Home / Petuah Leluhur / Aneh dan Unik

Aneh dan Unik

| Penulis: Dr. Mugeni

Saat ini, kita sedang memasuki suatu era yang aneh dan unik. Siapa saja yang bisa membuat atau berbuat sesuatu yang aneh dan unik, dia akan secepat kilat dikenal, populer dan dipuji, meskipun yang aneh itu belum tentu sesuatu yang benar dan baik.

Bila berhubungan dengan perilaku orang, aneh itu kalau sesuatu tidak biasa lagi dilakukan oleh orang lain. Atau unik itu bila mempunyai tampilan yang tidak biasanya. Orang unik atau orang aneh mirip-mirip meski berbeda definisi dan persepsinya.

Hebatnya, yang aneh dan unik itu punya nilai komersial yang tinggi. Coba lihat, yang aneh dan unik itu mendapat tempat yang “terhormat” dalam siaran televisi dan mendapat rating tinggi. Artis yang tampilannya aneh, unik, bahkan kontroversial justru punya nilai jual. Ini mirip seperti rumus berita yang dipegang oleh para jurnalis kita, bahwa “berita buruk itu adalah berita yang baik”.

Mirisnya, penilaian positif terhadap hal yang aneh dan unik itu juga berlaku untuk para pemegang status pemimpin publik. Orang akan suka dan memuji pemimpin yang rajin blusukan karena dianggap peduli dan memahami nasib rakyatnya. Orang menganggap figur publik yang rajin blusukan itu sebagai pemimpin yang aneh dan unik karena jarang dilakukan.

Ukurannya adalah datang dan melihat, bukan mengetahui dan peduli. Yang penting itu jabat tangan, bukan kebijakan yang dikeluarkan. Yang diperhatikan itu yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan. Terjebaklah kita dalam kepentingan-kepentingan sesaat dan membenarkan pragmatisme dangkal.

Kita juga menyanjung habis-habisan seorang bupati atau walikota, camat, kepala desa atau pejabat publik lainnya yang mengeluarkan surat edaran untuk berhenti bekerja dan melaksanakan salat pada waktunya. Padahal, itu normatif saja dan sudah sering diinstruksikan oleh pejabat lain meski tidak dalam bentuk formal.

Coba saja kalau ada pejabat tinggi yang melantunkan azan di masjid pasti sudah ramai diunggah di medsos sebagai pejabat yang luar biasa hebatnya meskipun kinerja di instansinya biasa saja. Banyak contoh lain yang tampil beda, aneh, unik yang mendapat apresiasi meskipun sesat substansi.

Intinya, buat dan berbuatlah yang unik dan aneh, karena ia mempunyai nilai jual (komersial yang tinggi) sebagai benda atau hasil seni yang membuat gembira hati. Janganlah berbuat yang aneh-aneh yang pada akhirnya membuat orang kecewa dan bersedih hati.

Good morning. Selamat pagi!

Bionarasi

Dr. H. Mugeni, S.H., M.H. lahir pada 4 Juli 1959 adalah seorang tokoh literasi di Kalimantan Tengah, dan dahulu pernah menjadi seorang birokrat. Jabatan yang pernah ia emban salah satunya adalah sebagai Penjabat Bupati Barito Selatan pada 2016–2017.

Kini menikmati hidup yang lebih hidup di perkebunannya di Sukamara, sembari giat berliterasi. Ia ketua Komunitas Penulis Lembaga Literasi Dayak.

About Admin

Check Also

Penuhi Panggilan DAD Jakarta, Rustono ‘Dewa Datuk’ Beri Klarifikasi dan Minta Maaf kepada Masyarat Dayak

Jakarta, detikborneo.com – Perkumpulan ‘Dewa Datuk’ yang di ketuai Rustono penuhi panggilan Dewan Adat Dayak …

Kota Pontianak Resmi Selenggarakan Naik Naik Dango Pertama Kalinya

Pontianak, detikborneo com – Acara Naik Dango untuk yang pertama kalinya di Kota Pontianak resmi …

Pawai Obor Pertama di IKN Diikuti Puluhan Peserta

Pawai Obor Pertama di IKN Diikuti Puluhan Peserta

Jakarta, detikborneo.com – Berlokasi di Desa Karang Jinawi, kecamatan Sepaku, kabupaten Penajam Paser Utara, Kepala …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *