
Balangan (Kalsel), detikborneo.com – Provinsi Kalimantan Selatan dikenal memiliki komposisi penduduk yang didominasi oleh Suku Banjar. Secara historis, Banjar kerap disinonimkan dengan Kerajaan Banjar dan Kota Banjarmasin. Namun, sejumlah kajian dan pemahaman sejarah menyebutkan bahwa Suku Banjar merupakan bagian dari rumpun Dayak Kalimantan Selatan yang memeluk Islam setelah runtuhnya Kerajaan Purba Nan Sarunai, lalu bangkit kembali melalui berdirinya Kerajaan Banjar dengan perpaduan unsur Dayak Maanyan dan Jawa dari Kerajaan Demak.
Jejak akar budaya Dayak hingga kini masih kuat mewarnai kehidupan masyarakat Banjar, baik melalui bahasa, adat istiadat, maupun kesenian tradisional yang tetap lestari di tengah masyarakat.
Pra-Banjar dan Peradaban Dayak
Menurut mitologi Suku Maanyan—yang diyakini sebagai salah satu suku tertua di Kalimantan Selatan—kerajaan pertama di wilayah selatan Kalimantan adalah Kerajaan Nan Sarunai. Wilayah kekuasaannya diperkirakan membentang dari Tabalong, Pamukan, hingga Pasir. Dalam kisah mitologi tersebut, Nan Sarunai digambarkan sebagai kerajaan purba yang pernah mempersatukan etnis Maanyan sebelum akhirnya runtuh, menyebabkan sebagian masyarakatnya menyingkir ke pedalaman, khususnya wilayah Suku Lawangan.

Salah satu peninggalan arkeologis penting dari masa tersebut adalah Candi Agung di Amuntai. Pada tahun 1996, pengujian karbon C-14 terhadap sampel arang di situs ini menunjukkan kisaran tahun 242–226 SM. Temuan ini menegaskan bahwa Kerajaan Nan Sarunai lebih tua sekitar 600 tahun dibandingkan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur.
Berdasarkan Tutur Candi (Hikayat Banjar versi II), di Kalimantan Selatan telah berdiri pemerintahan kerajaan secara berkesinambungan, mulai dari Kerajaan Kuripan, Negara Dipa, Negara Daha, Kesultanan Banjar, Kerajaan Martapura/Kayu Tangi, hingga Pagustian, sebelum akhirnya wilayah ini digabungkan ke dalam Hindia Belanda pada 11 Juni 1860.
Kerajaan Banjar sendiri mencapai tonggak penting ketika Pangeran Samudra dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia menjadi penguasa Banjar pertama yang memeluk Islam, dibimbing oleh Khatib Dayan, menandai perubahan besar dalam sejarah dan identitas keagamaan wilayah ini.
Dayak Halong dan Jejak Buddha di Kalimantan Selatan
Di tengah dominasi Islam Sunni pasca-Kesultanan Banjar, jejak agama Buddha masih bertahan kuat di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Salah satu komunitas terbesar penganut Buddha berasal dari Suku Dayak Halong, yang juga dikenal sebagai Dayak Dusun.
Komunitas Dayak Halong bermukim di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Mereka disebut sebagai populasi terbesar Suku Dayak beragama Buddha di Kalimantan Selatan, yang diyakini merupakan sisa penyebaran agama Buddha sebelum Kerajaan Banjar memeluk Islam.
Plt Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Selatan, Mandan, yang juga berasal dari Dayak Halong dan beragama Buddha, menjelaskan bahwa leluhur mereka berasal dari Pegunungan Meratus. Karena pola hidup berladang yang berpindah dan mengikuti aliran sungai, nenek moyang Dayak Halong kemudian menetap di wilayah Halong.

“Hampir 80 persen masyarakat di sini beragama Buddha sisanya Muslim dan Kristen, dengan jumlah penduduk sekitar 7.000 jiwa,” ujar Mandan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Bupati Balangan saat ini memiliki garis keturunan Dayak Halong. Bukti sejarahnya masih dapat dilihat dari rumah adat peninggalan leluhur sang bupati serta makam keluarga yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Menjaga Tradisi dan Kearifan Lokal
Hingga kini, masyarakat Dayak Halong tetap menjaga tradisi dan kearifan lokal warisan leluhur. Selain bekerja sebagai pegawai negeri sipil, karyawan swasta, dan pekerja tambang, mereka tetap menjalankan tradisi berladang.

“Dalam setiap upacara adat, hasil ladang wajib berasal dari jerih payah sendiri dan tidak boleh dibeli dari luar. Ini bagian dari adat yang harus dijaga,” jelas Mandan, yang juga bertugas sebagai pegawai Bimbingan Masyarakat (Bimas) Agama Buddha di Kabupaten Balangan.
Keberadaan Dayak Halong dengan identitas budaya dan keagamaannya menjadi bukti kuat bahwa Kalimantan Selatan memiliki sejarah panjang yang plural, di mana peradaban, adat, dan keyakinan hidup berdampingan serta diwariskan lintas generasi hingga hari ini. (Lawadi)




