
Balikpapan, detikborneo.com – Dunia akademik, khususnya ilmu akuntansi, diharapkan tidak lagi terkurung dalam “menara gading”, melainkan turun menyentuh realitas masyarakat dan kearifan lokal. Hal ini dikemukakan Dr. Yudea F Anai, Dosen Program Studi S1 Akuntansi FEB Universitas Balikpapan yang juga merupakan keturunan Suku Dayak Ma’anyan, dalam sebuah tulisan reflektif bertajuk “Membumikan Riset Akuntansi, Belajar dari Kearifan Dayak Ma’anyan”.
Di tengah gempuran transformasi besar Kalimantan Timur menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), Dr. Yudea menyoroti paradoks riset yang sering kali terlepas dari kenyataan sosial-ekonomi. Menurutnya, akuntansi tak boleh hanya berkutat teori kaku atau meniru konsep asing yang kurang kontekstual. Justru, nilai-nilai leluhur tanah Kalimantan menyimpan jawaban relevan untuk akuntansi modern, sosial, dan lingkungan.
Nilai Lokal: Keseimbangan Alam & Gotong Royong
Masyarakat Dayak Ma’anyan memiliki falsafah hidup yang menempatkan keseimbangan alam dan kebersamaan di posisi terdepan. Konsep Ume (ladang) bukan sekadar lahan usaha, melainkan entitas terpadu antara ekonomi, ekologi, dan spiritual yang dikelola penuh tanggung jawab. Nilai Pangarawah (gotong royong) serta musyawarah mufakat pun menjadi wujud akuntabilitas sosial yang mendalam—konsep yang sering terabaikan dalam praktik akuntansi arus utama.
Penulis menekankan perlunya perubahan paradigma: riset tidak boleh hanya mengabdi pada kepentingan korporasi besar, namun harus peduli pada sektor informal dan komunitas adat. Diusulkan model akuntansi yang inklusif, sederhana, dan partisipatif—cocok untuk BUMDes maupun masyarakat adat, tanpa mematahkan budaya asli.
Hilirisasi Riset Menjadi Solusi Nyata
Universitas Balikpapan bertekad menjembatani tembok kampus dan dunia luar lewat pendekatan riset partisipatif (action research). Hasil kajian diharapkan tak hanya berupa jurnal ilmiah, melainkan kebijakan yang bisa diterapkan, model bisnis lokal, dan pemberdayaan ekonomi warga. Riset tentang potensi ekonomi adat, audit lingkungan berbasis warga, atau pengelolaan modal komunitas menjadi arah yang diusulkan.
“Kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya bagi kami bukan soal menumpuk harta pribadi, melainkan keberlanjutan dan kesejahteraan bersama,” ujar Dr. Yudea mengutip jiwa kearifan Ma’anyan. Nilai etika ini disebut sebagai fondasi sejati akuntansi yang bermutu.
Ia berharap kurikulum dan riset akuntansi ke depan mampu menyatu dengan nilai-nilai luhur tersebut: mencetak lulusan cerdas secara teknis sekaligus peka sosial. “Mari turun dari menara gading. Riset akuntansi harus dibumikan, berkalkulasi cermat namun beretika dan berpihak pada rakyat—dari kampus untuk negeri, dari Balikpapan untuk Indonesia,” pungkasnya.
Disertai semboyan pemersatu: Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. Arus..Arus…Arus… ( Lawadi ).





