu.

Aku seorang manusia yang sedang bergulat menghadapi masa krisis seperempat kehidupan mungkin tidak semua manusia mengalami hal yang sama dalam setiap detik kejadian namun seperti yang sudah diberitahukan oleh setiap insan yang sudah berlalu semua akan menghadapi masa itu.

Jauh memang harapan ini pergi tapi kita sebagai manusia pasti tahu kepergian selalu menyisakan goresan dan guratan dalam kehidupan. Melangkah kebelakang memang bukan suatu yang pasti seperti yang diharapkan namun jangan lupa dalam setiap perjalanan ada celah yang dapat digunakan untuk duduk istirahat sebentar sebelum berangkat untuk mencapai suatu tujuan.

Baca juga: Perjumpaan Dalam Kenangan

Untuk Aku dan manusia-manusia yang mulai berusaha melupakan angan ingat masih jauh perjalanan mungkin setiap dari kita sempat buta dan butuh dibutakan sebelum semua sinar terang dari hati dan isi kepala ini kembali menyala untuk mencari garis-garis peta buta tanpa arah dalam pikiran pendek kata semua dalam keadaan kusut sama sekali berbeda dengan apa yang kita ingin dalam angan kita. Hampir habis Aku dalam sepersekian bulan ini didera dan dihajar cambuk-cambuk kehidupan yang memberi sinar gelap mencapai tujuan.

Hei ayo sadar kau pecandu bulan dan purnama sedangkan dia pencinta Bintang yang bertaburan. Keadaan apa yang membuat raga tak sadar mereka memang sama dalam hal hiasan malam namun tidak selalu bersama seperti yang diketahui manusia tidak semua malam berbintang selalu ditemani oleh Bulan terkadang Bulan bersembunyi dalam kegelapan dinginnya malam sedangkan Bintang dia terkadang terlalu asyik bercumbu dengan keadaan mungkin ini salah satu sebab kenapa bulan selalu bersifat dingin dalam bertindak dan terkadang menarik diri dalam kehidupan sudah mungkin itu salah satu penyebab terciptanya kehidupan.

Sebagai salah satu pemuda pemberani yang bangun pagi langsung menantang Matahari Aku bertanya kehidupan apakah selalu harus hidup tapi mengapa ada yang hidup tetapi dimatikan oleh keadaan. Angan dan ingin itu hidup tapi butuh adalah kehidupan.

***

Bionarasi

Oktafianus Candra dilahirkan di Kemangai pada 18 April 1998. Berasal dari suku Dayak Uud Danum, Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Menyukai sastra. Sedang menempuh studi di Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Jawa Timur.

About Admin

Check Also

Kacamata

| Penulis: Hery Susanto Ada sebuah kisah kuno di negeri China diceritakan ada seorang murid …

Leave a Reply

Your email address will not be published.