
Jakarta, detikborneo.com – Sudah berlangsung lebih dari dua bulan, kabar mengenai kemungkinan pengangkatan tokoh terbaik asal suku Dayak, Dr. Aswin Usop, dalam reshuffle kabinet tak kunjung menemukan kejelasan.
Menurut Dr. Andersius Namsi, Wakil Presiden Bidang Internal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), ini sudah menjadi pengalaman ketiga di mana harapan masyarakat Dayak seolah hanya dijanjikan namun tak pernah terwujud.
“Sudah tiga kali kami rasakan dipermainkan. Kali ini rasanya batas kesabaran Dayak mulai terasa, Sumber Daya Alam kami habis dikeruk, 81 tahun merdeka hanya jadi penonton, malu kami dengan leluhur Pejuang Kemerdekaan asal Putra Dayak seperti Tjilik Riwut dan Oevang Oeray” tegasnya.
Seusai Pemilu 2024, sejumlah tokoh Dayak sebenarnya sudah diajukan dan direkomendasikan untuk menduduki jabatan menteri. Namun, usulan tersebut kandas tanpa hasil tanpa penjelasan.
Kini, ketika harapan kembali muncul untuk kesempatan kedua, lagi-lagi hanya menjadi angin lalu yang tak membawa kepastian.
Menurut pandangan MADN, sikap ini seolah menunjukkan bahwa pihak penguasa di negeri ini menganggap ringan peran serta dukungan besar yang telah diberikan masyarakat Dayak demi bangsa dan keberhasilan pemilihan presiden sebelumnya.
“Jangan sampai hal ini menjadi pengalaman ketiga yang mematahkan harapan Dayak. Jika terus diperlakukan seperti ini, dengan berat hati kami katakan: Dari pada terus dijanji-janjikan tanpa bukti, lebih baik kami usulkan Referendum di PBB dan Siap kibarkan saja Borneo Raya,” pungkas Dr. Andersius dengan nada tegas namun tetap menjaga ruang dialog.




