
Samarinda, detikborneo.com – Suasana pelantikan pengurus Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) di Lamin Etam, Aula Olah Bebaya, Komplek Rumah Jabatan Gubernur , Sabtu (16/5/2026), berlangsung penuh makna sekaligus meninggalkan catatan tegas. Kegiatan dihadir Kapolda, Waka Polda Kaltim, direktur intelkam, wakil walikota Samarinda, perwakilan prokompinda serta para tokoh masyarakat, tokoh paguyuban dan tokoh adat namun sayang acara ini tidak dihadiri oleh Gubernur maupun Wakil Gubernur Kaltim, sebuah ketidakhadiran yang memicu protes keras dan peringatan langsung dari para tokoh adat.
Atas ketidakhadiran pucuk pimpinan provinsi, Asisten I sekaligus PLT Kepala Kesbangpol, Andi Frananta Sembiring, menyampaikan permohonan maaf secara resmi dan sebelum kata sambutan Ia dipodium turun sembah sujud meminta maaf kepada Jaang, sampaikan saya bukan main hp tapi menghubungi Pak Gubernur dan menjelaskan Gubernur sedang menjalani tugas dinas di Jakarta, sedangkan Wakil Gubernur memiliki agenda kegiatan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Sementara itu, keberadaan Sekretaris Daerah juga tidak diketahui karena belum ada informasi resmi mengenai kegiatannya.
Ketidakhadiran ini langsung disorot Ketua Umum PDKT, Dr. Yulianus Henock Sumual yang juga anggota DPD RI dalam sambutannya. Ia mengingatkan agar pimpinan daerah tidak menjauhi masyarakat adat Dayak. “Ambil hati masyarakat, jangan sampai dijauhi. Ingat sejarah tahun 2006, Demo melengserkan Suwarna Abdul Fattah Gubernur Kaltim jangan sampai terulang kembali ketika masyarakat Dayak turun tangan dan meminta pejabat tinggi diganti, Bila program pemerintah tidak Pro kepada Rakyat, kami tidak akan segan-segan untuk melengserkan dan menunut Pemerintah mundur dari jabatan,” tegasnya dengan nada serius.
Tegasan yang jauh lebih keras disampaikan Ketua Dewan Pembina PDKT, Dr. H. Syaharie Jaang, SH., M.Si., M.H. Bahkan, ia sempat menegur langsung PLT Kepala Kesbangpol yang terlihat sedang bermain ponsel saat pidato berlangsung.

Membuka sambutan dengan salam khas adat “Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata”, Syaharie menegaskan bahwa kalimat itu adalah doa dan harapan masyarakat Dayak akan keadilan. Ia mempertanyakan ketimpangan sikap pemerintah: “Mengapa pada kegiatan paguyuban lain Gubernur hadir, namun di sini tidak? Kami masih ada saksi sejarah di ruangan ini. Lihat amplop bertuliskan FDB – Forum Dayak Bersatu – yang pernah mengguncang pejabat di Lamin Etam ini dulu.”
Syaharie juga mengingatkan agar kekuatan dan potensi masyarakat Dayak tidak dipandang sebelah mata. “Jangan nilai kami kecil. Pemuda-pemudi Dayak mampu mengguncang Indonesia bahkan dunia. Lihat buktinya: Ocha yang menang lomba cerdas cermat 4 Pilar MPR, itu bukti anak muda Dayak tak bisa diremehkan dan berani berjuang atas keadilan, mohon maaf saya ini juga pernah menjabat sampai jam 2 subuh masih melayani masyarakat,” ujarnya penuh semangat.

Kepada generasi muda Dayak, ia berpesan agar terus berjuang menuntut hak-hak mereka. “Alhamdulillah, anak Bapak Nesen baru saja lolos seleksi Akmil. Ada juga adik kita Julita Rista Lestari asal SMA 1 Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim yang lolos ssleksi calon Paskibraka tingkat nasional dan mohon doanya juga supaya lolos menjadi anggota Paskibraka tahun 2026 di Jakarta. Ini bukti kami punya kualitas, dan keberadaan kami harus dihargai,” pungkas Syaharie Jaang, diiringi tepuk tangan peserta yang memenuhi ruangan. ( Bajare007)





