Home / Pojok Renungan / Panci Teflon

Panci Teflon

| Penulis: Hery Susanto

Ibu-ibu yang suka memasak tentu kenal dengan panci teflon yang sangat praktis dan bersih. Panci istimewa yang dapat digunakan untuk memasak segala sesuatu tanpa melekat.

Minyak yang minim untuk menggoreng telur masih dapat memberikan hasil masakan yang enak dan higienis. Hal ini menunjukkan betapa indahnya hidup ini jika setiap orang mampu menjadi berguna bagi orang lain tanpa harus ada hal yang melekat kepada diri kita atau bergantung pada kita.

Kebahagiaan sejati ditemukan justru pada saat kita dapat menjadi berarti bagi orang lain sekalipun kita merelakan apa yang kita punya tidak lagi menjadi milik kita.

Secara umum, manusia di dunia ini selalu mencari kebahagiaan yang sebenarnya sepanjang masa.

Manusia ingin hidup merdeka dalam arti tidak tertekan oleh sesuatu yang seringkali mereka sendiri tidak paham mengapa hidup selalu ada tekanan yang membebaninya.

Menurut sejarah Alkitab pada jaman Perjanjian Lama, orang-orang yang belum mengenal TUHAN, terus mencari hal-hal yang dapat membebaskan mereka dari sesuatu yang menghambat kebahagiaan mereka.

Bangsa Israel ditindas dalam perbudakan selama ratusan tahun sehingga generasi Israel yang ada pada masa itu menjadi generasi yang berpikir bahwa mereka terlahir sebagai budak. Sehingga tidak ada option lain untuk berpikir bahwa mereka adalah umat pilihan TUHAN yang akan mengalami banyak keajaiban di dalam hidup mereka.

Mereka tidak berpikir sebagai orang merdeka, karena jelas bagi mereka itu tidak mungkin. Sekali budak, akan selamanya budak.

Namun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mendambakan seorang pembebas yang dapat melepaskan mereka dari penderitaan dan masuk dalam kelegaan atau kebahagiaan.

Tetapi ketika mereka lepas dari Mesir, mereka sebenarnya sudah merdeka, tetapi pikiran mereka tetap sebagai budak sehingga merasa bahwa perjalanan mereka di padang gurun merupakan siksaan yang semakin membuat mereka tidak bahagia.

Mereka melihat perbudakan di Mesir sebagai sesuatu yang masih lebih baik jika dibandingkan dengan derita lapar dan haus di tengah padang gurun. Bukankah ini hal yang ironis bahwa bangsa Israel tidak pernah bisa bahagia karena mereka selalu melihat ke belakang dan merasa bahwa masa lalu lebih baik daripada masa sekarang. Mereka lupa bahwa TUHAN telah menyediakan masa depan yang sangat jauh lebih baik bagi mereka.

Sebagai contoh lain adalah lahirnya Sidharta Gautama yang tadinya seorang anak raja yang mengamati bahwa di dalam dunia ini manusia tidak dapat lepas dari penderitaan, menjadi tua, sakit, dan akhirnya mati. Akhirnya Sidharta pergi dari istana dan menjadi pertapa agar mendapat jawaban tentang kelepasan dari derita.

Singkat cerita, Sidarta menemukan bahwa akar dari penderitaan adalah kemelekatan. Semakin melekat kepada semua yang kita miliki, semakin erat dan sulit bagi kita untuk dapat lepas dari penderitaan.

Yesus juga mengajarkan kepada murid-murid-Nya tentang melepaskan diri dari ikatan kemelekatan duniawi. “demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Luk. 14:33).

Apa istimewanya menjadi murid Yesus? Yesus adalah sentral atau sumber dari kebahagiaan itu karena Dialah jalan, kebenaran, dan hidup (Yoh. 14:6). Barangsiapa percaya kepada-Nya akan beroleh kehidupan kekal.

Kesadaran apa yang timbul dari kemelekatan ini? Saya menjadi tersadar bahwa sesungguhnya segala yang kita ‘miliki’ bukanlah milik kita. Kita hanya sebagai pengelola dan bukan pemilik yang sesungguhnya.

Karena bukan saya yang memiliki, maka saya harus bertanggung jawab kepada Si pemilik untuk menjaga dan merawat apa yang dipercayakan-Nya kepada kita. Hal ini menjadikan beban saya terasa ringan. Ada kemerdekaan di dalam hati saya.

Tadinya saya berpikir semua adalah milik saya; istri saya, anak saya, rumah saya, karir saya, pelayanan saya, dan lain sebagainya. Itu menjadikan beban berat yang saya pikul kemana-mana dalam pikiran saya. Seperti siput yang tidak pernah meninggalkan rumahnya dari punggungnya.

Sekarang kemerdekaan itu muncul, bahwa sekalipun saya memiliki tapi tidak harus melekat kepada kepemilikan itu.

Panci teflon yang baik adalah panci yang bisa mewadahi segala sesuatu namun tidak melekati segala sesuatu. Kita diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang merdeka di dalam TUHAN, tanpa melekat pada dunia yang diciptakan-Nya.

***

Sumber gambar: https://www.dapurnesia.com/

***

Bionarasi

Dr. Hery Susanto, M.Th. dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah pada 21 Januari 1973.

Dosen di STT JKI. Aktif menulis dan berkiprah di bidang teologi dan filsafat.

About Admin

Check Also

Refleksi Teologis Terhadap Balis

| Penulis: Dominikus Irpan Dalam kisah Yesus yang mengusir roh jahat dari seseorang di Gerasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published.