Home / Berita / Beragam Ungkapan Atas Perayaan HUT Ke 660 Kota Sintang

Beragam Ungkapan Atas Perayaan HUT Ke 660 Kota Sintang

Sintang, Detikborneo.com – Beragam ungkapan atas perayaan HUT ke 660 kota Sintang tahun 2022 ini, maraknya pemasangan twibbonize HUT ke 660 kota Sintang oleh para netizen dari berbagai elemen masyarakat Sintang di media social (group WhatsApp, IG, Facebook).

Ada juga pantun spontan muncul dari bapak Oktavianus Kabid di Badan Pengelola perbatasan Kab. Sintang yang berbunyi “Pagi hari Membeli Kentang, Membeli Kentang di Pasar Raja, Dirgahayu Kota Sintang, Semoga Aman, Sehat Sentosa.”

Menurut mantan Sekretaris Kecamatan Ketungau Hulu ini, dengan HUT kota Sintang, harus kita sadari bahwa Sintang rumah bersama, maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu menata dan menjadi agen penggerak perubahan sosial di segala bidang.

“Dengan harapan Sintang bisa bertumbuh berkembang dari desa menuju kota, dan salah satunya adalah dengan cara menunjuk dan memfungsikan putra daerah setempat yang memenuhi syarat untuk menjadi agen perubahan sosial,” tambah Oktavianus yang sudah 32 tahun bertugas di kecamatan Ketungau Hulu ini.

Menurut Anggota DPR RI, dari Fraksi Partai Golkar, Dapil 2 Kalbar, Dr. Drs. Adrianus Asi Sidot, M.Si., mengatakan bahwa kota Sintang harus menjadi pusat perkembangan bagi wilayah timur Kalbar, kemajuan di kota Sintang menurut Adrianus akan memberikan dampak ganda bagi pembangunan di wilayah timur provinsi Kalimantan barat. Dijelaskannya kota Sintang harus mampu mengoptimalkan peluang dan potensi yang dimilikinya baik dari potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam, bravo dan dirgahayu ke 660, ungkap bupati landak periode 2003-2008 & 2011-2016 ini.

Bupati Sintang periode 2000-2005, Drs. Elyakim Simon Djalil, M.M., mengungkapkan, Sintang adalah kota yang memiliki posisi strategis di sektor Timur provinsi Kalbar, posisi ini merupakan pusat pengembangan pembangunan, pusat distribusi dan pusat pelayanan bagi hinterlandnya. Karena itulah pada masa kepemimpinan dulu pernah disusun suatu konsep yang disebut “SINTANG RAYA”, karena posisi strategisnya.

Maka menurut mantan dosen APDN Pontianak ini, penting bagi seluruh masyarakat Sintang untuk bersama-sama, bahu-membahu membangun Sintang ke depan. Sintang dengan beraneka keberagamannya, patut kita jaga persatuan dan kesatuan seluruh anak bangsa, demi terciptanya Sintang yang aman, damai, tertib, makmur, ramah dan tenteram “DIRGAHAYU SINTANG”.

Budi Tariu tokoh pemuda asal kecamatan Sepauk mengucapkan selamat hari jadi ke 660 semoga hari jadi kota Sintang yang kita cintai ini bias sebagai momentum simbol persatuan persaudaraan kita semua suku ras dan agama yang ada di Sintang, sehingga kota Sintang yang sejahtera aman dan tenteram dapat tercapainya sebagai kekuatan dalam membangun kabupaten Sintang secara adil dan merata sehingga menjadi kabupaten yang bisa kita banggakan.

“Wajah kebersihan kota Sintang harus diwujudkan yang mencerminkan aura positif dan penuh energik, dan harapannya agar para pemimpin di Kabupaten Sintang bisa menjadi contoh yang dapat menjadi teladan masyarakat. Majulah kotaku dan terwujudlah sebuah cita-cita, mulia agar kota Sintang kelak berubah menjadi ibukota provinsi KAPUAS RAYA yang kita nantikan? Dirgahayu – Gayu Nyiru- Kotaku SINTANG,” ungkap Budi tariu.

Ketua forum Ketemenggungan Adat Dayak Kabupaten Sintang, Drs. Andreas Calon, mengutarakan, jika mengikuti sejarah berdiri kota Sintang penuh dinamika dan melibatkan seluruh etnis, suku dan agama yang hidup di Sintang masa itu. Harapan ke depan perlu dilibatkan semua etnis, suku dan agama saat mempersiapkan perayaan hari jadi kota Sintang ini, dan masalah ini sudah kami sampaikan saat rapat di ruang rapat Sekda Sintang, ada kurang lebih 16 suku di kabupaten Sintang ini perlu dilibatkan secara aktif.

