Home / Budaya / Sengkubak: Vetsin Alami Dayak

Sengkubak: Vetsin Alami Dayak

| Penulis: R. Masri Sareb Putra

Banyak tanaman dan buah-buahan berlabel “dayak”. Terong dayak, bawang dayak, dua di antaranya yang mashyur. Dan masyhur yang ketiga adalah vetsin alami Dayak, yakni sengkubak.

Zaman sekarang, orang sering ingin kembali kepada hal-hal yang alami. Atau back to nature. Satu di antaranya adalah bumbu alami.

Sengkubak adalah salah satu vetsin alami orang Dayak. Ia tumbuh di hutan-hutan liar di Kalimantan. Rupanya atau morfologinya mirip tumbuhan akar-akaran memanjat pohon yang lain. Habitatnya di bawah naungan pohon yang teduh.

Daunnya lonjong, mirip dengan daun kakao. Di masa lalu, dan masih dipraktikkan masa kini, tiap kali memasak masakan apa pun maka daun sengkubak ini adalah campurannya sebagai bumbu alami.  Terenak adalah daun singkong, sayur-sayur lainnya, dan juga terutama rebung. Sengkubak dapat juga menjadi bumbu dari masakan daging-daging. Daging menjadi lembut, dan aromanya sungguh-sungguh khas, tiada duanya.

Sengkubak bukan tidak mungkin suatu saat kita temukan dijual bebas di pasaran bahan olahan yang telah diracik, sedemikian rupa, menjadi bumbu yang siap digunakan. Seperti halnya vetsin atau bumbu penyedap masakan lain, Masako misalnya.

Cara menggunakan sengkubak sebagai bumbu penyedap masakan alami adalah cukup dengan menjatuhkan lembar-lembar daun itu ke dalam sayuran atau masakan yang lainnya. Kadang hanya dua helai atau tiga helai saja cukup membuat masakan jadi lebih gurih dan lezat.

Akan tetapi, tidak mudah untuk memuliabiakkan tanaman sengkubak. Ia tidak bisa ditanam dengan stek. Lagi pula tidak ada bijinya. Paling-paling satu-satunya cara adalah dengan menanam dari akarnya yang sudah tumbuh tunasnya. Tidak mudah.

Sedemikian rupa, sehingga di kampungku kecamatan Jangkang, kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat harga sengkubak per bibit dalam polybag a rp 35.000.

Bukan tidak mungkin suatu saat kita temukan dijual bebas di pasaran adalah sengkubak yang telah diracik sedemikian rupa menjadi bumbu yang siap digunakan. Seperti halnya vetsin atau bumbu penyedap masakan lain, Masako misalnya.

Orang-orang memberikan nama tanaman memanjat ini adalah vetsin Dayak. Akan tetapi, di kalangan suku-bangsa Dayak pun nama tanaman-bumbu penyedap alami ini berbagai. Misalnya:

Jangkang (Bidayuh, Mualang): engkubak

Ma’anyan: rungkai

Simpang: sengkubak

Bahau Busang (Kaltim): itun meke

Kanayatn: sansakng

Dayak Ot Danum, Kalteng/Kalbar: sokai

Dayak Kapuas/Kahayan, Kalteng: sungkai

Latin: Pycharrhena cauliflora (miers). Adalah tanaman termasuk dalam keluarga manispermaceae.

Apa pun namanya. Bumbu penyedap alami ini, hanya milik orang Dayak.

***

Bionarasi

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Legenda Bahtuk Ahik (1)

| Penulis: Jonison Bahtuk Ahik adalah sebuah batu yang sangat besar. Batu Ahik berdiri kokoh …