
Palangka Raya, detikborneo.com — Figur yang dikenal sebagai jembatan lintas suku, lintas cultura, dan penjaga harmoni Nusantara, Dr. Rahmad Nasution Hamka, kembali menegaskan posisinya di panggung nasional. Pada Rakernas Pewarna Indonesia 2025, ia dianugerahi Apresiasi Tokoh dalam Keberagaman, Kebudayaan dan Keadilan Sosial sebuah penghargaan yang hanya diberikan kepada sosok yang kerja dan perjuangannya terbukti nyata, bukan seremonial.
Baca juga: Gubernur Agustiar Sabran Sambut Hangat DPN ICDN, Siap Bersinergi Melahirkan Cendekiawan Dayak Unggul
Penghargaan tersebut berlangsung di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, (12/11/2025), bersama tiga tokoh penerima penghargaan Apresiasi Pewarna Indonesia (API) yakni: Drs. Arton S Dohong (Ketua DPRD Kalteng), Irjen Pol. Iwan Kurniawan, Kapolda Kalteng dan Dr. Rahmad Nasution Hamka. Dengan mengusung tema “Menjaga Peradaban, Melestarikan Alam untuk Masa Depan,” Rakernas ini menempatkan isu keberagaman dan lingkungan sebagai agenda strategis negara — dua nilai yang selama ini menjadi napas perjuangan Dr. Rahmad.

Kepada media ini, Wakil Presiden Bidang Eksternal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) ini menyampaikan dengan semangat namun penuh keteduhan, mencerminkan falsafah leluhur Dayak yang hidup dalam dirinya.
Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada Pewarna yang telah memberikan penghargaan ini. Penghargaan ini adalah amanah sekaligus tanggung jawab yang akan terus kami emban ke depan.
Keberagaman adalah sebuah keniscayaan—sesuatu yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita jadikan kekuatan untuk menjaga peradaban bangsa,”** ucapnya.

Dilandasi Falsafah Rumah Betang: Keberagaman adalah Rumah Bersama
Falsafah Rumah Betang, warisan kearifan lokal Dayak, mengajarkan bahwa manusia yang berbeda suku, bahasa, dan keyakinan dapat hidup dalam satu rumah panjang — hidup damai, saling membantu, dan saling menghormati.
Dr. Rahmad, melalui kiprahnya di MADN dan aktivitas lintas komunitas, secara konsisten merefleksikan nilai-nilai tersebut: Hapakat (musyawarah), Belom Bahadat (hidup beradat dan bermartabat), Handep (gotong royong), dan Huma Betang (persaudaraan dalam keberagaman).
Nilai-nilai itu pula yang menjadi fondasi komitmennya dalam memperkuat harmoni dan menyerukan pelestarian lingkungan. Bahwa keberagaman bukan ancaman — melainkan ruang besar tempat semua anak bangsa dapat tinggal berdampingan, sebagaimana satu atap besar Rumah Betang menaungi banyak keluarga berbeda.
Untuk peserta Rakernas, Dr. Rahmad menegaskan bahwa kearifan lokal Rumah Betang bukan hanya budaya Dayak, tetapi warisan peradaban yang relevan untuk Indonesia modern.
Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada Pewarna Indonesia yang dinilainya teguh menjaga marwah jurnalisme yang mencerahkan, bukan yang memecah.
Dan tentu saja tak lupa disampaiakan pantun khasnya: Pergi ke Padang naik kereta, Pulang tiba sudah larut malam. Pewarna bukan hanya jurnalis berita, Tapi ikut menjaga peradaban dan alam.
Penghargaan yang Menguatkan Peran Dayak sebagai Penjaga Hutan
Penghargaan ini juga menegaskan kembali peran masyarakat adat Dayak sebagai penjaga hutan dan penyeimbang alam Nusantara. Dr. Rahmad adalah salah satu tokoh yang berkomitmen membawa pesan ini ke tingkat nasional — bahwa melestarikan alam adalah bagian dari identitas, bukan sekadar program.
Melalui penghargaan ini, Pewarna Indonesia secara tidak langsung mengakui bahwa nilai-nilai Dayak, khususnya Falsafah Rumah Betang, memiliki kontribusi vital dalam membangun Indonesia yang rukun, hijau, dan beradab. (Bajare007).





