Home / Berita / Paroki St. Paulus Tuguk, Medan Setelah Jalur Sungai Ditinggalkan

Paroki St. Paulus Tuguk, Medan Setelah Jalur Sungai Ditinggalkan

| Penulis: Deodatus Kolek

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan paroki sebagai “daerah (kawasan) penggembalaan umat Katolik yang dikepala oleh pastor atau imam”. Tulisan ini menyajikan sedikit saja tentang Paroki St. Paulus Tuguk Keuskupan Sintang.

Paroki yang pusatnya terletak di tepi Sungai Inggar secara resmi berdiri  tahun 1979 saat Pastor Vedastus Rikky, Pr bertugas sebagai pastor kepala. Sebelumnya, paroki ini masih dalam lingkup pelayanan Paroki Santa Perawan Maria Nanga Pinoh yang sudah berdiri tahun 1949. Para misionaris perintis di paroki ini sudah mengunjungi beberapa daerah sejak tahun 1950-an. Dalam buku baptis, Antonius Heong menjadi orang yang pertama dibaptis yang berasal dari paroki ini di Nanga Pinoh pada tanggal 24 Desember 1956.

Senarai nama para pastor yang pernah menginjakkan kaki di wilayah paroki ini sebelum secara resmi berdiri sendiri tahun 1979 adalah Adriaan Scellart, SMM, P.F. A. Bernard, SMM, Jan Lissen, SMM, Anton Vonchen, SMM, Hubertus P.G. Sweart, SMM, H.A.C. Harry Van Cuyk, SMM, J. Wintracen Muda Agus, Wintreacen, John Joseph Breslin, SMM, Elias Kinson, dan Matias Lunggai, Pr. Sedangkan para pastor yang bertugas setelah resmi menjadi paroki ialah Vedastus Rikky, Pr, Valentino Bosio, CM, Ignatius Asan Keran, Pr, Louis Bona Wekak, Pr, Yohanes Paulus Bebok, Pr (waktu bertugas sebagai frater dan diakon), Agustinus Bata, pr (frater), Paulus Pati Lein, Pr, Marsel, Pr, Yoseph Dhosi Mbele, Pr, Triyadi, Pr, Markus Marhusen, Pr, Yulianus Uton (hanya frater dan diakon), Herman (frater) Petrus Kaju, Pr (sekarang Pastor kepala) dan Deodatus Kolek, Pr.

Para perintis mengunjungi paroki ini semuanya melewati jalur sungai. Sebab perkampungan mayoritas berada di pinggir sungai. Dari Nanga Pinoh mereka menyusuri Sungai Melawi dan masuk ke Sungai Kayan lalu menuju Sungai Inggar. Beberapa kampung yang agak jauh dari sungai Inggar harus dikunjungi dengan berjalan kaki.

Antonius Toni salah satu umat dari Desa Tuguk mengisahkan saat mereka masih kecil mereka dibaptis di Nanga Pinoh. Berduyun-duyun kala itu mereka yang dibawa orang tua mendayung perahu dengan berbekalkan beras dan sayuran serta periuk dan alat masak lain untuk mendatangi Nanga Pinoh agar bisa dibaptis. Sehari atau dua hari perjalanan jika tidak ada halangan dari Tuguk sampai tujuan.

Pastor Valentino Bosio, CM yang pernah menjadi pastor paroki lebih banyak berjalan kaki saat turne ke stasi-stasi untuk menghemat biaya. Kanyan dari stasi Sungai Buaya mengisahkan, Pastor Valentino kadang tiba-tiba datang ke stasi. Tidak ada jadwal yang terkirim lebih dahulu. Saat di stasi, dia mengumpulkan anak-anak lalu membagikan permen kepada mereka. Setelah itu anak-anak dibawa berkeliling kampung dan menyanyikan lagu Jalan serta Yesus sambil berteriak-teriak dan berjingkrak-jingkrak. Dia juga sering membagikan obat-obatan kepada orang sakit dan mendoakan mereka.  

Sejak tahun 1990-an akses jalan ke beberapa daerah stasi sudah mulai dibuka. Yang awalnya hanya ‘jalan tikus’ beberapa tempat sudah bisa dilewati sepeda motor sedangkan sebagian lagi tetap jalur sungai atau jalan kaki sampai tahun 2000-an. Saat ini paroki yang memiliki 31 stasi semuanya dikunjungi melalui jalur darat. Dengan adanya rintisan jalan, medan jangkauan semakin singkat dan terbantu baik waktu tempuh maupun biaya jika dibandingkan melalui jalur sungai.  

