29.4 C
Singkawang
More
    BerandaBeritaSekda Membawa Marwah Bosi Koling Tongkat Rakyat

    Sekda Membawa Marwah Bosi Koling Tongkat Rakyat

    | Penulis: Thomas Tion Sution

    Mewakili Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, S. STP, M. Si, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang kunjungan kerja dan menghadiri acara adat  Palas Pudas, Kampung Laman, Dais, Kampung Labuhan, Pangkal Pudasan, Tanah Arai di Desa Sungai Buluh, 9 September 2021. Pada kesempatan ini, Patih Jaga Pati membawa marwah Bosi Koling Tongkat Rakyat.

    Dalam Kunker kali ini, Sekda Ketapang, yang dilantik 27 Agustus lalu, yang didampingi Kepala BPKAD, Kadis Kominfo, Kadis Tanakbun, Kadis Parbud, Kasat Pol PP dan Bagian Prokopim.

    Acara adat  kampung Sungai Buluh kali ini merupakan acara puncak penyelesai perkara adat penggusuran kuburan oleh PT. Mitra Saudara Lestari (MSL). Rangkaian kegiatannya diawali dengan acara adat menyambut tamu di gerbang rumah adat Desa Sungai Buluh. Penyambutan tamu dilakukan dengan tarian pencak silat.

    Setiba di depan pintu gerbang, Patih Jaga Pati pun ditaburi beras kuning oleh Ninit dan Diwan, pemimpin ritual penyambut tamu dan menggigit besi. Sesepuh Sungai Buluh yang akrab dipanggil Pak Ninit dan Pak Diwan mempersilahkan Patih Jaga Pati untuk memotong portal adat dengan sebilah mandau. Portal adatnya berupa batang pisang, yang ditopang dengan sebongkah batu, lalu diikat rotan segak, yang dihiasi  daun kelapa muda.

    Dengan sekali pancung, Patih Jaga Pati yang digelari “Raden Cendaga Pintu Bumi” oleh masyarakat adat Pesaguan pun berhasil memutuskan portal adat. Pancungan Patih Jaga Pati, yang digelari “Patih” oleh masyarakat adat Landak disambut dengan tepuk tangan.

    Pak Ninit dan Pak Diwan kemudian mempersilahkan Patih Jaga Pati, yang juga digelari “Patih Jaga Banua” oleh masyarakat adat Simpang menginjakkan batu penopang dan berjalan menuju ke rumah adat, tempat pelaksanaan adat Palas Pudas Kampung Laman Dais Dakar Kampung Labuhan Pangkal Pudasan Tanah Arai.

    Di tempat terpisah, Pak Ninit dan Pak Diwan mengadakan ritual adat bepadah ke tanah arai (doa secara adat), di lokasi kuburan yang digusur oleh PT. Mitra Saudara Lestari (MSL), pada 2017 lalu, sekitar 1 kilometer jaraknya dari Rumah Adat Sungai Buluh.

    Usai itu, Pak Ninit dan Pak Diwan mengadakan ritual adat Palas Pudas, Kampung Laman, Dais, Kampung Labuhan, Pangkal Pudasan, Tanah Arai, di Rumah Adat Desa Sungai Buluh. Dalam doa adatnya, Pak Ninit dan Pak Diwan berdoa secara adat agar keadaan di Desa Sungai Buluh kembali normal, aman, damai, tenteram. Hati pulang ke dada. Darah pulang ke ruang.

    Acara dilanjutkan sambutan oleh Lawan Sari (Kepala Desa Sungai Buluh), Muspika Manis Mata (diwakili Kapolsek Manis Mata), Ketua DAD Manis Mata, Ir. Laurensius Sikat Gudag, M. Si. (DAD Ketapang), Alexander Wilyo, S. STP, M. Si. (mewakli Bupati Ketapang, sekaligus sebagai Patih Jaga Pati).

