Home / Petuah Leluhur / Bora’ Kodikng, Pisang Hutan Borneo

Bora’ Kodikng, Pisang Hutan Borneo

| Penulis: Drs. Herys Maliki

Orang Dayak pada umumnya jika bekalnya habis. Atau tidak membawa bekal sama sekali. Mereka tidak akan panik. Mengapa? Sebab banyak aneka makanan tersedia di hutan.

Dengan catatan, bisa mengenali mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak.

Salah satu kiat mustajab mengetahui bahwa buah tertentu bisa dimakan adalah dengan melihat. Apakah buah itu pernah dimakan binatang? Jika pernah, berarti aman! Makanlah! Niscaya tidak akan keracunan!

Salah satu buah hutan yang bisa dikonsumsi adalah pisang hutan. Orang Jangkang, rumpun suku Bidayuh, menyebutnya: bora’ kodikng.

Istilah umum/Bahasa Indonesia       : Pisang Monyet

Nama Ilmiah/Latin                             : Musa Balbisiana

Famili                                               : Musaceae (Pisang-Pisangan)

Genus                                                : Connarus

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. ×paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari yang disebut sisir.

Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan adalah sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.

Perlu disketahui. Bahwa istilah “pisang” juga dipakai untuk sejumlah jenis yang tidak menghasilkan buah konsumsi, seperti pisang abaka, pisang hias, dan pisang kipas. Artikel ini hanya membahas kerabat pisang penghasil buah konsumsi yang berkaitan.

Pisang yang dimaksud adalah pisang monyet alias pisang hutan. Entah mengapa, buah ini diberi nama seperti itu oleh warga kampung. Tapi jika dilihat dari logika, tidak heran jika dijuluki pisang monyet. Hal itu, karena pisang ini adalah makanan monyet di hutan, walau sering dimakan oleh musang kalau sudah matang. Sedangkan mengapa dijuluki pisang hutan, ya karena tumbuhnya di hutan.

Daging buahnya dipenuhi dengan biji. Dagingnya hanya sedikit. Hampir tidak ada yang bisa dimakan. Kita hanya akan melihat biji-biji yang memenuhi daging pisang monyet ini.

Cita rasanya manis.  Tidak kalah dengan pisang raja dan pisang ambon. Cuma, ya itu.

Bagaimana cara mengkonsumsinya? Hanya dihisap-hisap saja. Tidak bisa ditelan sebab banyak biji daripada dagingnya.

***

About Admin

Check Also

Penuhi Panggilan DAD Jakarta, Rustono ‘Dewa Datuk’ Beri Klarifikasi dan Minta Maaf kepada Masyarat Dayak

Jakarta, detikborneo.com – Perkumpulan ‘Dewa Datuk’ yang di ketuai Rustono penuhi panggilan Dewan Adat Dayak …

Kota Pontianak Resmi Selenggarakan Naik Naik Dango Pertama Kalinya

Pontianak, detikborneo com – Acara Naik Dango untuk yang pertama kalinya di Kota Pontianak resmi …

Pawai Obor Pertama di IKN Diikuti Puluhan Peserta

Pawai Obor Pertama di IKN Diikuti Puluhan Peserta

Jakarta, detikborneo.com – Berlokasi di Desa Karang Jinawi, kecamatan Sepaku, kabupaten Penajam Paser Utara, Kepala …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *