
Jakarta, detikborneo.com — Dari 119.441 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 76 siswa dari 38 provinsi yang akhirnya berdiri di halaman Istana Merdeka sebagai Paskibraka Nasional 2026. Dua di antaranya datang dari Kalimantan Barat — Celine Olivia Apriani Theo dari Pontianak dan Mirza Rafi Navazani dari Sintang. Sebagai putra-putri asli Bumi Khatulistiwa, kebanggaan ini milik kita semua. Simak kisahnya sambil menyeruput kopi, wahai saudaraku!
Celine: Penyanyi yang Membawa Baki Sang Merah Putih
Pada 17 Agustus 2026, di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan jutaan mata rakyat Indonesia, Celine Olivia Apriani Theo — siswi kelas XI jurusan Akuntansi SMK Negeri 5 Pontianak — berdiri tegak memikul tugas luar biasa: membawa baki Sang Merah Putih dalam upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Republik Indonesia.
Di kejauhan, kedua orang tuanya, Intonius dan Anastasya, menonton sambil berlinang air mata. Bukan drama. Itu adalah panen dari bertahun-tahun menanam kasih sayang dan mendidik disiplin.
Perjalanan Celine dimulai sejak Januari 2026. Seleksi tingkat Kota Pontianak, lanjut ke tingkat Provinsi Kalimantan Barat, lalu menembus seleksi nasional. Ujiannya pun bukan sekadar berdiri tegak — ada Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum, kesamaptaan, psikotes, tes minat bakat, hingga wawancara. Semuanya dijalani dengan tekun hingga namanya masuk dalam 76 orang terpilih — lebih sedikit dari jumlah anak muda yang rela begadang menonton video pendek hingga subuh. Bedanya, mereka bangun pagi dengan mata panda. Celine bangun pagi dengan prestasi.

Siapa sangka, di balik ketegasan baris-berbaris, Celine memiliki jiwa seni yang besar. Semasa di SMP Negeri 2 Sungai Raya, ia meraih Juara II FLS2N cabang menyanyi solo 2024 dan Juara I Lomba Tari Langkau Etnik. Cita-citanya semula menjadi penyanyi. Namun rupanya, hidup punya panggung yang jauh lebih besar — bukan panggung konser, melainkan halaman Istana Merdeka.
Celine menjadi sejarah bagi SMKN 5 Pontianak: setelah sekitar 12 tahun, sekolah itu kembali mengirimkan wakil ke Paskibraka Nasional.
Mirza: Putra Penjual Kerupuk yang Membentang Merah Putih
Kisah membanggakan juga datang dari Mirza Rafi Navazani, siswa SMA Negeri 1 Sintang. Ia menjadi pembentang bendera pada upacara penurunan Sang Merah Putih — dan tercatat sebagai putra pertama Kabupaten Sintang yang lolos Paskibraka Nasional.

Perjalanannya tak mulus. Mirza sempat tidak lolos tahap pusat. Kesempatan kedua baru terbuka ketika peserta dari Ketapang gugur dalam pemeriksaan kesehatan. Mirza tidak mengeluh. Ia menyambut peluang itu dengan kerja keras hingga tuntas.
Yang lebih mengharukan: sejak SMP, Mirza terbiasa membantu ibunya berjualan kerupuk, bahkan mengantar dagangan hingga ke Pasar Sungai Durian, Sintang. Kerja keras, rendah hati, dan tidak gengsi — itulah pendidikan yang tak selalu tertulis di buku pelajaran.
Pesan untuk Generasi Muda
Celine membawa baki. Mirza membentangkan bendera. Namun sesungguhnya, keduanya membawa sesuatu yang jauh lebih berat: harapan orang tua, nama daerah, dan masa depan Indonesia.
Kepada anak muda yang merasa hidupnya paling berat karena Wi-Fi lambat, baterai 15 persen, kuota habis, atau diminta beli cabai lalu lupa karena sibuk berselancar di dunia maya — lihatlah Celine dan Mirza. Mereka juga anak muda. Bedanya, mereka memilih berjuang ketika yang lain memilih rebahan.
Malam itu, air mata orang tua mereka jatuh tanpa suara. Bukan sedih — melainkan haru. Anak yang dulu diantar sekolah, dimarahi karena lupa belajar, disuruh disiplin, dan mungkin pernah bikin kepala pening, kini berdiri gagah di hadapan republik.

Satu hal yang bisa kita pelajari: Anak hebat bukan anak yang hidupnya selalu mudah. Anak hebat adalah anak yang tetap mau berjuang ketika hidup tidak mudah.
Merah Putih berkibar di angin kemerdekaan. Dan di sanalah, dua nama dari tepian Kalimantan Barat, terukir dalam sejarah negeri ini. (Sumber: mediakalbar/ Bajare007)






