
Bulungan, detikborneo.com — Sebuah kisah luar biasa datang dari perbatasan Kalimantan Utara dan Serawak, Malaysia. Marthin Billa, putra asli Suku Dayak Kenyah yang lahir di desa terpencil, kini mengenang kebanggaan tak terlupakan: tepat 53 tahun silam, pada 17 Agustus 1973, ia berdiri di halaman Istana Merdeka Jakarta sebagai bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka — salah satu dari dua putra-putri Suku Dayak pertama yang mewakili Kalimantan Timur.
Awal Perjalanan dari Desa di Ujung Negeri
Marthin Billa lahir tahun 1954 di Nahakramo, wilayah Apau Kayan — desa kecil di perbatasan Kalimantan Utara dengan Serawak, Malaysia. Kemudian pindah ke Desa Long Tungu, Kabupaten Bulungan, yang saat itu masih masuk wilayah Provinsi Kalimantan Timur.
Pendidikan pun ditempuh dengan penuh perjuangan:
- 1960 masuk Sekolah Rakyat, lulus tahun 1967
- Lulus SMP Negeri 1 Tanjung Selor tahun 1971
- Masuk SMA Persiapan Negeri 1 Tanjung Selor tahun 1972
Seleksi Tak Terduga: Anak Sekolah Swasta Mengalahkan Utusan Kota
Tahun 1973, dibuka seleksi calon Paskibraka untuk seluruh tingkat SMA se-Kabupaten Bulungan. Marthin terpilih menjadi salah satu calon yang dikirim mengikuti seleksi tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

“Saya sama sekali tak bermimpi akan lolos. Bagaimana mungkin anak dari sekolah swasta, yang datang dari ribuan kilometer jauhnya dari Samarinda, bisa bersaing dengan utusan kabupaten dan kota besar yang jauh lebih maju?” kenang Marthin penuh haru.
Namun kenyataan berkata lain. Marthin Billa terpilih menjadi salah satu dari dua utusan Kalimantan Timur, bersama Erlen Tripena Lenjau — yang juga putri Suku Dayak asal Bulungan. Maka tercatatlah sejarah: mereka berdua adalah putra-putri Suku Dayak pertama yang mewakili Kalimantan Timur menjadi Paskibraka.
Latihan Disiplin, Persaudaraan Se-Indonesia
Berangkatlah Marthin ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan dan latihan selama satu bulan penuh. Latihan fisik, mental, teori, baris-berbaris hingga kepramukaan digelar siang dan malam. Para pelatih pun tokoh-tokoh ternama: Bapak H. Husien Mutahar, Ibu Bunakim, Kak Idik Sulaiman, serta para pelatih dari TNI.
Diasramakan bersama rekan-rekan dari seluruh Indonesia — saat itu baru berjumlah 26 provinsi — Marthin merasakan kedisiplinan tinggi yang dibalut keakraban dan kegembiraan persaudaraan. Dua minggu latihan di kawasan Slipi, Jakarta, dan satu minggu terakhir latihan rutin di halaman Istana Merdeka bersama pasukan dari empat angkatan bersenjata.
Puncak Kebanggaan di Hadapan Presiden Soeharto
Hari bersejarah pun tiba. Dengan bangga dan penuh haru, Marthin melaksanakan tugas kenegaraan di hadapan Presiden Republik Indonesia, Jenderal Soeharto, serta jutaan mata rakyat Indonesia dan dunia. Usai pengibaran bendera, seluruh anggota Paskibraka Angkatan ke-5 tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia — tugas mulia untuk negara telah terlaksana dengan baik.

Setelah upacara, Marthin dan rekan-rekan menerima penghargaan dan hadiah langsung dari Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto: pakaian, kain batik, pulpen bertuliskan nama Presiden dan Ibu Negara, serta buku kenangan. Pula ucapan terima kasih dan cenderamata dari Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud, Menteri Penerangan Mashuri, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Semangat untuk Generasi Penerus
“Kebanggaan yang diberikan negara ini menjadi pendorong terkuat bagiku untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi bagi bangsa yang kita cintai,” ujar Dr. Drs. Marthin Billa, MM.
Perjalanan ilmu pun terus ditempuh: lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Samarinda, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman Samarinda, meraih Magister Manajemen di Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS) Jakarta, hingga meraih gelar Doktor di Universitas Brawijaya Malang.
Marthin Billa mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak tahun 1979 hingga pensiun tahun 2011 dengan pangkat terakhir Pembina Utama, Golongan IV/E. Ia kemudian dipercaya memimpin Kabupaten Malinau Kalimantan Utara selama dua periode, menjabat Anggota DPD RI selama tiga periode dan masih aktif hingga kini, serta menjabat sebagai Presiden Ketiga Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) — organisasi induk masyarakat Dayak se-Kalimantan.
Kepada seluruh generasi muda Indonesia, khususnya putra-putri Suku Dayak, ia berpesan: “Berlombalah meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Jangan pernah merasa terpencil atau tertinggal. Buktikan bahwa dari manapun kita berasal, kita mampu bersaing dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 — Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur.” (Lawadi)





