Home / Budaya / Hutan Kalimantan dan Kenangan Terindahnya

Hutan Kalimantan dan Kenangan Terindahnya

| Penulis: Deodatus Kolek

Suatu sore saya bercerita dengan beberapa bapak di teras pastoran Paroki Tuguk, Kayan Hilir, Kabupaten Sintang. Ada beberapa topik yang dibicarakan, salah satunya tentang hutan. Masih berkaitan dengan hutan, kami juga membahas tentang satwa.

“Dulu,” kata seorang bapak, “kalau mau mencari bahan untuk membuat bangunan sangat gampang. Kita tinggal milih kayu yang bagus seperti ulin (tebelian), tembesuk, mengkirai dan lainnya. Batangnya pun besar-besar. Jaraknya tidak begitu jauh, masih terjangkau entah lewat sungai atau dipikul bersama-sama.

Hanya saja untuk membelah dan membuatnya menjadi papan atau balok perlu kerja keras. Kami masih memakai gergaji. Tapi beberapa bahan yang lebih 40 tahun lalu kami kerjakan sekarang masih kuat. Lihatlah gereja semua bahan itu menggunakan kayu bagus dan dari hutan sekitar sini”.

Dia melanjutkan, “Kalau mau mencari sayur untuk acara-acara besar dulu tidak begitu sulit. Pergi  ke hutan dengan mudah mendapat umbut yang enak-enak. Tidak jauh mencari pakis. Sangat mudah menemukan daun sengkubak. Begitu juga dengan buah-buahan.

Jika sudah musim buah hampir tidak mampu memakannya. Bahkan kadang banyak buah seperti durian, rambutan hutan, kemantan dan lain sebagainya jatuh di tanah dan dibiarkan”.  

Seorang bapak lain menambahkan lagi, “Begitu juga dengan lauk pauk. Dulu, katanya, hampir setiap minggu orang pasti ada yang dapat lauk entah babi hutan, kijang, rusa atau pelanduk/kancil. Mereka yang mendapat biasanya malah membagikan sebagian untuk orang lain.

Dibagi-bagi secara gratis hampir ke semua tetangga. Suara-suara seperti kelempiau menjadi binatang yang setia membangunkan kepulasan tidur di pagi hari. Suara burung yang indah-indah berkicau tiada henti dari pagi hingga paginya lagi. Ikan-ikan juga mudah didapat.

Hanya dengan bubu yang dipasang dekat tempat mandi di sungai sudah cukup untuk sekali makan. Jika sudah musim kemarau, ikan-ikan bisa kelihatan jelas di sungai. Airnya masih jernih. Ikannya masih banyak dan rasanya juga manis-manis dan enak”.

Setelah agak panjang bercerita tentang kejayaan mereka bersama hutan di masa lalu, saya bertanya, “Sekarang bagaimana pak?” Hampir serempak mereka menjawab, “Kalo sekarang sudah susah! Susah”. Begitu kata mereka.

Mereka memaparkan susah hampir semua bidang kalau tentang alam ini. Hutan-hutan sudah jarang dilihat lagi. Binatang yang dulu sangat mudah didapat sekarang kabarnya saja tidak pernah mendengar.

Semua orang lebih tertarik pada perkebunan. Sawit menjadi ‘hutan’ baru. Tidak pernah kita melihat hutan asli selain di dekat bukit-bukit batu seperti bukit Tuguk, sebagian dari bukit Bank dan beberapa tempat lain.

Banyak lahan sudah tidak ada hutan rimba asli. Bahkan sekarang yang mudah hanya banjir dan banjirnya tahan lama. Semua yang indah tinggal kenangan. Hanya cerita yang tersisa.

Orang Muda berfoto dengan latar Bukit Bank di Desa Pakak, Kayan Hilir.

Tidak gampang mengisahkan keindahan dan kekayaan alam Kalimantan. Kisah mengenai hal ini kompleks dan berliku. Yang perlu diusulkan ialah bagaimana apa yang masih tersisa di mana pun itu dilestarikan. Cerita-cerita termasuk nama-nama kekhasan isi alam diingat dan dicatat.

Pada awal tahun 2021 orang ramai menyoal foto (di bawah ini ) peta deforestasi hutan Kalimantan

Banyak komentar mengenai penyusutan hutan di peta ini. Ada yang bertanya, “Benarkah sampai segitunya?” Jawabannya bisa benar bisa tidak. Tetapi jika mendengar kisah singkat bapak-bapak di teras pastoran itu, dan jika ditanyakan kepada mereka, jawaban mereka mungkin sepakat benar. Benar bahwa hutan Kalimantan memang menyusut, bahkan sangat menyusut.