    Berikutnya acara penyerahan hukum adat secara simbolis kepada ahli waris kuburan dan penyerahan Soyet Sosi Tajak Jarau (semacam imbalan adat) kepada Patih Jaga Pati berupa sebuah Tajau Pantis Naga Tinjang; masing-masing 1 tajau untuk 10 orang Demong Desa Sembilan Domong Sepuluh; dan masing-masing 1 tajau untuk DAD Ketapang, Koordinator Biro Adat DAD Ketapang, Muspika Manis Mata, DAD Manis Mata, DAD Air Upas.

    Acara disudahi dengan menari adat. Sebagai tamu utama, Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua mendapat giliran pertama dalam acara menari-beigal ini.

    Menanggapi acara membersih kampung ini, Lawan Sari, Kepala Desa Sungai Buluh, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membatu penyelesaian perkara adat penggusuran kuburan di desanya itu.

    Ucapan terima kasih yang tak terhingga ia sampaikan kepada Bupati Ketapang, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang – yang sekaligus juga sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik, DAD Kabupaten Ketapang, para Demong, Muspika Manis Mata, DAD Air Upas dan Manis Mata. Tak lupa juga Lawan Sari pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak PT. MSL.

    Baca juga: Kunker Bupati Ketapang Ke Sungai Buluh

    Sementara, Sekda Ketapang yang mewakili Bupati, di awal sambutannya mengatakan bahwa dalam acara itu dia hadir dalam dua baju, dua kapasitas. Pertama, sebagai Sekda yang mewakili Bupati Ketapang. Kedua, sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik. Sebagai pembawa marwah Kerajaan Hulu Aik, Sekda Ketapang pun menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Patih Jaga Pati.

    Dijelaskannya, Raja Hulu Aik itu adalah Patih Singa Bansa, pemegang pusaka Bosi Koling Tongkat Rakyat dan Raja Hulu Aik ke-51. Saat ini, Raja Hulu Aik ada di Laman Sengkuang, Desa Benua Krio, Kecamatan Hulu Sungai Kabupaten Ketapang.

    Raja Hulu Aik itu disebut juga Kerajaan Bosi Koling Tongkat Rakyat. “Perlu saya sampaikan bahwa orang Dayak punya Raja, walaupun tidak seperti raja di Jawa, raja Melayu, yang penuh kemegahan. Istana megah. Raja kita ini, orangnya sangat sederhana, rendah hati. Raja kita hanya menjaga adat, budaya dan tradisi Dayak supaya tidak punah”, ujar Patih Jaga Pati.

    Karena itu, tandasnya, “Adat, budaya dan tradisi kita jangan sampai hilang. Jangan sampai diremehkan. Jangan sampai direndahkan. Jangan sampai dilecehkan. Jangan sampai dihina.”

    Ditegaskanya juga, sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh, ia menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang boleh memakai nama Desa Domong Sepuluh, selain yang mulia Raja Hulu Aik, Singa Bansa dan dirinya, sebagai Patih Jaga Pati. “Tidak ada satu pun yang boleh memakai Desa Sembilan Domong Sepuluh, selain Pak Raja dan saya”, ujarnya.

    Seperti diketahui, Alexander Wilyo (26 Juni 2021) dilantik oleh Raja Hulu Aik ke-51 sebagai Patih Jaga Pati dengan upacara adat pesalin, di kediamannya di Laman Sengkuang. Pelantikan Alexander Wilyo sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik ini disaksikan oleh para Demung Desa Sembilan Domong Sepuluh dari berbagai wilah di Kalbar, bahkan Kalteng.

    Patih Jaga Pati pun menjelaskan tugasnya, menjaga adat, budaya dan tradisi bangsa Dayak, sejak karosek mula tumbuh, tanah mula menjadi. Hidup di adat. Diam di aturan. Menegakkan hukum adat dan wibawa demong adat. “Kita hadir di sini untuk bersama-sama menegakkan adat-istiadat, adat jalan jamban titi, sejak karosek mula tumbuh, pasir mula menjadi,” kembali Patih Jaga Pati mengingatkan.

