
Jakarta, detikborneo.com – Gereja Katedral Jakarta menghadirkan nuansa budaya Kalimantan yang unik dan penuh kekayaan tradisi melalui penampilan Mei Sape atau Maegan, yang memainkan alat musik tradisional Dayak, Sape’, dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda. Misa ini digelar dalam rangka memperingati Hari Orang Muda Sedunia serta menyambut kedatangan Salib World Youth Day (WYD) yang tengah mengelilingi berbagai negara sebelum acara puncak digelar di Seoul pada tahun 2027.
WYD merupakan event internasional Gereja Katolik yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Setelah terakhir berlangsung di Portugal pada 2023, salib khas WYD kini melakukan perjalanan keliling dunia, dan Indonesia mendapat kehormatan menjadi salah satu tuan rumah penerima simbol tersebut. Gereja Katedral Jakarta dipilih sebagai lokasi penyambutan karena peran pentingnya dalam pembinaan umat, khususnya kaum muda. Salib WYD sendiri pertama kali diprakarsai oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai lambang Kristus bagi generasi muda.
Dalam perayaan Ekaristi, Mei menampilkan Ordinarium Apokayan – Kenyah, Gaya Dayak menggunakan Sape’, bersama Koor OMK Katedral Jakarta. Lagu-lagu liturgis tersebut mencakup Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Kudus, dan Anak Domba Allah, yang diolah dengan sentuhan khas budaya Dayak sehingga menciptakan suasana misa yang khusyuk, harmonis, dan kaya unsur tradisi Nusantara.

Perayaan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Gereja Katolik Indonesia, antara lain:
1. Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, Kalimantan Barat, sekaligus Ketua Komisi Kepemudaan KWI.
2. Romo Hani Rudi SJ, Kepala Paroki Gereja Katedral Jakarta.
3. Romo Yohanes Deodatus SJ, pembina OMK Katedral Jakarta.
4. RD Kristi Adi Prasetya, Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI.
5. RD Bonaventura Priyo Sutejo, perwakilan Komisi Kepemudaan Bandung.
6. RD Stanislaus Kotska Aditya Vidianto, Ketua Komisi Kepemudaan Bandung.
7. RD Salto Deodatus, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta.
8. Serta umat Katolik KAJ yang mengikuti perayaan misa WYD.
Perayaan ini juga menghadirkan Yohanes Rio Alexander sebagai narasumber yang memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai makna kehadiran salib WYD bagi generasi muda.
Kehadiran Sape’ dalam perayaan liturgi ini menjadi simbol harmoni antara iman dan kebudayaan, sekaligus membuka ruang bagi kaum muda untuk mengekspresikan identitas budaya mereka dalam kehidupan menggereja. Momen ini menjadi penegasan bahwa Gereja hadir untuk merangkul keberagaman, serta menumbuhkan semangat persatuan dalam iman dan budaya.
Sebagai informasi, Mei Sape atau Maegan adalah orang yang pertama memaikankan alat musik tradisional atau Sape di Gereja Katedral Jakarta.





