Home / Didaktika / Bagaimana Saya Produktif dan Mengungguli Orang Lain?

Bagaimana Saya Produktif dan Mengungguli Orang Lain?

| Penulis: R. Masri Sareb Putra

Benjamin Franklin di depan para pebisnis muda Amerika pada 1748 memberikan petuah yang hingga hari ini melekat kuat dan seakan menjadi kenisayaaan.

Salah satu penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, Gubernur Pennsylvania ke-6, penulis, dan pelaku penerbitan ini suatu ketika memberikan petuah, “Remember that time is money!”

Ucapan Benjamin Franklin ini segera menjadi sangat terkenal, bergema ke seluruh penjuru dunia, diadopsi di mana saja sebagai kebenaran yang tidak dapat disangsikan lagi.

Ungkapan pendeknya “Time is money”, waktu adalah uang. Apa makna ungkapan ini? Apakah yang dimaksudkan bahwa segala-galanya ditakar semata hanya dengan uang?

Waktu yang Berharga untuk Sesuatu yang Mulia

Jika ditelusuri konteks dan suasana munculnya ungkapan bijak di atas, ternyata yang dimaksudkan bukanlah meletakkan uang di atas segala-galanya. Seakan-akan uang adalah tujuan dari segalanya. Khalayak yang mendengar pidato Benyamin waktu itu adalah para pebisnis muda.

Sebagaimana kita ketahui, umumnya pebisnis sangat menghargai waktu. Ketepatan dan efisiensi waktu sangat sangat diperhatikan dalam dunia usaha. Jika waktu tidak ditepati, atau terjadi keterlambatan, maka dunia bisnis akan kehilangan kepercayaan. Kehilangan kepercayaan akan menyebabkan kehilangan uang.

Di sini tepat ungkapan bahwa social trust akan mendatangkan financial trust. Bangun lebih dulu kepercayaan sosial, baru orang akan memberi apresiasi atau penghargaan berupa uang–misalnya dengan membeli atau membergunakan jasa kita.

Untuk mengilustrasikan betapa dimensi waktu sangat pokok dalam dunia bisnis, mari kita angkat soal delivery atau pengantaran pemesanan barang atau jasa. Katakanlah sebuah pabrik jamu berjanji kepada distributornya mengirimkan barang dalam tempo paling lama dua hari setelah pemesanan. Setelah ditunggu pada waktu yang dijanjikan, barang yang dijanjikan tidak kunjung tiba pengantarannya.

Baca juga: Mengelola Waktu

Akibatnya, distributor tadi kehilangan kepercayaan (trust) kepada pabrik jamu tadi. Kejadian seperti ini terulang terus-menerus, sehingga muncul image di pada distributor tadi bahwa perusahaan jamu tersebut tidak tepat waktu.

Keluhan dan kesan negatif ini, kemudian menyebar luas ke distributor lain dan ke masyarakat. Pada akhirnya, distributor tadi beralih ke merek lain yang sejenis yang jauh lebih tepat dari sisi waktu pengiriman. Akibatnya, perusahaan jamu tadi kehilangan distributor, sekaligus kehilangan omset. Dalam kasus ini, tepat sekali ungkapan di atas bahwa waktu adalah uang. Tidak menepati waktu, uang melayang. Sebaliknya, menepati waktu, uang akan datang.

Akan tetapi, sebenarnya bukan hanya uang akan datung manakala seseorang atau institusi menepati waktu. Mengisi waktu dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya juga akan mendatangkan uang. Orang yang membiarkan waktu berlalu, tidak akan mendapatkan apa-apa.

Sebaliknya, orang yang menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, akan memetik uang (manfaat) daripadanya.

Sehubungan dengan itu, Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh (2009) menyebutkan adanya tiga tipe manusia.

Tipe pertama, orang yang tidur (tidak berbuat apa pun) sementara waktu berjalan terus. Orang ini disebutnya berada pada garis nol. Ke garis negatif juga tidak, sementara ke garis positif juga bukan. Orang tipe pertama ini do nothing, namun tidak merusak.

Tipe kedua, orang yang melakukan sesuatu (hal yang negatif). Yang bersangkutan memang aktif, namun apa yang dilakukannya negatif dan menghancurkan orang lain. Peradaban umat manusia diporakporandakan, martabat direndahkan, dan kemaslahatan umat manusia dinafikan. Ia berada pada garis negatif. Orang ini melakukan sesuatu, namun merusak.

Tipe ketiga, orang yang melakukan sesuatu yang positif. Orang ini melakukan sesuatu demi kemasalahan umat manusia. Ia berada dalam garis positif. Apa yang dilakukannya mulia. Karena itu, ia sendiri orang yang mulia. Orang seperti ini sudah “selesai” dengan masalah egonya sendiri. Ia cenderung memikirkan orang lain melebihi dirinya sendiri.

Kembali ke petuah Franklin, sebenarnya yang diinginkan ialah agar setiap orang menggunakan waktu secara sangkil dan mangkus untuk mencapai sesuatu yang mulia. Jadi, “uang” hanyalah symbol untuk sesuatu yang berharga dan mulia. Andaikan Franklin berbicara di kalangan medis, maka ia akan berkata,“Waktu adalah kesehatan” karena kesehatan adalah sesuatu yang sangat vital dalam hidup, bahkan boleh dibilang syarat mutlak.

Manakala hari ini Franklin bicara di depan para pebisnis, petuah apa kira-kira yang akan disampaikannya? Masih samakah dengan nasihat yang diucapkan pada 1748, ataukah sudah berubah?

Saya yakin. Bahwa nasihat yang disampaikan masih tetap sama: “Remember that time is money!”

***

Sumber gambar: Benjamin Franklin: time is money! sumber foto: wikipedia

Bionarasi

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Insentif PPh Final UMKM DTP Terus Diperpanjang Sampai Desember 2021, UMKM Harus Apa?

| Penulis: Balqis Yessa Nurlanda Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau yang biasa disebut dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.