Andreas, S.Th., mengatakan bahwa hari jadi kota Sintang adalah milik kita semua yang ada di kota Sintang in, maka sepantasnya lah semua suku dilibatkan langsung untuk memeriahkan HUT kota Sintang ini.

“Hari jadi kota Sintang terkesan hanya di dominasi kaum yang tua, tanpa melibatkan kaum muda. Saya juga sudah pelajari kalau kedatangan JUBAIR di kota Sintang itu sebenarnya bukan 660 tahun yang lalu tapi lebih tua satu abad, yakni 760, dan perayaan hari jadi kota Sintang masih terkesan belum melibatkan seluruh elemen masyarakat Sintang, dan ke depan hal harus menjadi evaluasi,” ungkap Ketua ASAP (Asosiasi Anak Peladang) Kabupaten Sintang itu.

Yustinus, S.Pd., M.AP., ketua ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) Kabupaten Sintang yang juga asisten 2 bidang Ekbang sekretaris daerah Kab. Sintang, mengatakan bahwa dengan perayaan hari jadi kota Sintang ke 660 ini, harus bisa menjadi sebuah momentum energik dan dinamis yang semakin membawa masyarakat Sintang untuk semakin bersemangat dalam membangun Keberagaman dan kebersamaan di segala bidang.

Ketua Ikatan Cendiakiawan Dayak Nasional (ICDN) Kabupaten Sintang, Sopian, S.Sos., M.Si., mengapresiasi perayaan Hut kota Sintang ke 660 ini, karena ini bisa dijadikan moment untuk merekatkan persatuan dan kesatuan semua unsur yang ada di kabupaten Sintang. Dengan Hut kota Sintang, kita angkat kembali budaya kehidupan sosial yang pernah diwariskan para leluhur sehingga nilai-nilai kerukunan dan kedamaian dijadikan tempat yang indah bagi anak cucuk kita.

“Kita harus menjaga daerah Sintang ini, kita harus tolak budaya-budaya luar yang bertentangan dengan budaya leluhur kita, seperti paham-paham radikalisme, paham intoleransi dan lainnya, dan menurut tokoh muda Dayak Uud Danum Ini, kita semua elemen Sintang harus bersatu padu baik penduduk lokal maupun pendatang, dan harus diingat bahwa ada pepatah mengatakan “Dimana Tanah di Pijak di Situ Langit di Junjung” harus nyata,” tambah dosen Fisip Unka Sintang ini.  

Drs. A. Tilla, M.Si., mengatakan, hari jadi kota Sintang tidak cukup hanya diisi dengan bentuk perayaan seremonial saja. Menurut Dewan Pakar Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Kab. Sintang ini. ke depan perlu diprogramkan semacam sejenis kajian sejarah yang melibatkan semua unsur, datangkan ahli sejarah, saksi-saksi sejarah yang memiliki data dan fakta tentang berdirinya kota Sintang.

Menurut A. Tilla, kita masih harus mereview ulang sejarah Sintang, supaya kita tidak membuat cerita sejarah yang terkesan putus-putus, dan atau adanya perilaku narasi yang menghilang fakta sejarah. Melanjutkan keterangannya, mantan kepala dinas pariwisata kabupaten Sintang, menjelaskan kita perlu secara bersama atas dasar objektivitas dan kekeluargaan untuk melakukan pelurusan sejarah, seperti yang dapat kita peroleh dari penutur orang-orang tua kita, bahwa di dalam museum Dara Juanti itu (sekarang Istana Alukaromah) pernah disimpan peninggalan sejarah berupa: 1). Tempayan lemak babi; 2). Meriam Mangku Malik; 3). Sirat Mangku Malik (dan informasi yang kami peroleh bukan sirat mangku Malik,tetapi milik Jubair), namun peninggalan itu tidak terlihat lagi.

Menurutnya hal-hal seperti ini perlu kita cermati dan sikapi secara arif dan bijak tanpa bermaksud apa-apa, namun semata meluruskan sejarah supaya diketahui dan dipahami oleh generasi saat ini dan akan datang. Upaya-upaya membuat duplikasi perlu dipikirkan oleh semua stakeholder Sintang, tegasnya. Tempat pemandian Dara Juanti dan makam Jubair yang terkesan kurang terurus perlu ada kebijakan renovasi. Meriam Mangku Malik sebagai emas kawin seorang tokoh asal Embaloh Kapuas hulu dengan keponakan Dara Juanti perlu dijajaki rimbanya. Termasuk lokasi patung Putung Kempat (Putung Kempat adalah leluhur pendiri kota Sintang), Sumur garam di Dusun Suak Desa Manis Raya Kec. Sepauk, Situs Pangeran Muda anak Pangeran Kuning, Sirus Perang Pandung atau Perang Mensiku, Situs Perang Raden Paku, situs Perang Panggi Rugguk dan Rangas (dari Batang Tuk Sungai Jungkit, yang bermuara ke sungai Belitang melewati desa Ensabang, Kec. Sepauk, Desa Ratu Damai-Ampuk, Desa Sejirak, Desa Baung Sengatap, Kec. Ketungau Hilir), termasuk situs Bukit Kujau yang memilik garis sejarah dan cerita terhadap adanya kota Sintang perlu diperhatikan sarana dan prasarana, dalam kacamata pariwisata.

