25.9 C
Singkawang
More
    BerandaBeritaSelamat Ulang Tahun GKRI Ke-50

    Selamat Ulang Tahun GKRI Ke-50

    | Penulis: Hertanto

    Jakarta, Detikborneo.com – 12.12 menjadi angka yang dirindukan banyak orang.

    Bagi pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan, angka ini menjadi tanggal incaran mereka. Tidak heran di beberapa tempat yang biasa digunakan untuk pesta pernikahan, harga sewanya menjadi lebih tinggi bila dibandingkan tanggal biasa.

    Begitu pula bagi ibu-ibu yang hendak melahirkan. Sebagian mereka rela melakukan operasi caesar agar anaknya lahir di tanggal tersebut.

    Bagi mereka yang masih jomblo dan ingin “nembak” pedekateannya, angka ini menjadi tanggal yang tepat karena bila diterima akan menjadi tanggal yang indah dan berkesan serta mudah diingat.

    Bagi mereka yang gemar shopping online, angka ini sudah ditunggu lama sejak kehadiran 11.11 lewat sehari. Mengingat tanggal 12.12 banyak promo yang digembar-gemborkan oleh penjual, menjadikan tanggal ini sebagai Hari Belanja Online Nasional. Dengan tagar #BelanjaUntukNegeri momen ini menyajikan berbagai diskon menarik dari sejumlah e-commerce. Dilansir dari Huffpost, momen ini diperkenalkan pada tahun 2005. Cyber Monday was established in 2005, coined by the National Retail Federation in a press release with the headline ‘Cyber Monday’ Quickly Becoming One of the Biggest Online Shopping Days of the Year,” after the group noticed a significant uptick in online sales the Monday after Thanksgiving.”

    Ternyata 12.12 juga memiliki nilai history besar bagi Gereja Kristus Rahmani Indonesia.

    Gereja yang dirintis oleh Pdt. Prof. Dr. SJ. Sutjiono ini mengadakan ibadah pertama kali tanggal 12 Desember 1971. Kehadiran GKRI tentunya memberi warna baru bagi gereja-gereja di Indonesia. Berbicara tentang kehadiran gereja, banyak pandangan dari berbagai tokoh dan renungan ini melihat pandangan dari Stott atas kehadiran gereja.

    Menurut Stott, gereja yang berada pada pusat rencana kekal Allah haruslah menjadi gereja yang hidup. Untuk menjadi gereja yang hidup, ada empat hal yang dilakukan oleh gereja, yaitu:

    • Gereja yang belajar.

    Di masa kini, ajaran para Rasul tertulis dalam Alkitab (Kis. 2:42), maka para Pendeta dan Penatua mengajarkan ajaran Alkitab, para orangtua mengajarkan isi Alkitab pada anak-anaknya di rumah seperti yang diperintahkan Tuhan dalam kitab Ulangan 6:7. Jemaat membaca Alkitab setiap hari, merenungkannya supaya imannya bertumbuh kemudian menjalankan isi ajaran itu. Setiap orang yang mengaku pengikut Kristus haruslah senantiasa belajar dan mempraktekkan Firman itu sehingga menjadi nyata dalam kehidupannya.

    • Gereja yang diakonia

    Pemberitaan dan kesaksian tidaklah selalu dilaksanakan dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan. Perlu dipahami, adakalanya suara perbuatan lebih nyaring gaungnya daripada perkataan. Dengan tindakan maka Injil juga dapat diberitakan dan dirasakan oleh orang lain. Perkataan, kehidupan dan tindakan diakonia yang kita berikan kepada orang lain atas nama Tuhan YESUS Kristus adalah juga marturia. Maka dari itu, diakonia adalah bagian integral dari misi Gereja. Marturia dan Diakonia adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan misi gereja yang mendasar. Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas. Sebenarnya gereja dalam pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan sosial sekaligus mengembangkan prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak sebagaimana dalam Kisah Para Rasul 2:44-45.

    • Gereja yang koinonia

    Salah satu ciri yang menarik dari jemaat mula-mula adalah mereka bertekun dalam doa dan memecah-mecahkan roti serta mengucap syukur. Ada keseimbangan dalam ibadah jemaat, yaitu ibadah secara formal (persekutuan / ibadah) dan komunitas kehidupan. Maksudnya adalah mereka melakukan ibadah namun tidak hanya itu, mereka harus mempraktekkan ibadah tersebut dalam bentuk kasih persaudaraan yang nyata dengan saling menolong dan menopang. Di dalam tubuh Kristus, semua orang menjadi satu, dan satu di dalam semua oleh Kristus sebagaimana dalam 1 Korintus 12:26. Persekutuan koinonia wajib beralaskan firman Allah, Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan pemahaman firman Allah dan penghayatan iman yang kemudian dipraktekkan maka setiap umat sadar bahwa dirinya sebagai bagian integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta yang dimilikinya. Patut kita sadari bahwa memiliki pemahaman yang benar tentang firman Allah membawa kita terlepas dari makna koinonia yang salah, yaitu persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus (koinonia) akan beralih fungsi menjadi komunitas politik Kristen (Christian Political Community).

    • Gereja yang marturia

    Ibadah koinonia yang berpusat dan beralaskan pada firman Allah, Baptisan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan untuk menjadikan persekutuan tersebut eksklusif namun tetap harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan berita keselamatan kepada semua orang. Pemberitaan itu harus dilakukan orang-orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan. Injil kerajaan Allah haruslah disampaikan. Ini tidak sama dengan “Kristenisasi” atau sekedar menjadikan seseorang “Kristen”. Injil adalah kabar baik, maka gereja bertugas untuk memberitakan kabar baik tersebut. Beragam aktifitas yang dapat dilakukan dalam penyampaian kabar baik itu, bisa melalui khotbah dan pengajaran, bisa juga melalui kehidupan nyata sebagai orang percaya. Kita dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melaksanakan misi-Nya di bumi.

    Memasuki usia ke-50 tahun, tentu bukan perjalanan singkat bagi sebuah sinode gereja. Tahun ini Gereja Kristus Rahmani Indonesia merayakan hari jadinya yang bertepatan dengan euforia Hari Belanja Online Nasional. Semoga tidak hanya euforia-nya yang menjadi sentral semangat perayaan, namun semangat persaudaraan yang terus dijunjung tinggi karena GKRI lahir dari perbedaan dan oleh karena perbedaan itulah GKRI mampu menjadi salah satu gereja yang berkembang pesat dalam menjangkau jiwa-jiwa hingga pelosok daerah.

    Berkaca pada pemahaman Stott akan kehadiran gereja, demikian pula kiranya GKRI semakin dipersatukan Allah di dalam kasih-Nya sehingga selalu menjadi saluran kasih TUHAN dan berkat bagi masyarakat di sekitar gereja.

    Milikilah hati mengasihi jemaat yang sudah rela meluangkan waktu, materi, tenaga bahkan pikiran mereka. Tetap berdoa bersama, menangis bersama, bergandengan tangan tanpa melihat perbedaan.

    Selamat Ulang Tahun GKRI yang ke-50, Tuhan YESUS mengasihimu.

    ***

    Bionarasi

    HERTANTO Hertanto Ruhiman

    Hertanto, S.Th., MACM, M.I.Kom., M.Pd.

    Penulis merupakan Pendiri Ruhiman Ministry, sebuah lembaga yang bergerak di bidang Pewartaan dan Kegiatan Sosial.

    latest articles

    explore more

    33 KOMENTAR

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini