
Jerash Jordania, detikborneo.com – Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi jembatan masa depan yang mempertemukan bangsa-bangsa. Inilah semangat yang diusung Dewan Adat Dayak (DAD) Jakarta saat tampil dalam ajang Jerash International Festival of Culture & Arts 2025, yang berlangsung pada 23–31 Juli 2025 di kota Jerash dan Petra, dua situs sejarah dunia di Jordania.
Kehadiran DAD Jakarta di ajang prestisius ini merupakan hasil undangan resmi dari Pemerintah Kerajaan Jordania dan UNESCO, yang difasilitasi oleh Yayasan Nona Asri Indonesia. Sebagai perwakilan budaya Dayak dan Indonesia, delegasi ini membawa misi luhur: memperkenalkan kekayaan tradisi leluhur kepada dunia, sekaligus menjadikan budaya sebagai sarana diplomasi dan promosi pariwisata Indonesia.
BACA JUGA : DAD DK Jakarta Meriahkan Pameran Kebudayaan HUT Hotel Borobudur
Budaya Adalah Identitas dan Aset Bangsa
Dalam berbagai forum internasional, budaya selalu menjadi unsur yang menyentuh hati. Di tengah gempuran globalisasi dan homogenisasi gaya hidup, budaya tradisional—seperti milik suku Dayak—menjadi penanda identitas yang kuat dan tak tergantikan.
DAD Jakarta bersama delegasi budaya Indonesia lainnya, seperti Dewan Budaya Nusantara Kalimantan Timur, Sanggar Angklung Giri Svara, Sanggar Seni & UMKM Pesona Cahaya Manikam, serta Ninauka Craft & Fashion, menampilkan ragam kesenian daerah yang mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Tarian, musik, dan kerajinan tangan khas Nusantara mendapat sambutan hangat dari penonton mancanegara yang hadir di kota kuno Jerash, salah satu situs arkeologi Romawi paling penting di Timur Tengah.

Tarian Burung Enggang Menggema di Petra
Puncak keharuan dan kebanggaan terjadi saat rombongan Indonesia mempersembahkan Tarian Burung Enggang—simbol kesucian dan kemuliaan dalam budaya Dayak—di situs Petra, salah satu dari 7 Keajaiban Dunia yang diakui oleh UNESCO.
“Di kota Petra, delegasi Indonesia juga secara khusus mempersembahkan tarian Burung Enggang Dayak,” ungkap Tamunan Kiting, Ketua DAD Jakarta yang juga menjabat sebagai Deputi IV Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN). Penampilan ini bukan hanya aksi seni, tapi bentuk penghormatan kepada warisan leluhur yang kini diperkenalkan kepada dunia internasional.
Budaya sebagai Kekuatan Diplomasi dan Pariwisata
Partisipasi DAD Jakarta dalam festival ini bukan semata tampil di panggung budaya, tetapi menjadi bagian dari upaya “soft diplomacy” Indonesia: menyampaikan pesan damai, menghargai keberagaman, dan memperkenalkan kekayaan Nusantara melalui pendekatan budaya.
Tidak dapat disangkal bahwa budaya adalah sumber daya strategis dalam industri pariwisata. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku dan bahasa, memiliki kekuatan budaya yang mampu menarik wisatawan mancanegara bukan hanya karena alamnya, tetapi karena pengalaman budaya yang unik dan otentik. Tarian, ritual adat, kuliner tradisional, hingga kerajinan lokal adalah bagian dari daya tarik yang terus berkembang.
Dengan menampilkan budaya Dayak di panggung internasional, DAD Jakarta telah menunjukkan bahwa komunitas adat bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga aktor aktif dalam membangun citra positif Indonesia di mata dunia. Inilah bentuk pelestarian budaya yang progresif—bukan sekadar mempertahankan, tetapi mengembangkan dan memperkenalkannya secara kontekstual ke ranah global.
Audiensi dengan Dubes RI dan Harapan ke Depan
Dalam kesempatan yang sama, delegasi budaya Indonesia juga berkesempatan melakukan audiensi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Jordania, Bapak Ade Padmo Sarwono, sebagai bentuk sinergi antara masyarakat adat dan diplomasi negara. Dubes RI menyambut baik kehadiran para duta budaya tersebut dan menyatakan bahwa kekuatan budaya adalah modal penting dalam membangun hubungan internasional yang berkelanjutan.
Menanam di Ladang Global, Menuai untuk Nusantara
DAD Jakarta melalui partisipasinya di Festival Jerash 2025 telah membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus bersifat statis dan lokal. Sebaliknya, ketika budaya ditampilkan dengan bangga dan bermartabat di panggung internasional, ia berubah menjadi kekuatan lunak (soft power) yang menjembatani bangsa, memperluas pemahaman, dan membuka peluang ekonomi, khususnya di sektor pariwisata.
Sudah saatnya budaya tidak hanya dijaga, tapi juga dijadikan sumber inspirasi dan strategi pembangunan berkelanjutan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. (Lawadi)





