
Oleh: Agus Teladjan
Kalimantan selama ini sering dipandang sebagai halaman belakang pembangunan Indonesia. Padahal potensi SDA mulai dari isi perut bumi batu bara,nikel, bauksit, kuarsa emas,gas alam,ikan,kopi,gaharu dll, sumber energi terbarukan pun berlimpah ruah seperti riam jeram dari julukan seribu sungai untuk hydro (pembangkit listrik terbesar bisa menerangi seluruh pulau Kalimantan tanpa perlu impor),panas bumi,Solar dengan panel Surya sebagai lintasan katulistiwa dan Ekosistem hutan sumber oksigen terbaik dan terbesar dunia setelah hutan Amazon.
Secara geografis, pulau Borneo ini justru tepat berada di jantung Asia Tenggara. Kalimantan berbatasan langsung dengan Malaysia dan memiliki kedekatan geografis dengan Brunei Darussalam. Posisi tersebut semestinya tidak hanya dilihat sebagai persoalan perbatasan negara, tetapi sebagai peluang untuk membangun sebuah koridor ekonomi internasional yang menghubungkan Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam dengan rel kereta api melintasi sepanjang perbatasan dari Kalbar -kaltim-kaltara menjadi lintas Geopolitik strategis di Asia tenggara.
Dalam konteks inilah, gagasan pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara layak dibicarakan sebagai sebuah proyek strategis jangka panjang. Bayangkan jika dari kawasan Aruk di Kalimantan Barat, jaringan transportasi darat dapat dikembangkan secara bertahap menuju pusat-pusat ekonomi Kalimantan seperti IKN Kaltim pusat pemerintah negara hingga Tarakan di Kalimantan Utara, lalu terintegrasi dengan pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Pelabuhan Kijing di Mempawah.
Jalur tersebut tidak sekadar menjadi rel kereta api, tetapi dapat berkembang menjadi tulang punggung koridor ekonomi Kalimantan.Gagasan ini sebenarnya memiliki konteks regional yang kuat. BIMP-EAGA—kerja sama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Filipina—memang menempatkan konektivitas transportasi, perdagangan lintas batas dan integrasi ekonomi sebagai salah satu pilar utama. Dalam kerangka Vision 2035, BIMP-EAGA bahkan menargetkan jaringan transportasi multimoda yang lebih terintegrasi, termasuk konektivitas darat, laut dan udara.
Karena itu, pembangunan rel Kalimantan seharusnya tidak dibayangkan semata-mata sebagai proyek transportasi domestik. Ia dapat dirancang sebagai bagian dari sistem konektivitas regional Asia Tenggara.Dari Aruk ke Kijing, lalu menuju TimurKalimantan Barat mempunyai posisi penting sebagai pintu masuk bagian barat. Kawasan Aruk sudah menjadi salah satu titik lintas batas Indonesia–Malaysia, demikian Juga Kalimantan Utara Nunukan & Tarakan sebagai lintasan gerbang timur, Bahkan dalam perkembangan BIMP-EAGA, jalur Pontianak–Kuching–Bandar Seri Begawan telah dipandang sebagai konektivitas darat yang menghubungkan wilayah Indonesia, Malaysia dan Brunei di Pulau Borneo.
Titik lintas batas Aruk–Biawak merupakan salah satu jalurnya.Di sisi lain, keberadaan Pelabuhan berskala internasional Kijing di Mempawah membuka peluang penting dan vital menjadi “urat nadi” utama untuk menghubungkan perdagangan darat dengan perdagangan laut. Artinya, barang dari kawasan perbatasan dan pusat-pusat produksi Kalimantan dapat diarahkan melalui jaringan kereta api menuju pelabuhan, kemudian diteruskan ke pasar regional dan internasional kekuatan ekonomi Asia tenggara.
Inilah konsep yang perlu dibangun: perbatasan bukan lagi ujung wilayah atas batas negara belajar dari perbatasan antar negara di Eropa dengan adanya akses infrastruktur jalan raya dan rel kereta terjadi koneksitas dan saling memperkuat hubungan bilateral simbiosis saling menguntungkan membuka pintu gerbang perdagangan antar negara.Jika konektivitas Aruk–Kijing dapat terintegrasi dengan jaringan transportasi menuju Kalimantan bagian tengah dan timur, Kalimantan Barat tidak hanya menjadi daerah perbatasan, tetapi dapat berkembang sebagai salah satu simpul logistik internasional.
Kemudian di sisi timur, pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan Utara dapat menjadi bagian lain dari koridor tersebut. Saat ini rencana jaringan kereta api Kaltara memang sedang kembali didorong. Pemerintah daerah menyebut adanya rencana jaringan yang menghubungkan kawasan Malinau, Tana Tidung dan Tanjung Selor, sementara arah pengembangan dalam tata ruang juga memproyeksikan koneksi menuju kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia.
Dengan demikian, gagasan menghubungkan bagian barat dan timur Kalimantan melalui jaringan kereta api bukanlah sesuatu yang harus dilihat sebagai mimpi tanpa konteks. Namun, ia tetap membutuhkan kajian kelayakan, pembiayaan, tata ruang, lingkungan, serta kesepakatan lintas negara yang sangat serius.Mengubah peta geopolitik ekonomiJika suatu hari konektivitas tersebut terwujud, dampaknya jauh melampaui persoalan waktu tempuh.
Indonesia akan memiliki pilihan baru dalam mengembangkan arus barang dan orang di kawasan utara Nusantara. Kalimantan dapat menjadi ruang pertemuan ekonomi Indonesia dengan Sarawak, Sabah dan Brunei Darussalam. Arus komoditas, industri, pariwisata, jasa, tenaga kerja dan investasi dapat tumbuh di sepanjang koridor. Dalam hal ini bukan mengecilkan peran departemen kementerian transmigrasi untuk memindahkan orang tetapi merubah paradigma baru kaum urban untuk migrasi atas kemauan sendiri karena daya tarik pembangunan industri pertambangan, industri pangan dan industri padat karya lainnya.
Dalam perspektif geopolitik ekonomi, infrastruktur bukan sekadar beton, baja dan rel. Infrastruktur menentukan ke mana arus manusia dan barang bergerak. Negara yang memiliki konektivitas kuat akan memiliki posisi lebih besar dalam menentukan arah pertumbuhan ekonominya.Karena itu, persaingan dengan pusat-pusat logistik regional seperti Singapura tidak semestinya diterjemahkan sebagai upaya meniru Singapura. Indonesia justru perlu membangun keunggulan berdasarkan karakter geografisnya sendiri: wilayah yang luas, sumber daya alam besar, pasar domestik besar, serta posisi strategis Kalimantan di tengah Pulau Borneo.
Rel sebagai alternatif pendekatan terhadap persebaran pendudukAda satu konsekuensi penting lainnya: pembangunan infrastruktur ekonomi dapat menciptakan daya tarik migrasi dan urbanisasi secara alami.Selama ini pemerataan penduduk dan pembangunan di Indonesia sering dikaitkan dengan kebijakan transmigrasi. Namun, arah kebijakan transmigrasi saat ini sendiri telah mengalami transformasi, antara lain dengan penekanan pada pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi dan peningkatan peran masyarakat lokal. Kementerian Transmigrasi menyebut fokus 2025 bahkan lebih banyak pada transmigrasi lokal.
Dalam konteks tersebut, pembangunan koridor ekonomi dapat menjadi pendekatan komplementer: bangun pusat ekonominya terlebih dahulu, maka manusia akan datang mengikuti peluangnya.Ketika tersedia kawasan industri, pelabuhan, pergudangan, pusat perdagangan, pendidikan, rumah sakit, pariwisata dan lapangan pekerjaan yang terhubung dengan kereta api, Kalimantan berpotensi menarik penduduk secara lebih organik. Orang tidak perlu dipindahkan hanya karena program pemerataan penduduk; mereka akan datang karena terdapat kesempatan ekonomi.
Yang lebih penting adalah mengubah paradigma: pembangunan manusia dan pembangunan infrastruktur ekonomi harus berjalan bersama, program transmigrasi sudah dianggap usang dan tidak relevan dengan perkembangan jaman kekinian tetapi pemerintah pusat harus berani dan mau membuat kebijakan bukan manusia sebagai objek tetapi membangun industri dan membuka jalur insfratruktur pusat kota besar antar propinsi bahkan IKN pusat pemerintahan.
Dari proyek transportasi menjadi proyek peradaban, yang mengangkat harkat dan martabat masyarakat lokal seperti Dayak dan Melayu yang mandiri berani bersaing dengan kaum pendatang yang sudah tinggal dari generasi kegenerasi membaur masyarakat lokal, menciptakan sejahteraan dan keadilan.Jalur kereta api Aruk–Kijing–lintas perbatasan Kalimantan–Tarakan, jika kelak terbukti layak secara teknis dan ekonomi, seharusnya dirancang bukan sebagai satu proyek sektoral. Ia harus menjadi proyek lintas kementerian dan lintas daerah yang terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, pusat logistik, kawasan perbatasan dan sistem perdagangan internasional.Kerja sama dengan Malaysia dan Brunei juga menjadi penting.
BIMP-EAGA telah menunjukkan bahwa konektivitas lintas negara di Borneo bukan gagasan baru. Bahkan strategi ekonominya telah mengenali koridor Borneo Barat dan Borneo Timur sebagai ruang yang memiliki potensi perdagangan lintas batas dan logistik regional.Maka, yang perlu dibangun Indonesia bukan hanya relnya, tetapi ekosistem ekonominya, dengan sendirinya investor lokal dan luar negeri dapat melirik dan membuka pariwisata dengan keunikan budaya etnik Dayak sebagai budaya Nusantara dan keindahan hutan, gunung,danau dan air terjunnya menjadi daya tarik tersendiri sendiri.
Hasil hutan, investor perkebunan tanaman buah dan sayur serta pertanian akan mengalami pertumbuhan tinggi jika Rel menjadi kebijakan pemerataan pembangunan negara terealisasi.Jika berhasil, Kalimantan tidak lagi sekadar menjadi pulau tempat mengambil sumber daya untuk dikirim ke pusat-pusat ekonomi di tempat lain. Kalimantan dapat berubah menjadi pusat produksi, distribusi, perdagangan dan mobilitas internasional.Pada akhirnya, geopolitik tidak selalu ditentukan oleh kekuatan militer. Pada abad ke-21, geopolitik juga ditentukan oleh pelabuhan, jalur logistik, jaringan kereta api, kawasan industri, energi, teknologi dan kemampuan menghubungkan pasar.
Kalimantan memiliki posisi geografis untuk memainkan peran tersebut dalam Geopolitik dunia khususnya Asia tenggara Indonesia dengan jalur lintas ekonomi memegang kendali sebagai macan Asia.Kebayang tidak dalam waktu singkat Singapura yang terkenal menguasai lintas jalur laut selama ini,dengan hadir nya jalur lintas darat KA ditanah Borneo, menjadi lintasan 3 negara (Indonesia Malaysia dan Brunei) sekaligus jalur laut Singapura mendapatkan saingan ekonomi terkuat baru dengan mobilitas daya angkut darat barang dan orang yang kompetitif.
Karena itu, sudah waktunya kita melihat rel kereta api di Bumi Kalimantan bukan hanya sebagai proyek transportasi, tetapi sebagai investasi strategis untuk mengubah posisi Kalimantan dalam peta ekonomi Asia Tenggara—dari wilayah perbatasan menjadi gerbang perdagangan internasional Indonesia.





