
Khusus dalam budaya Dayak Kanayatn, sebutan “Pangalima” atau panglima diberikan kepada orang yang dianggap kuat, kebal terhadap bacok, tembak, dan berbagai serangan lainnya. Mereka dikenal lihai berperang, memiliki keberanian, berkarisma, mampu memimpin banyak orang, terutama dalam situasi genting, serta rendah hati dan tidak memamerkan kekuatannya.
Pada zaman kerajaan, sosok seperti ini dikenal dengan gelar “Pangalangok”.Biasanya, seorang panglima berasal dari garis keturunan atau trah tertentu. Artinya, kemunculannya tidak serta-merta ada, melainkan diwariskan dari nenek moyang. Namun demikian, tidak semua keturunan akan menjadi panglima, karena hanya orang-orang pilihan yang dipercaya memilikinya.
Tanda-tanda seseorang mengarah menjadi panglima biasanya mulai terlihat setelah selesai sunat. Mereka kerap mendapat petunjuk melalui mimpi, atau menemukan benda-benda pusaka pada hari-hari tertentu. Umumnya benda pusaka tersebut berupa keris, tarikng buntat, dan benda-benda lainnya. Ada pula yang kekuatannya diyakini langsung menyatu dengan tubuhnya.
Pada zaman dahulu, seseorang diakui sebagai panglima setelah membuktikan diri mampu melindungi satu kampung atau satu binua. Mereka juga dikenal selalu selamat setiap pulang mengayau (memotong kepala musuh) dan berhasil membawa kepala musuh tersebut.
Ada juga panglima yang memperoleh kekuatan melalui proses berguru kepada orang-orang berilmu atau orang kuat. Biasanya mereka diajarkan mantra-mantra, diberikan jimat atau benda pusaka, dan kekuatannya disertai dengan berbagai pantangan yang harus dipatuhi.
Kadang-kadang, ada panglima yang hanya muncul saat perang terjadi. Sebelumnya, masyarakat sama sekali tidak mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kelebihan. Barulah ketika perang sungguhan terjadi, kemampuan dan keberaniannya terlihat.
Ada pula kisah tentang panglima yang muncul hanya saat peperangan berlangsung, lalu menghilang dengan sendirinya setelah perang usai. Menurut cerita orang tua zaman dahulu, sosok seperti ini sering dikaitkan dengan makhluk gaib atau para pertapa, namun tetap dianggap bagian dari panglima.
Orang-orang tua dahulu juga mengisahkan bahwa suatu hari nanti akan terjadi perang besar di dunia ini. Pada saat itulah para panglima yang sedang bertapa dipercaya akan keluar semuanya. Namun kisah ini tentu masih menjadi bagian dari cerita yang belum dapat dibuktikan.
Di era sekarang, ada pula orang-orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai panglima demi kepentingan pribadi dan mencari pengakuan masyarakat. Sedikit memiliki kemampuan, lalu mengaku panglima.
Ada juga panglima yang diangkat oleh organisasi atau ormas tanpa melalui ritual adat. Artinya, ciri-ciri seperti yang disebutkan di awal tulisan ini sebenarnya tidak dimiliki. Cukup pandai bernarasi, memiliki rasa percaya diri, sedikit “ilmu”, ditambah atribut dan aksesori Dayak, maka jadilah panglima. Bahkan ada pula yang bukan berasal dari suku Dayak tetapi mengaku sebagai panglima, seperti Udin Balok dan beberapa nama lainnya.
Kini, sebutan panglima di kalangan Dayak semakin menjamur. Sulit lagi membedakan mana panglima asli dan mana panglima-panglimaan.
Beberapa tahun lalu, ada sosok panglima Kijang yang sempat viral karena dilempar botol. Di Sintang, yang beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan, ada pula panglima yang kepalanya ditunjuk-tunjuk oleh orang di luar Dayak. Marwah panglima pun mulai dipertanyakan.
Apakah benar panglima Dayak itu kuat dan berani? Jawab sendiri, analisa sendiri, dan simpulkan sendiri.
(Red/Paran Sakiu)







