25.3 C
Singkawang
More
    BerandaBudayaMengapa Orang Dayak Bertelinga Panjang?

    Mengapa Orang Dayak Bertelinga Panjang?

    | Penulis: R. Masri Sareb Putra

    Telinga panjang bagi orang Dayak tanda budaya. Membedakannya dengan orang utan atau kera. Jangan salah persepsi!

    City Walk, Jakarta, 2018.

    Matahari yang memanasi bumi Jakarta seakan ilusi. Sebab kami di ruangan berpendingin itu tak merasakannya. Sebuah sudut. Masih bilangan Jalan Sudirman. Di Star Buck. Sembari nyeruput kopi. Obrolan siang itu berujung pada sebuah buku. Yang mengabadikan kisah manusia Dayak bertelinga panjang.

    Sahabat saya itu bukan Dayak asli. Namanya: Ati Bachtiar. Ia menunjukkan babu –bakal buku– kepada saya. “Gimana ini, bang?”

    “Go ahead!” kata saya.

    “Tentang isinya?”

    “Jika merupakan hasil penelitian kamu, pede saja!”

    Jika tidak ada lagi manusia Dayak bertelinga panjang. Apakah ciri fisik yang membedakannya dari monyet dan orangutan?

    Maka terbitlah buku luks itu. Diberi judul Jejak Langkah Telinga Panjang. Full color. Kertas luks. Putih bersih. Yang secara visual menarasikan bagaimana orang Dayak bisa bertelinga panjang, di masa lampau.

    Baca juga: Tarian Ngayau: Makna dan Filosofi di Baliknya

    Disebut “masa lampau”, sebab kini pemandangan itu telah amat langka. Satu dua saja lagi manusia Dayak bertelinga panjang. Anak-anak muda, sudah tidak lagi.

    ***

    SALAH satu manusia Dayak bertelinga panjang itu: Simson.

    Ia seorang Kenyah. Usia kini 71 tahun. Boleh dibilang, penjaga rumah betang / lamin di Pampang, Samrinda, Kalimantan Timur.

    “Telinga berlubang ini ada maknanya,” terangnya.

    “Kalau laki-laki, tidak panjang berjuntai. Pendek saja. Sebab ia ke hutan. Jika nanti panjang, nyangkut di dahan kayu atau akar-akaran, atau perdu,” terangnya.

    Saya mendengarnya dengan saksama. Di depan lamin desa Pampang (21/05-2021), Simson meneneruskan. “Yang wanita, karena tinggal di rumah, panjang telinganya.”

    Lalu apa filosofi manusia Dayak bertelinga panjang?

    “Untuk membedakannya dengan orang utan atau monyet,” terang Simson.

    Saya mengagumi jawabannya. Selain tingkah laku dan sikap. Ternyata banyak ide orang Dayak membedakan dirinya dengan orang utan dan monyet.

    Salah satunya, melalui: telinga panjang.

    Nah, nanti. Ke depan. Jika tidak ada lagi manusia Dayak bertelinga panjang. Apakah ciri fisik yang membedakannya dari monyet dan orangutan?

    ***

    Bionarasi

    R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

    Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

    Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

    Artikulli paraprak
    Artikulli tjetër

    latest articles

    explore more

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini