
Oleh: Imam Suwandi, S.Sos.,M.I.Kom.
Jakarta, detikborneo.com – 1 Oktober 2026Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar momentum untuk mengenang sebuah peristiwa sejarah. Lebih dari itu, 1 Oktober adalah kesempatan bagi kita untuk kembali bertanya: sejauh mana Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan.
Ia harus menjadi nilai yang hidup dalam tindakan: ketika kita menghargai perbedaan, menolak kekerasan, menjunjung keadilan, menghormati hukum, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, tantangan terhadap nilai kebangsaan juga berubah. Hoaks, ujaran kebencian, polarisasi, fanatisme kelompok, dan politik identitas dapat dengan mudah memecah masyarakat apabila tidak disikapi secara kritis dan dewasa.
Karena itu, kesaktian Pancasila sesungguhnya tidak hanya diuji oleh sejarah masa lalu. Pancasila diuji setiap hari oleh sikap kita hari ini. Ketika keadilan masih menjadi harapan sebagian masyarakat, ketika korupsi masih menjadi persoalan, ketika hukum dipertanyakan rasa keadilannya, dan ketika perbedaan mudah berubah menjadi pertentangan, di situlah nilai-nilai Pancasila harus semakin nyata diwujudkan.
Pancasila akan menjadi kuat bukan karena sering diucapkan, tetapi karena diamalkan. Hari Kesaktian Pancasila hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan tanpa menghilangkan perbedaan, memperjuangkan demokrasi tanpa kebencian, serta membangun Indonesia yang adil dan bermartabat.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Mari menjaga Pancasila bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.Pancasila bukan sekadar dasar negara. Pancasila adalah tanggung jawab kita bersama.(Red/Ims)*