    Terkait dengan telah selesainya perkara adat penggusuran kuburan di Sungai Buluh, Patih Jaga Pati mengingatkan, agar tidak ada lagi yang boleh mengganggu, mengubah ataupun menolak putusannya. “Saya sebagai Patih Jaga Pati Kerajaan Hulu Aik, menyampaikan, siapa pun yang mengganggu putusan ini, akan saya hukum adat dua kali lipat dan saya akan ambil tindakan tegas. Saya tidak mau adat jalan jamban titi kita dilecehkan. Jangan sampai hukum adat diinjak. Hukum adat jangan sampai diselewengkan untuk kepentingan apa pun,” kecam Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua.

    Terlepas dari itu, katanya, adat harus tegak. Tidak boleh dibuat-buat. Begitu juga dengan Demong Adat. Demong adat harus tegak wibawanya. “Yang berwewenang memutuskan memutuskan hukum adat hanya para Demong Adat. Saya sebagai Patih Jaga Pati meminpin para demong adat. Tetapi saya tidak akan turun sepanjang itu tidak penting, tidak ada persoalan yang sangat krusial, tidak mengancam eksistensi adat-istiadat dan budaya Dayak,” ujarnya.

    Kehadiran dirinya sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang dan sebagai Patih Jaga Pati Kerajaan Hulu Aik, juga untuk memberikan semangat dan motivasi kepada masyarakat adat Sungai Buluh, agar tetap mempertahankan adat-istiadat dan budaya, sejak karosik mula tumbuh, tanah mula menjadi. Hidup di kandung adat. Mati di kandung tanah.

    Mewakili Bupati Ketapang, Patih Jaga Pati pun menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Bupati Ketapang, yang tidak bisa hadir pada acara di Sungai Buluh. Sekda pun berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam menyelesaikan perkara adat penggusuran kuburan di Sungai Buluh. “Pertama-tama, saya berterima kepada Demong Adat Sungai Buluh, kepada Muspika Manis Mata, Kepala Desa Sungai Buluh dan seluruh keluarga saya: indai-apai, dulur-kaban di Sungai Buluh, yang dapat bersepakat dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih sehingga kita dapat memutuskan adat-jalan, jamban-titi, sejak karosek mula tumbuh, tanah mula menjadi.

    “Saya bersama seluruh Demong Adat datang ke Sungai Buluh untuk menegakkan hukum adat-jalan, jamban-titi, sesuai adat Jelai Sekayuq-Kendawangan Seakaran, yang berlaku di Sungai Buluh. Jadi kita tegakkan sesuai dengan adatnya. Dan, kita berpegang teguh pada pesan orangtua: di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung,” ujar Patih Jaga Pati men-take-line.

    Mengakhiri sambutannya, Patih Jaga Pati berujar, “Puji Tuhan, syukur Alhamdullilah, kepada Duata Perimbang Bumi Tanah Arai karna pada hari ini semuanya sudah tuntas. Mudah-mudahan ke depannya, semoga seluruh keluarga saya di Sungai Buluh diberkahi oleh Tuhan: kesehatan, rejeki yang melimpah, umur yang panjang, dimudahkan segala urusan, belakau dapat padi, arai beikan, sasak beudang, hutan bejalu, bedagang dapat untung, bebini dapat anak. Saya doakan yang terbaik untuk keluarga saya di Sungai Buluh,” begitu kata Patih Jaga Pati menutup sambutannya.

    ***

    Bionarasi

    Thomas Tion Sution, Panitia acara adat Palas Pudas Kampung Laman Dais Dakar Kampung Labuhan Pangkal Pudasan Tanah Arai Desa Sungai Buluh.

    latest articles

    explore more

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini