Home / Budaya / Legenda Bahtuk Ahik (1)

Legenda Bahtuk Ahik (1)

| Penulis: Jonison

Bahtuk Ahik adalah sebuah batu yang sangat besar. Batu Ahik berdiri kokoh hampir di tengah-tengah arus sungai Melawi. Tepatnya sekitar 2 km sebelah hilir dari pusat desa Nanga Sake, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Dikala musim kemarau arus sungai di sekitar bahtuk ahik sangat tenang. Warga masyarakat sekitar memanfaatkannya sebagai tempat untuk menangkap ikan secara tradisional. Seperti memancing, memasang pukat, memasang tajur dan lainnya.

Sebaliknya pada saat musim penghujan. Air sungai menjadi pasang dan deras. Bahtuk ahik seperti berpindah ke tengah arus sungai. Hanya menyembul seakan-akan memamerkan “bidang dadanya” yang kekar.

Arus di sekitar bahtuk ahik menjadi bergelombang dan berulak besar yang sangat mengerikan. Seakan-akan menumpahkan kemurkaannya.Hanya orang-orang yang bernyali tinggi yang berani “mengendarai” speed boat, longboat atau jenis perahu bermesin lainnya yang dapat melewati arus tersebut.

Nyawa, harta benda dan muatan lainnya adalah taruhan ketika orang tetap memaksa melewati pada saat arus sungai sedang pasang. Warga desa yang berdomisili di sepanjang aliran sungai Melawi dan sungai Gilang  sudah sangat mengenal situasi dan kondisi bahtuk Ahik. Namun tidak semua orang tahu kisah keberadaannya.

Penulis mencoba menelusuri kisah batu ini. Orang yang dituju adalah kakek Kabus. Beliau adalah sesepuh Desa Nanga Sake yang usianya sudah uzur. Walau usia sudah uzur, tetapi semangatnya tetap tinggi. Ketika diwawancarai penulis, kakek Kabus berkisah penuh keceriaan. Sambil menghirup secangkir kopi yang dihidangkan oleh cucu kesayangannya.

Konon ceritanya Bahtuk Ahik ini merupakan “putung” (potongan) dari “puruk mokorajak” (bukit raya).  Potongan batu ini terlempar jauh akibat disambar oleh “atang kahkam” yang geram melihat ulah Bahkiu dan Ariu yang suka memangsa manusia di bumi.

Selain bahtuk Ahik ada lagi potongan yang disebut “bahtuk sulik” yang terlempar ke Kalteng. Bahkiu dan Ariu adalah dua bersaudara “otuk langit”  (hantu langit) yang suka memangsa manusia di bumi. Mereka turun naik dari langit ke bumi dan sebaliknya. Puncak puruk mokorajak yang menjulang tinggi sampai ke langit digunakan sebagai tangga.

Atang Kahkam adalah sejenis burung elang yang sangat besar. Atang kahkam berjiwa satria dan selalu melindungi manusia penghuni bumi. Atang Kahkam tidak suka pada kesewenang-wenangan Bahkiu dan Ariu.

Atang kahkam berpikir satu-satunya jalan keluar yang ditempuh untuk melindungi manusia di bumi adalah dengan merusak sarana yang selalu digunakan oleh Bahkiu dan Ariu untuk turun naik memangsa manusia.

Semenjak terpotongnya puruk mokorajak, Bahkiu dan Ariu tidak bisa lagi turun ke bumi. Mereka hanya bisa memandang manusia dari langit. Sambil memandang ke bawah air liur selalu menetes. Konon tetesan air liur Bahkiu dan Air menjelma menjadi “lomatok” (pacat, serangga hutan penghisap darah). Itulah sebabnya di bumi ada pacat.

Di bagian bawah bahtuk ahik ada bekas seperti terkena hempasan.Orang-orang menduga bahwa hal tersebut akibat tertabrak sampah kayu besar ketika air sungai pasang. Tetapi kakek Kabus menegaskan bahwa bekas tersebut memiliki kisahnya tersendiri.

***

Nara sumber: Kakek Kabus

About Admin

Check Also

Legenda Bahtuk Ahik (2)

| Penulis: Jonison Ketika musim kemarau arus sungai di sekitar Bahtuk Ahik menjadi sangat tenang. …