Kini beberapa jalan menuju beberapa stasi memang masih perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat. Keluhan masyarakat banyak ialah kalau musim hujan jalan sulit dilewati. Masyarakat perlu jalan bagus agar beban kerja mereka terbantu. Hal ini karena perekonomian masyarakat di wilayah paroki ini banyak tergantung pada ladang padi dan karet serta sebagian kecil lada dan cabai beberapa yang lain ada sawit, berdagang dan pegawai. Jalan yang tidak memadai membuat mereka harus mengganti beberapa spare part motor dalam waktu yang tidak lama.

Semangat umat untuk membangun gereja di stasi-stasi sudah nampak. Sampai saat ini lebih dari 20 stasi sedang membangun gedung gereja dan belum rampung. Sebagian besar terkendala dana. Kendala lain ialah kebersamaan umat dalam membangun di beberapa tempat diperkeruh oleh perbedaan pilihan politik baik di tingkat desa maupun kabupaten bahkan nasional.

Gedung gereja pusat paroki di Desa Tuguk yang sudah nampak kusam dan renta masih digunakan hingga hari ini. Rencana membangun gedung gereja pusat paroki sedang diagendakan. Karena bagaimanapun gedung saat ini sudah layak untuk diperbaharui setelah hampir 40 tahun. Apalagi kapasitas umat semakin meningkat.

Medan pastoral paroki yang menantang saat ini masih berkutat pada pembinaan iman umat. Perlu waktu yang agak lama menanamkan katekese tentang ajaran iman Katolik secara mendalam. Bau-bau kembalinya budaya masa lalu yang tidak relevan dan mandul masih tercium. Pemberian pemahaman dan dialog mengenai ajaran iman yang benar dan budaya sangat diperlukan apalagi kepada kaum muda di paroki ini.

Selain itu, kesediaan untuk menjadi pengurus stasi dan kerelaan untuk berkorban demi perkembangan Gereja nampak dari tokoh-tokoh umat. Meski demikian, di beberapa tempat, masih ada juga oknum yang oportunis di mana tugas di gereja dilihat sebagai lahan untuk mencari keuntungan.

Medan menantang lain yang harus disebut ialah kaum muda Katolik yang banyak tergerus oleh perkembangan teknologi. Banyak di antara mereka pada hari Minggu tidak dapat bangun untuk pergi misa. Sebabnya ialah karena semalam-malaman mereka bermain games. Padahal di wilayah paroki ini, untuk mendapatkan signal harus pergi ke tempat-tempat khusus karena sebagian besar stasi belum memiliki akses internet termasuk pusat paroki. Signal hanya didapat di beberapa tempat yang berdekatan dengan menara internet. Ekses negatif teknologi telah merambat ke banyak kaum muda yang pelan-pelan bisa merusak masa depan mereka.

Sebagai salah satu paroki yang terletak di Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Sintang, Paroki Tuguk termasuk paroki tua di wilayah Kayan ini. Desa Tuguk sebagai pusat paroki pada masa itu memang pilihan strategis karena jalur sungai dan jumlah umat yang memadai. Kini setelah jalan darat dominan digunakan, menuju pusat paroki perlu tenaga dan waktu agak khusus karena tidak berada di jalan poros provinsi seperti Paroki tetangganya Nanga Mau. Ditambah lagi jalan yang belum begitu memadai serta kadang-kadang banjir yang agak lama dibandingkan di daerah lain menjadi beban tersendiri.

Di atas segala medan yang masih terbentang kini dan mendatang, satu hal yang menarik ialah umat di sini selalu memiliki kerinduan akan Tuhan. Mereka berkata seperti juga pemazmur, Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair (Mzm 63:1). Semoga pelayanan pastor dari masa ke masa menjadi oase bagi umat untuk hidup dalam kasih, berkembang dalam iman dan pengharapan.

About Admin

Check Also

Senam Sehat Bersama Dalam Acara Bazar Institut Shanti Bhuana Bengkayang

| Penulis: Betrishandi Titia Aurelly | Editor: Rima Irma Bengkayang, Detikborneo.com – Institut Shanti Bhuana, …