Jika membaca kesaksian asing pun, kita bisa meraba-raba dan membayangkan tentang hutan dan satwa di Kalimantan dulu.

Di bawah ini merupakan beberapa penggalan paragraf dari kesaksian orang-orang Barat (khususnya Belanda) yang dikumpulkan oleh P.J. Veth. Tulisan yang sudah dipublikasi tahun 1854 yang lalu itu memberi gambaran tentang bagaimana alam di Kalimantan zaman itu.

“Di antara pegunungan-pegunungan ini kita dapati dataran-dataran yang luas, yang selalu diguyur hujan yang melimpah. Tanahnya terdiri dari formasi kwarsa, yang tertutup dengan tanah endapan yang subur. Dataran ini dialiri oleh sungai-sungai yang indah dan berkelok-kelok, yang airnya luar biasa banyaknya; dan sungai-sungai ini dapat dilayari hingga ke pedalaman, dan bermuara di pantai-pantai di segala penjuru dari pulau ini.” (Veth jidid 1 hlm. xxxix ).

 “Semua sungai ini mendapatkan airnya dari sumber-sumber yang berada di hutan-hutan yang amat luas, yang hampir menutupi seluruh wilayah Borneo. Hutan-hutan ini pula menjadikan suhu udara menjadi dingin (Veth jilid 1, xl).”

Warga Tuguk saat banjir dari luapan sungai Inggar melanda harus menyiapkan sampan.

“Dari tepi laut hingga sejauh mata memandang ke daerah pedalaman, yang tampak satu gelombang yang terdiri dari daun-daun, rumput dan bunga-bunga yang senantiasa terbaharui. Tumbuhan paku-pakuan dan tumbuhan air lainnya, yang silih berganti dengan pohon-pohon nipah, menutupi tepi-tepi laut dan sungai hingga bermil-mil jauhnya. Kesegaran abadi yang ditampilkan oleh warna hijau kemilau dari berbagai warna (ungu, kuning, merah saja, putih dengan campuran merah) yang ditampikan bunga-bungaan dan kuncup-kuncupnya, tidak ada bandingnya di manapun di dunia ini (Veth jilid 1, xl).”

“Mata kita juga terpukau dengan hutan-hutan kecil yang terdiri dari berbagai tanaman, yang saling terkait menjadi sebuah massa yang rapat karena kaitan sulur-sulur tanaman itu; yang juga tertutup dengan bunga-bunga yang berbentuk binatang. Angin yang bertiup membentuk barisan tanaman yang membungkuk, yang terdiri dari berbagai jenis tanaman kantung semar (nepenthes) dengan kantung-kantungnya yang berbentuk corong, yang setengahnya berisi air yang berasal dari tanaman itu sendiri (Veth jilid 1, xl-xli).”

“Pada setiap kelompok batu karang di pantai, dilihat satu kumpulan besar ikan-ikan dengan warna sangat bagus, yang masuk keluar dari bawah rumput laut dan tanaman koral, beberapa dengan garis hitam dan oranye, yang lain dengan sirip-sirip tembus cahaya, beberapa kuning, dan lain lagi yang dengan warna-warni yang indah mengimbangi burung-burung nuri dari hutan (Veth jilid 1, xlii).”

“Tidak ada satu jenis tanaman yang bernilai, yang terdapat di kepulauan Nusantara, yang tidak bisa tumbuh di bumi Borneo. Namun orang juga akan menipu dirinya sendiri bila ia berkata bahwa Borneo menyediakan semua kekayaan ini begitu saja, dalam jumlah yang berlimpah. Borneo akan menjadi surga dunia bilamana manusia, yang ditempatkan di situ berupaya mengolah alam yang diciptakan Tuhan untuknya. Dengan demikian Borneo benar dapat disebut “the emarald gem of the eastern world.”

Begitulah kesaksian bapak-bapak dan orang-orang yang memang mengalami, merasakan, meraba dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang ada di isi bumi Kalimantan ini. Sekarang kita bisa mendengarnya dan sedikit saja bertanya-tanya kepada mereka. Salam rindu untuk alam yang masih bertahan.

About Admin

Check Also

Legenda Bahtuk Ahik (1)

| Penulis: Jonison Bahtuk Ahik adalah sebuah batu yang sangat besar. Batu Ahik berdiri kokoh …