
Jakarta, detikborneo.com – Tidak semua orang lahir dengan jalan hidup yang mudah. Sebagian harus bertarung keras melawan keadaan, jatuh bangun dalam keterbatasan, bahkan hampir menyerah sebelum akhirnya menemukan tujuan hidupnya.
Kisah itu nyata dalam perjalanan hidup Jelani Christo, S.H., M.H., seorang advokat yang kini dikenal luas sebagai pembela masyarakatn adat dan kaum kecil.
Sebelum berdiri tegak di ruang sidang, Jelani hanyalah seorang tukang servis AC yang berjuang dari nol di kerasnya kehidupan ibu kota. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia pernah berada di titik terendah—nyaris putus asa menghadapi tekanan hidup.
Namun, ia tidak menyerah.

Bermodalkan sebuah vespa butut, Jelani menyusuri jalanan Jakarta dari satu rumah ke rumah lainnya, menawarkan jasa servis AC. Dari keringat dan kerja keras itulah, ia mengumpulkan rupiah demi rupiah—bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk membiayai pendidikan yang kelak mengubah jalan hidupnya.
Panggilan Hidup yang Tak Pernah Padam
Sebelum terjun ke dunia hukum, Jelani sempat menempuh pendidikan teologi di STT Jeffray Jakarta hingga semester tujuh. Meski tidak selesai, nilai-nilai pelayanan yang ia pelajari tidak pernah hilang.
Justru, panggilan itu menemukan bentuk baru.
“Menjadi advokat adalah bentuk pelayanan. Selama saya masih diberi kehidupan, saya ingin berdiri di pihak mereka yang tertindas dan mencari keadilan,” ungkapnya dengan tegas.
Bangkit dari Keterbatasan
Lahir pada 7 Juli 1975 dan dibesarkan dalam latar budaya Dayak, Jelani memulai pendidikan dari STM Fensensius Jakarta Timur (lulus 1994). Keahlian teknis menjadi satu-satunya modal awalnya bertahan hidup.
Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan tekad besar.
Ia terus melangkah, bekerja sambil belajar, hingga akhirnya meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya pada 2012. Perjalanan itu dilanjutkan dengan gelar Magister Hukum dari UPN Veteran Jakarta pada 2015.
Menyatukan Advokat, Menjaga Martabat Profesi
Tidak berhenti pada pencapaian pribadi, Jelani juga mendirikan Solidaritas Pembela Advokat Seluruh V Indonesia (SPASI). Organisasi ini menjadi wadah untuk menyatukan para advokat lintas organisasi agar tetap solid dan menjunjung tinggi integritas.
Baginya, profesi advokat adalah Officium Nobile—profesi mulia yang tidak boleh ternoda oleh kepentingan sempit.
“Advokat harus tetap bersatu, saling menghormati, dan menjaga kehormatan profesi,” tegasnya.
Berdiri di Garis Depan Membela yang Lemah
Melalui LBH Mandau Borneo Keadilan, LBH Majelis Adat Dayak Nasional dan LBH SPASI, Jelani aktif memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat yang tidak mampu. Ia kerap terlibat dalam kasus-kasus besar yang menyangkut ketidakadilan, termasuk perjuangan hak tanah masyarakat adat di Kalimantan.
Bagi Jelani, hukum bukan milik orang kuat semata—tetapi harus menjadi pelindung bagi semua, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan.
Kisah hidupnya menjadi cermin bahwa keterbatasan bukanlah akhir. Dari vespa butut, dari pekerjaan kasar sebagai tukang AC, dari titik nyaris putus asa—Jelani Christo bangkit dan menjelma menjadi perisai hukum bagi banyak orang.
- Baca juga: DPN SPASI Kukuhkan Pengurus DPC Bekasi Raya: Dorong Konsolidasi dan Pembentukan LBH SPASI
Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga memberi harapan bagi mereka yang selama ini tidak memiliki suara. ( Bajare007 )





