Home / Berita / Telinga Panjang Wanita Dayak Go Internasional Ke Belanda, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik Siap Mendukung

Telinga Panjang Wanita Dayak Go Internasional Ke Belanda, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik Siap Mendukung

Telinga Panjang Wanita Dayak Go Internasional Ke Belanda, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik Siap Mendukung

Jakarta, detikborneo.com -Penduduk asli pulau Kalimantan adalah Suku Dayak tidak bisa terbantahkan oleh teori, analisa dan pendapat para ahli maupun pakar intelektual Indonesia maupun dunia.

Keanekaragaman tumbuhan hayati dan binatang yang hidup dialam bebas serta dibarengi kekayaan warisan budaya yang sungguh menjadi Daya tarik istimewa yang ada dipulau Borneo sebutan para turis luar negeri tak aneh jika Antonius Nieuwenhuis, seorang dokter militer Belanda, melakukan tiga kali perjalanan ekspedisi kepedalaman Kalimantan: pada tahun 1893-1894; tahun 1896-1897; dan tahun 1898-1900.

Nieuwenhuis menjelajahi Sungai Kapuas,
Kapuas Hulu dan Mahakam, dari Pontianak ke
Samarinda. Nieuwenhuis membuat catatan penting tentang kehidupan masyarakat Dayak selama ekspedisi, termasuk deskripsi tentang orang Dayak dengan tato dan telinga panjang wanita Dayak.

Ekspedisi Nieuwenhuis adalah seorang etnologi yang telah menghasilkan informasi penggunaan fotografi sebagai metode analisis kebudayaan, tata hidup, pengaturan dan komunikasi dalam kehidupan sehari- hari. Elemen-elemen fotonya bisa menggambarkan struktur sosial, kelas sosial, dan simbol-simbol budaya lainnya, hasil karya ini disebut Etnofotografi.

Nieuwenhuis dalam pesan Etnofografi menggunakan fotografi sebagai medium penyampai pesan tentang sejarah suku Dayak
setempat, juga membuat kamus bahasa Busang, peta-peta yang akurat, koleksi geologi dan botani yang penting.

Nieuwenhuis termasuk orang yang mempopulerkan orang Dayak di kalangan internasional khususnya di Eropa dan Belanda. Kegiatan budaya saat itu, seperti ritual tanam dan panen padi melalui tarian Hudoq, kerajinan rakyat, pesta adat masih dijalankan hingga saat ini, diantaranya Hudoq Pakayang yang diselenggarakan setiap tahun dari desa ke desa di Kabupaten Mahakam Ulu.

Untuk mengenang kisah perjalanan Antonius Nieuwenhuis yang telah menorehkan sejarah keberadaan Masyarakat Adat Dayak di tanah Borneo dengan hasil karya poto-potonya dalam pameran ini mengingatkan kembali akar budaya yang ditemukannya yang sudah ratusan tahun masih tetap ada sampai saat ini.

Museum Sophiahof di Den Haag Belanda mengadakan pameran Etnofotographi pada tanggal 31 Mei – 30 Juni 2024 dan pameran kebudayaan Dayak pada tanggal 8-9 Juni 2024 juga diadakan pada Taman Indonesia Zoo di Kallenkote Belanda dengan agenda kegiatan dengan tema Long Ears through the Lens dan tidak ketinggalan poto graper ATI Bahtiar yang telah melakukan riset tentang keberadaan Telinga Panjang wanita Dayak yang sejak 7 (tujuh) tahun lalu terdata 78 wanita Dayak telinga panjang saat ini tersisa 48 orang sisanya, sedangkan 30 orang sudah meninggal karena usia dan belum ada satupun keturunannya yang meneruskan tradisi kemungkinan tradisi memanjangkan telinga wanita Dayak ini diambang kepunahan.

Bersyukur ATI Bahtiar telah membuat kumpulan poto-poto telinga panjang wanita Dayak sudah terdokumentasikan dengan baik hingga menjadi 3 buku dengan judul: Telinga Panjang Mengungkap Yang Tersembunyi, Jejak Langkah Telinga Panjang dan Melacak Jejak Telinga Panjang.

ATI BACHTIAR adalah Etnofotographer Indonesia asal Suku Sunda dan penulis buku Telinga Panjang di Borneo. Karyanya mencerminkan kecintaannya pada fotografi dan rasa syukurnya sebagai survivor kanker. Bukubukunya menampilkan foto-foto perempuan Dayak dengan Telinga Panjang, pewaris sejarah generasi terakhir Telinga Panjang di Kalimantan. (IG @atibachtiar).

