30.8 C
Singkawang
More
    BerandaBeritaMarketing Level Dewa di Balik Melejitnya dan Viral Bipang Ambawang

    Marketing Level Dewa di Balik Melejitnya dan Viral Bipang Ambawang

    JAKARTA, detikborneo.com –  “Untuk bapak, ibu dan saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, bipang ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan,” kata Jokowi dalam potongan video yang diunggah oleh akun Twitter @BosTemlen, Jumat 7 Mei 2021.

    Bipang Ambawang mendadak ramai diperbincangkan usai masuk ke dalam pidato Presiden Joko Widodo dan viral di media sosial. Di balik kontroversinya, nyatanya bipang memberikan berkah bagi pedagang babi panggang khas Kalimantan Barat ini.

    Pedagang babi panggang mengaku kebanjiran order usai bipang Ambawang jadi ramai diperbincangkan. Deky Junaedi, salah satunya. Pemilik restoran Babi Panggang Ambawang di Kubu Raya, Kalimantan Barat ini mengaku penjualan bipang olahannya meroket dua kali lipat dibanding hari-hari normal usai Jokowi menyebut kuliner khas Kalbar tersebut dalam pidatonya yang viral.

    Dari kaca mata ilmu marketing, sebesar apa peran pidato Presiden Jokowi dalam naiknya pamor bipang ambawang?

    Menurut pakar marketing Yuswohady, pidato Jokowi soal produk kuliner jadi modal utama dalam membangun sebuah brand atau merek. Hal itu membangun pengetahuan mengenai apa itu bipang Ambawang.

    Yuswohady menilai pidato Jokowi sangat besar dampaknya dalam menarik perhatian dan membangun pengetahuan mengenai bipang Ambawang. Saat ini menurutnya banyak orang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu soal apa itu bipang Ambawang.

    Dia menyebutkan bipang Ambawang sangat beruntung bisa mendapatkan endorsement usai disebutkan Jokowi dalam pidatonya yang viral. Di tempat lain, banyak perusahaan yang menghabiskan miliaran rupiah untuk bisa mendapatkan modal ini untuk produknya.

    “Saya aja awalnya nggak tahu, setelah diomongin Presiden dan ramai juga di tengah masyarakat semua orang jadi tahu,” ujarnya.

    Nah setelah pengetahuan soal bipang Ambawang terbangun, baru lah orang penasaran dan mulai mencoba memesan bipang untuk mengetahui rasanya. Makanya, dia tak heran bila restoran bipang banyak yang kebanjiran order.

    “Ketika pak Jokowi ngomong bipang ambawang, orang nggak tahu jadi tahu, orang jadi penasaran dan mau coba gitu, nah kebanjiran order deh yang jual,” ungkap Yuswohady.

    Level berikutnya menurut Yuswohady adalah apakah orang-orang yang penasaran tadi bisa menjadi orang yang loyal dan berlangganan membeli bipang. Menurutnya, jawabannya adalah sesuai dengan kualitas makanan itu sendiri, apakah bipang itu enak atau tidak.

    Bila nyatanya banyak yang mengatakan enak dan ketagihan membeli lagi, level terakhir dalam membangun brand akan terbentuk dengan sendirinya. Hal itu adalah rekomendasi organik dari para pembeli ke orang lain.

    “Prosesnya ketika orang sudah pada order nanti tinggal kualitas dari produk itu, enak atau tidaknya itu, kalau orang ketagihan karena enak dia akan otomatis jadi pelanggan. Kualitas tetap akan menentukan,” ungkap Yuswohady.

    “Kalau sudah loyal dia merekomendasikan ke orang lain,” lanjutnya.

    Lalu perlukah para pedagang bipang melakukan upaya lebih untuk mempromosikan dagangannya? Misalnya memberikan diskon dan lain-lain. Yuswohady mengatakan hal itu tak salah untuk dilakukan. Dia menilai hal itu patut dilakukan agar menjaga momentum populernya bipang ambawang tetap terjaga di masyarakat.

    “Di tengah momentum viral ini, promo itu mungkin bisa dilakukan lewat media sosial, mumpung ingatan bipang ini masih ada. Jadi awareness si bipang ini bisa dijaga terus menerus gitu, nggak ada yang tahu kan viral itu berapa lama,” ungkap Yuswohady.

    Namun, untuk produk makanan, menurutnya yang paling penting tetap menjaga kualitas rasa dari makanan itu sendiri agar orang tetap mau berlangganan. Bila memang makanannya, dalam hal ini bipang Ambawangnya tidak enak, mau dikasih diskon berapapun orang belum tentu akan beli.

    “Menurut saya promo diskon dan lain-lain itu biasa aja sih, tetap yang paling ampuh kalau makanan itu kualitas. Enak atau nggak? Kalau didiskon tapi nggak enak pun, memang nggak akan ada yang beli,” ungkap Yuswohady.

    Penulis. Rd

    latest articles

    explore more

    1 KOMENTAR

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini