Home / Budaya / Lemang Bambu ala Perantau Dayak di Ibu Kota

Lemang Bambu ala Perantau Dayak di Ibu Kota

| Penulis: Lisa Mardani

Kesibukan para pekerja maupun seniman tidak akan pernah berhenti. Apalagi bagi mereka yang tinggal di ibu kota. Penuh dengan kesibukan dan aktivitas yang tinggi. Meski demikian, tubuh dan jiwa harus dihindari dari kepenatan dan kejenuhan. Sehingga perlu istirahat dan pemulihan.

Penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang sangat penting.  Oleh karena itu, pada saat hari libur atau akhir pekan, tidak ada salahnya kita memanjakan diri. Rileks bersama keluarga dan para sahabat.

Pada akhir pekan awal bulan September kemarin, saya berkunjung ke sebuah Kedai Kopi YIAB Jakarta. Sebab di kedai tersebut menyediakan menu khas Kalimantan. Meski kedai tersebut sudah sering saya kunjungi, namun kali ini suasananya berbeda. Menu-menu yang disajikan juga istimewa. Apa sebabnya?

Sebab makanan yang dihidangkan dimasak langsung oleh para seniman Dayak yang ada di Jakarta. Jika biasanya para seniman tampil di panggung dengan berbagai aksesoris dan dandanannya. Kali ini mereka sibuk memasak menu khas Dayak Kalimantan.

Suku Dayak yang di tanah rantau, punya cara tersendiri saat akhir pekan. Khususnya yang ada di wilayah Jakarta, Bogor, dan Tangerang (Jabodetabek). Salah satunya, kami memasak makanan tradisional dan kuliner khas Kalimantan. Lemang bambu khas suku Dayak Kanayatn.

Lemang merupakan makanan tradisional khas Kalimantan. Sangat diminati dan dinikmati oleh masyarakat. Khususnya suku Dayak Kalimantan Barat. Jika dilihat sekilas, hampir mirip dengan lontong. Namun, soal rasa, aroma, dan cara memasaknya berbeda. Di setiap daerah Kalimantan, lemang bambu memiliki sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya huas pulut, poe, salut, empiga solok, dan lain-lain.

Cara memasak dan bumbu yang digunakan juga berbeda-beda. Ada yang memasaknya dengan cara di panggang, ada pula yang meletakan langsung di atas bara api. Ada yang memasaknya campur air santan kelapa, bawang, dan gula. Ada pula yang memasaknya campur daging dan kelapa parut. Bahkan ada pula yang memasaknya tanpa campuran apapun. Jadi, di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing.

Di suku Dayak Kalimantan, lemang biasanya disajikan pada saat pesta adat atau ritual adat. Misalnya syukuran panen padi. Pada saat pernikahan adat, hajatan, balian, dan saat membuka lahan.

Bahan dan proses memasak lemang bambu, khas Dayak Kanayatn

Bahan yang digunakan adalah beras ketan putih/pulut, bambu, santan kelapa, daun pisang, garam, bawang putih, dan daun pandan.

Beras ketan dicuci bersih, lalu direndam dengan air bersih sekitar 5 jam. Tujuan agar lemangnya terasa lebih empuk.

Selanjutnya menyiapkan bambu dan bumbu. Bambu yang telah dibersihkan akan dilapisi dengan daun pisang yang masih muda dan lentur. Caranya, daun pisang dipotong sesuai ukuran panjang dan lebarnya ruas bambu. Kemudian daun pisang digulung dan dimasukan ke dalam bambu.

Beras ketan/pulut yang telah direndam ditiriskan, lalu dimasukan ke dalam bambu. Sedangkan bumbunya menggunakan bawang putih yang diulek halus dengan garam. Jangan lupa tambahkan beberapa helai daun pandan. Sebagai penambah rasa dan aroma yang menggugah selera.

Daun pandan biasanya diblender sampai halus. Bisa juga dengan cara ditumbuk atau diulek. Bawang putih dan daun pandan yang telah dihaluskan, dicampurkan ke dalam air santan kelapa. Tambahkan garam dan diaduk sampai semua bahan tercampur.

Proses Memasak Lemang Bambu

Bambu yang telah diisi dengan beras ketan di letakkan dekat api. Jarak bambu dengan api sekitar 30 cm. Kedua sisi bambunya diberi penyangga besi atau kayu. Pada saat mulai memanggang, tuangkan air santan ke dalam bambu dengan perlahan. Kemudian ujung bambu ditutup dengan parutan kelapa. Pada saat proses memanggang, suhu apinya harus tetap dikontrol. Apinya tidak boleh terlalu kecil ataupun terlalu besar. Agar lemangnya tidak mentah ataupun gosong.

Sekitar 3 jam kemudian, bambu terlihat kering dan layu. Itu pertanda bahwa lemang bambu telah matang dan siap untuk disajikan.

Di Jakarta, bambu muda sangat langka. Untuk mendapatkan bambu yang segar saja penuh perjuangan. Itulah sebabnya, lemang bambu merupakan makanan yang langka dan sangat istimewa. Bagi kami anak rantau yang tinggal di wilayah Jabodetabek. Orang Dayak yang di sekitar Jabodetabek.   

***

Bionarasi

Lisa Mardani, S.Pd.K., dilahirkan di Kepingoi, Kalimantan Barat pada 11 Oktober 1986. Seorang perempuan dari suku Dayak Uud Danum. Sejak tahun 2021 aktif menulis feature tentang suku Dayak Uud Danum.

About Admin

Check Also

Hukum Adat Perceraian Ala Dayak Kanayatn

| Penulis: Paran Sakiu Berumah tangga adalah keinginan semua anak manusia di bawah kolong langit …

Leave a Reply

Your email address will not be published.