
Singkawang, detikborneo.com – Viral di media sosial sebanyak 51 calon penumpang sempat terlantar di terminal Bandara Singkawang setelah penerbangan menuju Jakarta dibatalkan pada Minggu, 4 Oktober 2026 kemarin.
Puluhan penumpang yang sudah datang ke bandara dan menjalani proses check-in mendadak harus menghadapi pembatalan penerbangan akibat kabut asap yang kembali mengganggu jarak pandang. Kondisi ini sontak menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan besar: mengapa para penumpang harus mengetahui pembatalan setelah berada di bandara?.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian penumpang disebut tidak mendapatkan pemberitahuan lebih awal mengenai pembatalan tersebut. Mereka sudah mempersiapkan perjalanan, mengeluarkan biaya menuju bandara, bahkan telah masuk ke proses keberangkatan, namun akhirnya harus kembali tanpa kepastian yang jelas.

Jika kondisi cuaca dan jarak pandang memang sudah menjadi kendala, publik tentu mempertanyakan sejauh mana sistem informasi dan koordinasi antara maskapai, pengelola bandara, serta pihak terkait berjalan sebelum calon penumpang datang ke terminal. Puluhan penumpang pun kebingungan mencari kendaraan untuk kembali pulang.
Sebagian di antaranya bahkan hanya membawa uang secukupnya karena tidak pernah menyangka penerbangan mereka akan dibatalkan secara mendadak. Awak media kemudian mencoba mendatangi Bandara Singkawang pada Senin, 5 Oktober 2026, untuk melihat langsung kondisi pelayanan dan aktivitas penumpang di lapangan.
Dari hasil pantauan awak media, terlihat sekitar 22 calon penumpang berada di area Bandara Singkawang dan telah menunggu sejak sekitar pukul 10.00 WIB. Salah satu calon penumpang, Budiana, kembali meluapkan kekecewaannya atas pembatalan penerbangan yang dialami para penumpang di Bandara Singkawang. Ia mempertanyakan kondisi pelayanan bandara sekaligus meminta perhatian Wali Kota Singkawang terhadap persoalan yang langsung dirasakan masyarakat.
“Bandara apa ini? Mana Wali Kota Singkawang? Di media macam iya-iya saja Wali Kota mempromosikan bandara, tetapi sekali ada masalah seperti ini, masyarakat yang akhirnya kebingungan dan harus menanggung dampaknya sendiri,” tegas Budiana.
Menurut Budiana, pemerintah daerah tidak cukup hanya mempromosikan keberadaan dan penggunaan Bandara Singkawang. Ketika masyarakat mengalami persoalan dalam perjalanan, pemerintah dan pihak terkait juga harus hadir memastikan masyarakat mendapatkan informasi serta solusi yang jelas. “Jangan hanya bagus ketika berbicara di media dan mengajak masyarakat menggunakan bandara.
BACA JUGA : Penerbangan Perdana Maskapai TransNusa di Bandara Singkawang Berlangsung Sukses
Ketika ada persoalan, masyarakat jangan ditinggalkan begitu saja. Kami ini sudah membeli tiket, datang ke bandara, menunggu dari pagi, kemudian penerbangan dibatalkan dan kami diarahkan ke Supadio Pontianak. Biaya transportasi dan makan juga harus kami pikirkan sendiri,” ujarnya.
Budiana juga menyampaikan imbauan keras kepada masyarakat di wilayah Singkawang, Bengkayang dan Sambas agar tidak menggunakan jasa penerbangan dari Bandara Singkawang sampai persoalan pelayanan dan kepastian penumpang benar-benar mendapatkan penjelasan.
“Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Singkawang, Bengkayang dan Sambas, untuk mempertimbangkan kembali menggunakan jasa penerbangan dari Kota Singkawang sebelum ada kepastian pelayanan dan tanggung jawab yang jelas kepada penumpang. Baru menghadapi persoalan pembatalan seperti ini saja masyarakat sudah kebingungan, bagaimana kalau terjadi persoalan yang jauh lebih serius?” katanya.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan semata-mata karena penerbangan dibatalkan, sebab keselamatan penerbangan tetap menjadi hal utama. Namun, menurutnya, keselamatan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak dan kepastian penumpang.
“Kalau memang kabut asap membuat pesawat tidak bisa terbang, kami bisa memahami. Tetapi setelah dibatalkan, siapa yang bertanggung jawab terhadap penumpang? Jangan masyarakat hanya disuruh pindah ke Supadio, sementara biaya dan kebutuhan selama perjalanan ditanggung sendiri. Kami meminta Wali Kota Singkawang dan pihak maskapai turun tangan memberikan penjelasan kepada masyarakat. Jangan hanya bandara dipromosikan ketika semuanya berjalan baik, tetapi ketika masyarakat menghadapi masalah justru Walikota bersembunyi” tegasnya.
Namun, harapan mereka untuk berangkat kembali harus pupus setelah jadwal penerbangan pada hari tersebut dibatalkan oleh pihak maskapai. Kondisi saat ini kami kembali memperlihatkan bahwa persoalan pembatalan penerbangan bukan hanya terjadi satu hari sebelumnya, tetapi masih berlanjut dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat yang sudah membeli tiket dan mempercayakan keselamatan serta perjalanan kepada layanan penerbangan justru dibiarkan menanggung sendiri dampak pembatalan tanpa informasi dan solusi yang jelas,” tegasnya.
Menurutnya, peristiwa seperti ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pihak maskapai, pengelola Bandara Singkawang dan instansi terkait. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang cepat, transparan dan kepastian mengenai apa yang harus dilakukan ketika penerbangan dibatalkan. Kalau penerbangan memang tidak memungkinkan akibat kabut asap, jangan masyarakat yang dijadikan korban ketidakjelasan informasi. Publik kini patut mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab memastikan para penumpang mendapatkan pemberitahuan, pelayanan, serta solusi yang layak ketika penerbangan dibatalkan secara mendadak.
“Saya meminta kepada Kementerian Perhubungan untuk segera menutup Bandara Singkawang, karena jika kondisi seperti ini terus terjadi, kejadian serupa dikhawatirkan akan kembali dialami dan dirasakan oleh masyarakat.”tutupnya. (Rin/Red).





