
Jakarta, detikborneo.com – Seminar nasional yang digelar (PEWARNA) menghadirkan gagasan besar tentang hubungan antara spiritualitas, pelestarian lingkungan, dan warisan budaya Nusantara. Mengusung tema “Merajut Spiritualitas Membongkar Sejarah Percandian Indonesia”, kegiatan ini berlangsung di Aula Utama Yayasan Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada 5 Mei 2026.
Seminar tersebut mempertemukan tokoh agama, budayawan, akademisi, jurnalis, hingga pegiat lingkungan dalam sebuah forum lintas iman dan budaya yang membahas pentingnya menjaga warisan leluhur sekaligus memulihkan kesadaran ekologis bangsa.
Ketua Umum PEWARNA, Yusuf Mujiono, dalam sambutannya menegaskan bahwa menjaga candi dan lingkungan hidup merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia kepada Tuhan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat peninggalan leluhur sebagai identitas bangsa yang tidak terpisahkan dari alam dan kebudayaan.
Seminar ini menghadirkan Menteri Kebudayaan sebagai keynote speaker, bersama sejumlah narasumber lain seperti Banthe Dhamosubho Mahatera, Joe Marbun, dan Ashiong P. Munthe.
Dalam paparannya, Fadli Zon menekankan bahwa candi-candi yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara bukan sekadar bangunan batu atau monumen mati. Menurutnya, relief dan struktur percandian merupakan “manuskrip visual” yang menggambarkan cara pandang leluhur terhadap keseimbangan alam semesta.
“Candi selalu dibangun di kawasan yang dekat dengan sumber air, pegunungan, dan lingkungan yang terjaga. Ini menunjukkan bahwa leluhur kita memiliki kesadaran ekologis yang sangat tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan kini mendorong pendekatan baru terhadap situs percandian, bukan hanya sebagai objek arkeologi fisik, tetapi sebagai pusat kehidupan berkelanjutan yang menyatu dengan nilai spiritual dan ekologi.
Menurut Fadli, krisis lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan persoalan nyata yang harus dihadapi dengan pendekatan kesadaran spiritual. Ia menilai konsep ekoteologi menjadi penting karena mengajarkan bahwa merawat bumi merupakan bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
“Merusak alam berarti memutus nilai-nilai ketuhanan yang diwariskan leluhur. Karena itu, pemulihan ekologi harus dimulai dari kesadaran religius manusia,” tegasnya.
Sementara itu, Banthe Dhamosubho Mahatera menyoroti tingginya peradaban leluhur Nusantara yang tercermin melalui bangunan candi. Ia menilai kemegahan dan presisi arsitektur seperti pada membuktikan bahwa bangsa ini telah memiliki teknologi dan pengetahuan maju sejak masa lampau.
Menurutnya, pengelolaan warisan budaya secara baik dapat membangkitkan kebanggaan nasional sekaligus memperkuat identitas bangsa sebagai peradaban besar yang memiliki akar spiritual kuat.
Joe Marbun dalam pemaparannya menegaskan bahwa situs percandian di Nusantara tidak bisa dipandang hanya sebagai peninggalan arkeologis semata. Ia menyebut percandian sebagai representasi harmonisasi antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya ancaman serius terhadap situs-situs budaya akibat degradasi lingkungan, perubahan iklim, hingga rendahnya kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian budaya.
Karena itu, menurut Joe, perlu ada pembacaan ulang terhadap sejarah dan lanskap percandian sebagai dasar advokasi perlindungan budaya dan lingkungan hidup.
Sedangkan Ashiong P. Munthe menekankan bahwa sejarah percandian Indonesia menyimpan pesan spiritual mendalam tentang keseimbangan hidup manusia dengan alam. Ia menyebut para leluhur Nusantara telah membangun konsep spiritual geography yang menyatukan alam, arsitektur, dan pencarian makna kehidupan dalam satu kesatuan kosmik.
“Sejarah percandian bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi pengingat bahwa krisis ekologis muncul ketika manusia kehilangan kesadaran spiritual terhadap alam dan warisan budayanya sendiri,” ujarnya.