Menurut cerita Bukit Kujau yang ada di Kecamatan Sepauk dan Kec. Tempunak, merupakan situs pra sejarah asal mula pendudukan daerah Sintang di mana hidup dan berdiam sepasang suami yang bernama SABUNG (EMBUN) MANGULUR dan istrinya PUKAT MENGAWAN yang memiliki 7 orang anak, yakni;

  1. Puyang Gana (meninggal sebelum lahir),
  2. Belang Pinggang;
  3. Terentang Temanai;
  4. Suluh Duik;
  5. Buku Labuk;
  6. Putung Kempat;
  7. Buih Nasi.

Dari berbagai sumber dan cerita rakyat (folklore) diperoleh informasi bahwa PUTUNG KEMPAT adalah seorang Dayak yang menikah dengan Aji Melayu (saat ini makam Aji Melayu ada Sepauk). Pernikahan Putung Kempat dengan Aji Melayu menurunkan Dayang Lengkong nikah dengan Patuh Selatung yang menurunkan putri bernama Dayang Randung, yang nikah dengan Adipati Selatung menurunkan Abang Panjang yang menurunkan Demong Karang, Demong Karang menurunkan Demong Kara (raja ke-6 kerajaan Sepauk) kemudian menurunkan Demong Irawan yang menurunkan Dara Juanti. Dara Juanti memiliki saudara laki-laki yang bernama Demong Nutup (Jubair 2), yang merantau ke jawa dalam wilayah kerajaan Majapahit, dan kepergian nya ini membuat Dara Juanti pernah mengganti kedudukannya sebagai petinggi kerajaan Sintang masa itu, kemudian Dara Juanti menyusul kepergian saudaranya tersebut  ke jawa, yang pada akhir  atas peristiwa inilah Dara Juanti bisa bertemu dan akhirnya nikah dengan Patih Logender (Jawa) dari kerabat Kerajaan Majapahit. 

Rektor Universitas Kapuas Sintang, Dr. Antonius, S.Hut., MP., mengomentari bahwa perayaan Hut ini harus bisa membuat Sintang sebagai kota yang mampu mencatat peristiwa-peristiwa di setiap waktu, yang dapat menjadi petunjuk perubahan peradaban bagi setiap generasi, ungkapnya. Bahkan hingga kapanpun sepatut dan selayaknya setiap peristiwa sejarah terdokumen dengan baik dan valid, ungkapnya.

Menurut Doktor lingkungan alumni Brawijaya Malang ini, Sejarah yang baik dan benar tentu akan menjadi penyemangat kita untuk terus berkarya di Bumi Senentang ini. Selain itu, yang terpenting makna perayaan HUT Kota Sintang tahun 2022 ini harus menjadi perekat keberagaman elemen masyarakat Sintang tanpa terkecuali, Keberagaman adalah suatu keniscayaan tegas Putera Dayak Sintang ini.

F.X. Murniyanto, S.Sos., M.Si., salah seorang tokoh adat Dayak Uud Danum Sintang, mengungkapkan bahwa dengan perayaan hari jadi kota Sintang, kita harus terus mawas diri di semua level baik, warga masyarakat, pejabat pemerintah termasuk TNI dan POLRI. Galang dan perkuat terus persatuan dan kesatuan kita orang Sintang dalam keberagaman, jangan mudah terpengaruh oleh pengaruh pihak luar Sintang, yang cenderung ingin membuat kegaduhan.

“Sintang welcome untuk kemajuan dan perubahan, tapi bukan meniadakan tradisi-tradisi masyarakat Sintang yang sudah membumi selamanya ini, penyelenggara dan pejabat buat kebijakan yang populis untuk warga Sintang,” tegas mantan camat Ambalau ini. (laporan Victor Emanuel, Tembawai Kelohak Jerora 2, Sintang).

About Admin

Check Also

Dayul, Guru Perintis dari Banua Simpang

Jalan masuk menuju Kampung Gerai. Latar Belakang Gunung Beroban, Objek Wisata Air Terjun Siling | …