
Nusantara, detikborneo.com — Kekecewaan mendalam datang dari jantung Ibu Kota Nusantara. Ahmad Ariadi Kadat, Kepala Adat Besar Dayak Paser Kalimantan sekaligus keturunan Pahlawan Nasional Pelima Sentik, menyuarakan protes tajam karena upacara pengibaran bendera Merah Putih peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di kawasan IKN sama sekali tidak mengundang perwakilan masyarakat adat Dayak Paser yang masih dilingkungan IKN — padahal kantor sekretariat mereka hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari pintu gerbang IKN.
“Masih Dijajah Bangsa Sendiri” — Protes Pedas Ariadi Kadat
“Kantor sekretariat kami hanya 1 km dari pintu gerbang IKN, tetapi saat upacara bendera 17 Agustus kemarin, kami sama sekali tidak diperhatikan. Tidak ada undangan, tidak ada tempat, seolah-olah kami tidak ada di tanah sendiri,” ungkap Ariadi dengan nada penuh amarah.
Ia menegaskan, hal ini bukan sekadar kelalaian — melainkan bentuk ketidakadilan yang nyata. “Sepertinya diskriminasi terhadap masyarakat adat Dayak Paser sangat jelas terlihat, dan semuanya terasa penuh sandiwara.”
Kata-kata Ariadi terasa makin pedih dan tajam saat ia melanjutkan: “Berarti kami masyarakat ini belum merdeka, masih dijajah oleh bangsa sendiri. Apa lagi hak masyarakat adat yang lain sampai saat ini sengaja dirampas? Untuk diundang upacara bendera hari kemerdekaan saja diabaikan dan sengaja untuk menghilangkan identitas kami.
Leluhur Berjuang, Keturunannya Dikesampingkan
Kemarahan dan kesedihan ini bukan tanpa alasan. Ariadi adalah cucu dari Pelima Sentik, pahlawan nasional asal tanah Paser yang berjuang tumpah darah demi kemerdekaan Indonesia.
“Percuma leluhur kami berjuang untuk kemerdekaan, nyatanya kami sampai saat ini masih belum merdeka,” tegasnya.
Bagi masyarakat adat Dayak Paser, kemerdekaan belum terasa utuh. Di tanah leluhur yang kini berdiri IKN, mereka justru disisihkan di momen paling sakral bagi bangsa. Jika pada hari kemerdekaan pun mereka diabaikan, lalu di momen mana lagi mereka diakui sebagai bagian dari bangsa ini, jika terus begini jangan salahkan kami mengibarkan Bendera Borneo Raya!
Teguran Keras untuk Semua Pihak
Pernyataan ini menjadi teguran keras. Kemerdekaan yang dirayakan adalah hasil perjuangan seluruh elemen bangsa — termasuk para pahlawan adat dan masyarakat yang sejak awal menjaga bumi Nusantara. Mengesampingkan mereka berarti mengabaikan sebagian sejarah negeri ini sendiri.
Masyarakat adat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya meminta satu hal: diakui, dihargai, dan diberi tempat di tanah sendiri. Karena itu adalah hak yang sudah seharusnya milik mereka sejak leluhur berdiri di bumi ini. (Bajare007)





