Home / Features / Liang Basau, Wisata Alam di Desa Mensuang, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang

Liang Basau, Wisata Alam di Desa Mensuang, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang

| Penulis: Jonison

Hari itu tepatnya hari Selasa tanggal 17 Agustus 2021, Pemerintah Desa Mensuang bersama warga desa melaksanakan upacara bendera memperingati HUT RI ke-76 di lapangan SDN 8 Mensuang.

Usai upacara bendera, kami melaksanakan beberapa permainan rakyat seperti lomba lari karung dan lomba makan kerupuk dengan sangat sederhana.

Tepat pukul 12.00 WIB, kami bersama beberapa tokoh masyarakat dan kaum muda berkunjung ke Liang Basau.

Liang Basau terletak di Desa Mensuang, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Propinsi Kalbar. Akses dari pusat desa menuju ke lokasi ada dua alternatif.

Pertama, dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak. Rute perjalanan naik turun perbukitan melewati perkebunan karet dan ladang masyarakat. Biasanya, warga desa berjalan kaki sekitar 40 menit untuk mencapai tempat lokasi.

Kedua, jika Sungai Ambalau sedang pasang (banjir), jarak tempuh bisa lebih singkat. Perjalanan dapat dilalui menggunakan sampan kayu. Melewati Sungai Mokile yang sedang ‘holong’, sampai ke dekat lokasi. Holong adalah air sungai yang pasang dan arusnya sangat tenang karena terimbas oleh Sungai di Muaranya terlebih dahulu banjir/pasang.

Dalam bahasa Dayak Uud Danum, “Liang Basau” berasal dari kata Liang dan Basau. “Liang” artinya hamparan batu ampar, sedangkan “Basau” berasal dari nama seorang anak yang hilang di daerah tersebut. Konon anak itu hilang karena di makan harimau di dalam liang.

Peristiwa itu terjadi ketika keramaian acara dalok yang digelar tak jauh dari Liang Basau. Pada saat itu anak-anak sedang mandi di batu ampar sekitar Liang Basau sambil bersenda gurau. Di tengah keasyikan mereka mandi sambil berkejar-kejaran tiba-tiba di luar dugaan terjadi musibah.

Ada yang datang melapor kepada tetua kampung bahwa ada salah seorang dari anak-anak tersebut diterkam oleh harimau. Anak tersebut bernama Basau. Basau dibawa oleh harimau ke sebuah lubang batu di dalam air di “lavang” agak ke hilir sungai.

Tetua yang mendapat laporan segera bertindak. Mereka mengejar ke mana arah harimau membawa Basau. Basau dibawa oleh harimau ke dasar sungai.

Di dasar sungai didapati lobang kecil. Karena lobang yang terlalu kecil maka orang-orang tidak bisa masuk. Berbagai upaya dilakukan agar harimau mau keluar tetapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya mereka menutupi lubang tersebut dengan menggunakan “jelapong uvung” dengan harapan harimau tidak bisa keluar dan akan mati.

Jelapong uvung adalah batang kayu yang dibuat berbentuk roda yang dipasang di setiap tiang lumbung padi dengan tujuan agar tikus tidak bisa melewatinya. Mayat Basau tidak dapat ditemukan, kuat dugaan Basau sudah dimakan oleh harimau. Seperti dikisahkan oleh Apolonius Sungkala, Sekdes Mensuang.

“Di pinggiran Liang Basau kami tanam beberapa tumbuhan hutan, seperti “nangok” (sejenis umbut yang hanya tumbuh di hutan lebat) dan beringin serta rotan marou supaya keaslian hutan Liang Basau tetap terjaga,” tambah Lusianus Juan Ketua BPD desa Mensuang sambil menunjuk beberapa pohon.

Tepat pukul 12.40 WIB kami sampai di lokasi. Pada hari kami berkunjung, kebetulan sudah masuk musim kemarau, jadi yang nampak hanya hamparan batu yang di titik tertentu saja yang dialiri air.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun berbagi tugas. Beberapa remaja dan ibu-ibu yang sudah biasa ke sana mendapat tugas untuk mengatur konsumsi ringan yang sudah disiapkan dari rumah.

Sebagian remaja putri sudah keasyikan cekrek sana cekrek sini berselfie ria dengan berbagai gaya yang dilatari riak air disela-sela bebatuan.

Tak ketinggalan kami mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama. Usai foto bersama kami berkumpul kembali di “Liang Basau” sambil bercerita diselingi senda gurau.

Sambil menikmati indahnya pemandangan alam berupa pepohonan hutan alami serta riak kecil air yg mengalir di sela-sela bebatuan dan ditingkahi alunan suara Amry Palu dari musik box yang sengaja kami bawa.

Ada yang mandi, berenang-renang dan ada yang menyalakan api unggun untuk menyeduh kopi serta untuk memanggang daging ayam.

 Setelah puas menikmati keindahan suasana Liang Basau kami pun pulang dengan penuh rasa gembira. Walau dalam hati masih ingin berlama-lama seakan tak ingin segera kembali.

Di tengah perjalanan pulang tak henti-hentinya kami berkelakar, bercanda ria. Suasana kekeluargaan terasa begitu erat.

Sesampai di perkampungan kami berpisah menuju rumah masing-masing. Saya pun mesti berkemas-kemas segera kembali ke kota kecamatan yang jaraknya sekitar 2 jam sampai 2 jam 30 menit dari Desa Mensuang menggunakan sampan kayu bermesin speed 15 pk.

Rekreasi ke Liang Basau adalah pilihan yang sangat tepat. Karena kisah Liang Basau mengandung nilai sejarah dan dapat menjadi salah satu alternatif tempat rekreasi bagi warga desa Mensuang.

***

About Admin

Check Also

Hutan Kalimantan dan Kenangan Terindahnya

| Penulis: Deodatus Kolek Suatu sore saya bercerita dengan beberapa bapak di teras pastoran Paroki …