
Pontianak, detikborneo.com – Dunia akademik, kebudayaan, dan masyarakat adat Dayak Kalimantan Barat berduka. Kristianus Atok, Ph.D usia 59 tahun, tokoh cendekiawan Dayak yang dikenal luas sebagai penulis, peneliti, dan pemikir lintas budaya serta agama, telah berpulang ke rumah Bapa di Surga pada Jumat 26 Desember 2025 karena sakit, Jenazah disemayamkan dirumah duka Jalan 28 Oktober Gang Marga utama Blok B3 Pontianak.
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai intelektual Dayak yang konsisten memperjuangkan identitas, martabat, pendidikan, dan perdamaian masyarakat adat, khususnya di Kalimantan Barat. Pemikiran-pemikirannya tidak hanya hidup dalam ruang akademik, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat akar rumput.
Kristianus Atok adalah penulis sejumlah buku penting yang menjadi rujukan dalam kajian Dayak, relasi etnik, pendidikan, dan resolusi konflik. Beberapa karya awalnya yang monumental antara lain:
DAYAK KANAYATN MENGGUGAT (2003)

Upaya-Upaya Komunitas Multietnik dalam Membangun Kapasitas Lokal untuk Perdamaian di Kalimantan Barat (2003)
Membangun Relasi Etnik; Pembelajaran dari Beberapa Kampung di Kalimantan Barat (2005), Pendidikan Anti Kekerasan Pada Anak dan Remaja; Konteks Kalimantan Barat (2005). Membangun Komitmen, Meniti Hari, Merajut Masa Depan. Panduan bagi Pengembangan Kepribadian Anak dan Remaja (2005). Dalam perjalanan intelektualnya, almarhum terus produktif hingga tahun-tahun terakhir dengan menerbitkan berbagai karya penting, antara lain:
- Budaya Tenun Ikat Dayak Keninjal Melawi (2020)
- Dialektika Budaya dengan Agama Katolik di Kawasan Perbatasan Kabupaten Sanggau (2019)
- Menjadi Dayak tanpa Sekat (Editor) (2018)
- Dialektika Agama Bahai dengan Orang Dayak di Kawasan Perbatasan Indonesia–Malaysia (2018)
- Dayak Ot Danum di Serawai dan Ambalau (2017)
- Antropologi Agama, Perspektif Katolik (2016)
Tak hanya melalui buku, Kristianus Atok juga aktif menulis jurnal nasional dan internasional, dengan konsistensi luar biasa—minimal satu artikel ilmiah setiap tahun sejak 2010. Salah satu karya pentingnya dipublikasikan oleh LIPI berjudul “Nasionalisme Etnik di Kalimantan Barat” (2011).
Ia juga menulis di jurnal internasional, di antaranya pada IJECA (International Journal of Education & Curriculum Application) dengan artikel “Cultural Dialectics With Catholic Education in The Border Areas in Sanggau Regency, West Kalimantan” (Desember 2018). Jurnal terbarunya berjudul “Gawai Dayak as Communication Media of Dayak People in Borneo” diterbitkan oleh Jurnal Medio Vol. 2 No. 1, Juli 2020.
Kepergian Kristianus Atok, Ph.D meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan intelektual yang tak ternilai. Ia telah menorehkan jejak kuat sebagai penjaga budaya Dayak, jembatan dialog lintas etnik dan agama, serta suara moral bagi perdamaian Kalimantan Barat.
Selamat jalan, Guru Bangsa.
Pemikiranmu akan terus hidup,
karyamu akan terus dibaca,
dan pengabdianmu akan terus dikenang.
Selamat Jalan Kristianus Atok, Ph.D.
Damailah di keabadian. (Lawadi Nusah)





