
Pontianak, detikborneo.com – Dari sebuah desa kecil di Kedamin, Kabupaten Kapuas Hulu, lahir seorang putra Dayak yang kelak mengukir sejarah sebagai gubernur pertama dari etnis Dayak di Kalimantan Barat. Ia adalah Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray, sosok yang lahir dari keluarga sederhana namun berhasil menembus dominasi politik pada masanya.
Oevaang Oeray lahir pada 18 Agustus 1922 dari pasangan Ledjo dan Hurei, keluarga petani sekaligus penoreh karet di pedalaman Kapuas Hulu. Masa kecilnya berlangsung pada era kolonial Belanda, ketika masyarakat Dayak memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pendidikan maupun jabatan pemerintahan.
Semangatnya memperjuangkan kemajuan masyarakat Dayak mulai terlihat sejak usia muda. Pada 1941, ketika masih menempuh pendidikan di seminari, ia menulis surat kepada para guru Katolik yang sedang mengikuti retret di Sanggau. Dalam surat tersebut, ia mengajak para pendidik untuk lebih memperhatikan masa depan masyarakat Dayak.
Langkah itu justru membuatnya dikeluarkan dari seminari karena dianggap membawa isu politik ke lingkungan gereja. Namun peristiwa tersebut tidak menghentikan perjuangannya. Gagasan yang ia bangun kemudian berkembang menjadi gerakan Dayak In Action (DIA) yang selanjutnya melahirkan Partai Persatuan Dayak (PPD) pada 1 November 1945, hanya beberapa bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
PPD kemudian menjadi wadah politik pertama yang secara khusus memperjuangkan aspirasi masyarakat Dayak. Dalam Pemilu 1955, partai tersebut memperoleh sekitar 146 ribu suara di Kalimantan Barat dan berhasil mengirim wakil ke parlemen. Oevaang Oeray sendiri terpilih menjadi anggota Konstituante serta dikenal mendukung Pancasila sebagai dasar negara di tengah perdebatan ideologi saat itu.
Karier politiknya mencapai puncak ketika Soekarno menetapkannya sebagai Gubernur Kalimantan Barat melalui Keputusan Presiden Nomor 464/M tanggal 24 Desember 1959. Ia resmi menjabat mulai 30 Januari 1960 dan menjadi gubernur pertama dari etnis Dayak dalam sejarah provinsi tersebut.
Selama memimpin Kalimantan Barat, Oevaang Oeray dikenal memberi perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia. Salah satu kebijakannya adalah mendirikan IKIP Swasta Pontianak melalui SK Nomor 83/Sek-TU/64 pada 25 November 1964. Lembaga pendidikan tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Tanjungpura>.
Ia juga dikenal memperjuangkan kebebasan beragama dan mendukung kebijakan pemerintah pusat pada masa Konfrontasi Indonesia–Malaysia dengan menggerakkan sukarelawan di wilayah perbatasan.
Namun perubahan politik nasional pasca-peristiwa Gerakan 30 September mengubah perjalanan hidupnya. Kedekatannya dengan Presiden Soekarno membuat Oevaang Oeray ikut terdampak gelombang pergantian kekuasaan pada awal Orde Baru.
Ia sempat dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI.
Sejumlah kajian sejarah menyebut tuduhan tersebut masih menjadi perdebatan dan tidak pernah dibuktikan melalui proses pengadilan. Oevaang Oeray diketahui merupakan anggota Partindo, sebuah partai nasionalis yang pada masa itu memiliki kedekatan politik dengan Presiden Soekarno.
Pada 12 Juli 1966, Menteri Dalam Negeri Basuki Rachmat mengeluarkan keputusan pemberhentian dengan hormat terhadap Oevaang Oeray sebagai Gubernur Kalimantan Barat. Keputusan Presiden Nomor 207 Tahun 1966 kemudian diterbitkan pada 22 September 1966 untuk mengesahkan pemberhentian tersebut, sebelum masa jabatannya berakhir.
Masa transisi politik itu juga berdampak luas terhadap banyak kader Partai Persatuan Dayak dan aparatur sipil negara dari kalangan Dayak yang ikut tersingkir dari pemerintahan akibat tuduhan yang berkembang pada masa tersebut.
Setahun setelah pergantian kepemimpinan, Kalimantan Barat kembali dilanda gejolak melalui peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Mangkuk Merah. Konflik yang terjadi pada 1967 itu menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah provinsi tersebut dan meninggalkan luka mendalam bagi hubungan antaretnis.
Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray meninggal dunia di Pontianak pada 17 Juli 1986 dalam usia 63 tahun. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah politik Kalimantan Barat sekaligus pelopor kebangkitan politik masyarakat Dayak.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah mengusulkan nama Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray sebagai Pahlawan Nasional. Namun hingga saat ini, usulan tersebut masih belum memperoleh penetapan dari pemerintah pusat. (Red)





