
Sintang, detikborneo com – Sebuah rekaman video keributan di warung kopi atau kafe menjadi perbincangan hangat warga Sintang dan media sosial pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam video berdurasi beberapa menit itu, terlihat jelas sosok pemuda yang dikenal sering membuat kegaduhan di Sintang, bernama Fathurruzi sering disebut Dedeh Al Sintangi, sedang melakukan interogasi secara emosional kepada Panglima Pajaji (Lucki). Suasana semakin memanas saat Dedeh terlihat menggunakan jari telunjuknya berulang kali menusuk, menyodok, serta menonjok-nonjok bagian kepala dahi Lucki dengan kasar saat berbicara keras kepadanya.
Peristiwa di tempat umum ini sebenarnya adalah puncak dari persoalan yang sudah mengendap dan menjadi buah bibir publik sejak beberapa minggu lalu. Semuanya bermula dari aksi unjuk rasa yang terjadi sebelumnya di wilayah Sintang. Saat itu diduga Anggota Dedeh membuat video yang sempat viral dengan pernyataan sangat kontroversial, provokatif, dan dianggap berlebihan.
Dalam video terdahulu itu, Anggota Dedeh terlihat berani memegang dan mengacungkan senjata tajam sejenis samurai, sambil berorasi keras dan melontarkan ancaman yang menantang. sebelumnya ia melarang masyarakat umum membawa mandau atau senjata tajam saat berorasi atau demonstrasi, namun tindakannya sendiri justru sebaliknya.
Dengan nada tinggi Anggota Dedeh berujar: “Jangan sampai barang ini terhunus! Jika polisi dan pemerintah tidak bisa menertibkan keadaan, dan kalau mereka bisa membawa 500 orang, maka saya akan membawa massa sebanyak 5.000 pasukan!” Ujarnya.
Pernyataan dan tindakan memamerkan senjata itulah yang memicu ketidaknyamanan banyak pihak, termasuk Lucki. Saat itu, Lucki (Panglima Pajaji) merupakan pihak yang lebih dulu bersuara dan memprotes sikap diduga anggota Dedeh. Lucki menilai ucapan pembuat vidio ini berlebihan, memprovokasi, serta memecah belah persatuan masyarakat adat, apalagi ucapan itu disertai aksi memegang senjata tajam. Lucki juga menyoroti sikap Anggota Dedeh Cs yang kontradiktif: melarang orang lain, tapi dirinya sendiri berbuat demikian.
Perselisihan pendapat ini kemudian terbawa hingga peristiwa demonstrasi besar-besaran kemarin di Sintang, yang mengusung tuntutan hak atas pengembalian sertifikat tanah milik Gereja Katolik. Lucki diketahui hadir dan ikut dalam barisan massa aksi damai tersebut.
Setelah demonstrasi selesai, Lucki dipangil mampir di sebuah kafe atau warung kopi anak buahnya ditanah diluar, Tanpa disangka, Dedeh—sosok yang sejak awal membuat kegaduhan dan menjadi sumber masalah itu—ternyata juga berada di lokasi yang sama. Pertemuan yang sudah direncanakan ini yang memicu keributan kembali.
Dalam rekaman video 18 Mei 2026 yang kini viral, terlihat Fathurruzi alias Dedeh yang datang dan langsung mengambil peran untuk menginterogasi Agustinus Luki. Dedeh terlihat sangat emosional terkait postingan Lucki terhadap pernyataan dan videonya akan menenda adat Saat berbicara dengan nada tinggi dan menuduh, Dedeh tidak segan-segan menggunakan telunjuk jarinya untuk berulang kali menusuk, menyodok, dan menonjok-nonjok bagian kepala di dahi Lucki berulang kali, seolah ingin menekankan ucapannya dengan kekerasan fisik ringan. Lucki dalam video tersebut terlihat berusaha menjawab namun lebih banyak menerima perlakuan kasar itu.
Marselinus Mian Panglima Tambak Baya: Protes Keras dan Tidak Terima Penyelesaian Sepihak
Merespons kejadian memalukan bagi masyarakat adat ini, muncul sikap tegas dan protes keras dari Marselinus Mian alias Panglima Tambak Baya, yang juga menjabat sebagai Panglima Tertinggi Mangkok Merah Borneo Bersatu. Sosok yang dikenal masih merupakan titisan Panglima Burung ini menyatakan ketidakterimaannya atas perlakuan yang dialami oleh saudaranya, Panglima Pajaji.

“Saya sangat protes keras dan sama sekali tidak terima atas kejadian yang dialami oleh Panglima Pajaji. Bagaimana mungkin seorang pemuka adat bisa diperlakukan seperti itu di tempat umum oleh oknum yang memang dikenal suka bikin kegaduhan,” tegas Mian Panglima Tambak Baya.
Tidak hanya memprotes peristiwa pemukulan tersebut, Mian Panglima Tambak Baya juga menyoroti langkah penyelesaian yang diambil oleh Pemerintah Daerah Sintang. Ia menegaskan ketidaksetujuannya terhadap proses perjanjian damai yang dilakukan oleh Pemda Sintang, karena menurutnya penyelesaian itu dilakukan secara sepihak dan tidak mengedepankan proses hukum adat yang sesungguhnya.
- Baca juga: Wapres MADN apresiasi Pemuda Dayak Kalbar berhasil Uji materi UU IKN di Mahkamah Konstitusi RI
“Jika ada masalah adat, selesaikanlah dengan cara adat, hukum adat, dan ranah adat. Jangan buat kesepakatan damai di atas kertas saja tanpa melibatkan proses adat yang benar. Itu hanya akan memendam masalah, bukan menyelesaikannya. Kami tidak terima cara seperti itu,” tandasnya dengan nada tegas.
Menilik rangkaian kejadian ini, banyak pihak menyoroti kelalaian para pemangku adat dan pengurus organisasi adat secara umum. Masalah awal saat Dedeh membuat video berisi ancaman, pamer senjata, dan tantangan mengerahkan 5.000 pasukan, seharusnya sudah ditindaklanjuti dan diselesaikan secara adat maupun surat menyurat. Namun karena dibiarkan tanpa penyelesaian yang tuntas, benih konflik tumbuh terus hingga meledak di ruang publik.
Banyak yang mempertanyakan: apakah para pengurus dan pemangku adat lupa akan akar masalah dari sosok Dedeh yang memang dikenal sering membuat kegaduhan ini? Tidak ada langkah mediasi, tidak ada teguran, sehingga masalah menumpuk dan akhirnya meledak.
Ditegaskan kembali oleh pihak yang mendampingi Lucki, bahwa posisi Lucki dalam kasus ini sama sekali tidak sedang dalam posisi bersalah atau membela kesalahannya, melainkan Lucki adalah pihak yang sejak awal menanggapi dan memprotes sikap Dedeh. Justru Dedeh-lah yang awalnya memicu keributan dengan ancaman senjata dan massa, lalu kini terlihat berani menginterogasi serta menonjok kepala orang yang memprotesnya di tempat umum.
Peristiwa ini menjadi pelajaran nyata, bahwa jika tindakan provokasi dari oknum pembuat onar tidak ditangani secara serius dan tegas sejak awal oleh pemangku kepentingan, serta jika penyelesaian masalah adat tidak dikembalikan ke ranah adat, maka ketertiban dan keharmonisan masyarakat akan terus terganggu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan lebih lanjut dari Pemerintah Daerah Sintang terkait protes keras yang disampaikan oleh Mian Panglima Tambak Baya. ( Bajare007 ).