Yani Saloh Ketua Paniti menyampaikan: “Dari karya poto-poto ini rencananya akan ikut dipamerkan nantinya di Den Haag Belanda bahkan tokoh wanita Dayak telinga panjang Nenek Yek Lawin dari Dayak Bahau asal kampung Long Isun Kecamatan Long Pagangi Kabupaten Mahakam Hulu yang sudah usia 70 Tahun ikut dihadirikan bersama para pengiat seni budaya Dayak Uyau Moris Pemain musik Sape & Suling Dayak Kenyah asal Kalimantan Utara, Laetania Belai Djandam Artis Pemain Sape dan Story Telling, Din Hibau Pembuat Film & Penari Hudoq Dayak Bahau Busang Kalimantan Timur dan akan tampil juga Rahma & Anna Verhagen dariWahana Budaya Nusantara Densgroep Diaspora Dayak di Belanda ikut meramaikan acara di ajang Festival Budaya Indonesia pada 2 Juni 2024 acara Tong Tong Fair ini sudah dilakukan setiap tahun sejak tahun 1959 di Belanda.

Yani Saloh adalah Putri Dayak Ngaju yang banyak melanglang buana tinggal di Eropa sebagai aktivis Penggiat pelestarian budaya dan konservasi hutan, berkeyakinan budaya dan jaga hutan memberikan dampak positif bagi Masyarakat,
Keanekaragaman Hayati dan menjaga stabilitas Iklim. Keyakinan ini didedikasikan melalui dukungan bagi Masyarakat Adat Dayak Iban Sungai Utik yang memperoleh penghargaan Kalpataru Indonesia dan Equator UNDP pada tahun 2019, serta Gulbenkian for Humanity pada tahun 2023. (IG & Linkedin Yani Saloh).

Sebagai team inti Laetania Djandam juga Aktivis lingkungan dari Dayak Ma’anyan-Ngaju yang aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat dan generasi muda untuk keadilan iklim, melalui advokasi di level
nasional dan internasional, seperti pada Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim dan Zona Aksi SDG PBB (IG belai_a_belian; Linkedin Laetania Belai Djandam ).

Pada senin (22 /04/2024) dicaffe dia.lo.gue Kemang Jakarta Selatan Panitia beraudensi dengan PJ Gubernur Kalimantan Timur Akmal Malik sangat mersepon positif kegiatan yang akan dilakukan mengikuti pameran Budaya di Belanda dan menyampaikan juga untuk acara-acara kebudayaan Internasional ini dibuat juga di Kalimantan Timur dengan mengundang tamu-tamu budaya dari Luar Negeri sebagai amanah jabatan saat ini siap mendukung, ucapnya.

Jangan kita hanya bisa ikut acara orang tapi bagaimana caranya kita juga buat acara budaya secara Internasional karena Kaltim sudah menjadi Lokasi Ibu Kota Nusantara, tutupnya.

Lawadi Nusah Sekum Dewan Adat Dayak (DAD) DKI Jakarta dan Sebagai Humas Media Center Kantor Sekretariat MADN mengapresiasi Panitia yang sudah memperkenalkan aset budaya Dayak kekancah Internasional. Karena Telinga Panjang Wanita Dayak merupakan bagian dari Warisan Budaya Dunia yang menampilkan fisik unik perempuan Dayak mirip dengan suku leher panjang Padaung di Myannmar, Tradisi piring bibir Suku Mursi di Ethiopia dan suku-suku lain di Afrika Utara, ucapnya. (Bajare007).

About Admin

Check Also

Idul Adha 1445 H, Prabowo Salat di Dekat Kediamannya

Jakarta, detikborneo.com – Menteri Pertahanan (Menhan) RI sekaligus Presiden Terpilih Prabowo Subianto menunaikan ibadah salat Idul …

Presiden Jokowi diagendakan Shalat Idul Adha di Semarang

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diagendakan beribadah Shalat Idul Adha 1445 Hijriah di …

Kementerian PUPR Percepat Penyelesaian SPAM Sepaku Untuk Air Minum IKN

Jakarta, detikborneo.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mempercepat penyelesaian Sistem Penyediaan Air …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *