
Jakarta, detikborneo.com – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali berdampak terhadap operasional penerbangan. Sebaran abu vulkanik yang mencapai ruang udara sejumlah wilayah membuat sejumlah bandara harus menutup sementara operasional penerbangan demi keselamatan.
Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh atau dentuman dan fenomena lava fountain.
Dampak erupsi semakin meluas setelah sebaran abu vulkanik memasuki wilayah ruang udara yang digunakan untuk penerbangan. Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan melakukan penutupan sementara dan memperpanjang waktu penutupan sejumlah bandara.
Berdasarkan pembaruan informasi Kementerian Perhubungan, pada Senin (7/9/2026) sejumlah bandara masih mengalami penghentian sementara operasional hingga sekitar pukul 08.59 WIB. Di antaranya Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Radin Inten II (Lampung), dan Bandara Husein Sastranegara (Bandung).
Sebelumnya, dampak erupsi bahkan menyebabkan penutupan lebih banyak bandara. Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 1.558 penerbangan terdampak akibat penutupan delapan bandara, dengan sekitar 170.000 penumpang ikut terdampak.
Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat
Penutupan bandara dilakukan bukan karena letusan langsung mengenai fasilitas bandara, melainkan karena abu vulkanik yang menyebar ke ruang udara.
Abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat dan berbagai sistem penerbangan. Karena itu, otoritas penerbangan bersama pengelola bandara, BMKG, dan operator penerbangan terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik sebelum memutuskan apakah penerbangan dapat kembali beroperasi.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan keputusan pembukaan kembali bandara akan mempertimbangkan kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan.
Penumpang Diminta Pantau Informasi Penerbangan
Masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan dari maupun menuju wilayah terdampak diimbau untuk tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan sebelumnya. Penumpang disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara karena status operasional dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi sebaran abu vulkanik.
Erupsi Gunung Anak Krakatau hingga kini masih terus dipantau oleh pihak berwenang. Pemerintah juga melakukan koordinasi lintas instansi untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama hingga kondisi ruang udara dinyatakan aman.





