Home / Didaktika / Credit Union (CU) : Financial Literacy Dayak

Credit Union (CU) : Financial Literacy Dayak

| Penulis: R. Masri Sareb Putra

Baru saja saya keliling Kalimantan Barat selama 2 minggu.

Apa yang terjadi?
Perubahan. Ya, perubahan. Hal yang telah dinujumkan oleh filsuf Yunani kuno, Heraclitus  (* 535 SM di Efesus, Turki + 475 sM). Dirumuskannya secara bernas dalam kalimat: panta rhei kai ouden menei. Tidak ada yang tidak berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Sungguh berubah wajah bumi Borneo. Terutama bila dibanding 10, 20, 30, bahkan 40 tahun sebelumnya ketika saya tinggalkan.

Perubahan ke arah yang positif tentu saja. Salah satu di antaranya adalah beralihnya pusat kebudayaan, sekaligus pusat ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan dari pinggir sungai atau pesisir ke tengah-tengah hutan ketika itu yang pada saat ini dilalui oleh jalan trans Kalimantan, jalan nasional, selain jalan internasional yang langsung menghubungkan Kalbar ke negeri Sarawak, Malaysia.

Bahkan beberapa di antaranya adalah dibangunnya bandar udara. Salah satunya di Sintang. Yang letaknya antara perbatasan Sekadau dan Sintang yang diberi nama Tebelian. Yakni nama untuk kayu besi atau kayu ulin di kalangan penduduk Kalbar.

Peralihan. Sekaligus ekses, pusat kebudayaan dan pusat apa pun juga dari pesisir /pinggir sungai ke tengah-tengah hutan ini. Telah pun saya prediksi tahun-tahun sebelumnya.

Credit Union (CU) Keling Kumang motor, sekaligus penganjur gerakan ekonomi kerakyatan Kalimantan Barat. Anggotanya kini 205.000. Tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Kantor pelayanan sebanyak 70. Adapun asetnya mendekati 2 T.

Dahulu kala. Pusat kebudayaan di pinggir sungai di mana orang Dayak tidak dapat bersaing ketika itu, sehingga pada akhirnya terdesak pindah ke daratan.

Hikmahnya, tentu saja, ada. Kemudian hari, mereka mempunyai banyak lahan seluas-luasnya sejauh bisa dan mampu dibuka. Tinggal menandai saja batas lahan dengan tanaman buah, atau karet. Itu sudah ada pemiliknya. Dan mereka mempunyai banyak tanah pada saat ini.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai blessing in disguise. Dahulu kala. Orang darat adalah cap atau labeling bagi orang Dayak karena suka tinggal dan bermukim di darat, jauh dari pesisir yang dianggap “beradab”. Namun, kini kutukan tersebut berubah menjadi berkat.

Saya bahkan punya dua topik penelitian yang akan jadi buku. Semoga saja mencelilkan banyak orang.

Pertama, tentang perubahan pusat kebudayaan dan pusat apa pun juga ini dari pesisir ke daratan. Dengan implikasi-implikasinya yang sangat mendasar dan signifikan.

Kedua, fenomenon mengenai menggeliatnya ekonomi kerakyatan yang saya sebut sebagai prakapitalisme di Kalimantan Barat yang awal mula digerakkan oleh Gereja Katolik di Kalimantan Barat dengan menggelorakan semangat berkoperasi atau berkredit union.

Kemudian, spirit ini ditangkap oleh masyarakat Dayak, terutama di Kalimantan Barat yang dikenal adalah CU Lantang Tipo tahun 70-an diikuti CU Pancur Kasih. Dan kemudian luar biasa tumbuh di tanah ibanik Sekadau, Sintang, dan Putussibau yakni CU Keling Kumang. Nama ini dipetik dari  tokoh Rama dan Sinta-nya orang Iban.

Tidak dapat menarasikan CU yang lain di sini. Akan tetapi, cukup Keling Kumang saja. Anggotanya kini  205.000.

Tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Kantor pelayanan sebanyak 70. Adapun asetnya mendekati dua triliun.

Sekadar untuk diketahui. CU Keling Kumang bukan hanya mengurusi urusan kredit saja, simpan pinjam. Melainkan juga mempunyai semacam holding company. Salah dua di antaranya adalah SMK Keling Kumang dan Institut Teknologi Keling Kumang.

Selain itu, punya juga mini market, yaitu pusat-pusat perbelanjaan yang tiap kali dipadati oleh pengunjung dan anggota-anggota.

Dan hal yang sangat kita fokuskan perhatian adalah mengenai salah satu misi CU Keling Kumang, yakni financial literacy atau melek di bidang keuangan bagi orang Dayak dan seluruh anggotanya.

Sangat nyata literasi finansial ini. Bagaimana CU mendidik orang-orang Dayak supaya berhemat, menabung, disiplin dalam hal keuangan (membayar kredit sesuai jumlah), supaya kalau meminjam uang itu tidak konsumtif akan tetapi produktif.

Dan kredit yang dikucurkan CU, dibantu dan didampingi untuk digunakan anggota sesuai dengan tujuan. Kredit hendaknya digunakan secara sangkil dan mangkus sebagai modal bekerja sedemikian rupa, sehingga menghasilkan uang dari modal tersebut.

Dan kini. CU Keling Kumang sudah sangat maju. CU dengan warna khas biru merah ini mobile dan juga lincah dengan mendirikan juga ATM di berbagai kota dan tempat.

Selain itu. CUKK juga sangat visioner ke depan tidak ubahnya seperti bank-bank umum biasa yakni menyediakan kemudahan dalam bentuk transaksi atau uang digital.

Hal yang cukup unik. ATM CU Keling Kumang. Tidak harus menggunakan kartu untuk transaksi.

Cukup menggunakan ponsel. Tentu saja, sudah men-down load aplikasi Keling Kumang Digital.

Kini CU sungguh memudahkan anggota yang mobile, pelayanan prima dan profesional. Bisa juga transfer dan transaksi virtual ke segala keperluan. Terkini. Jika ada “Bank Dayak” mengapa menggunakan yang lain?

Bayangkan saja! Berapa biaya administrasinya? 250.000 anggota dikalikan sekali transaksi rp6.500 sudah berapa? Mendingan membesarkan “bank” sendiri. Sebab akan kembali kepada kita kebesarannya.

Mari sama-sama kita jadikan CU terbesar dan terbaik di negeri ini.

Sekaligus kita gelorakan financial literacy. Hingga ke seluruh negeri.

***

Bionarasi

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Senam Sehat Bersama Dalam Acara Bazar Institut Shanti Bhuana Bengkayang

| Penulis: Betrishandi Titia Aurelly | Editor: Rima Irma Bengkayang, Detikborneo.com – Institut Shanti Bhuana, …