
Balikpapan, detikborneo.com — Setelah resmi berdiri melalui SK Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI Nomor 158 Tahun 2025, Gereja Bethany Nusantara (GBN) mengukir sejarah baru dengan menggelar Sidang Raya (SR) Sinode GBN Pertama di Gereja GBN Favor of God, Living Plaza, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kegiatan ini menjadi tonggak awal dalam penetapan arah strategis pelayanan GBN ke depan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi bangsa-bangsa.
Sidang Raya diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Ronny Mandang, Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Dalam khotbahnya, ia menegaskan pentingnya gereja kembali kepada jati dirinya sebagai pemberita Injil dan pelaksana Amanat Agung Kristus.

Mengawali prosesi, tarian tradisional Dayak yang anggun dibawakan oleh lima mahasiswi Institut Kristen Borneo, menandai kekayaan budaya lokal dalam bingkai pelayanan kontekstual yang diusung GBN.
Sidang Raya Perdana ini diikuti oleh 128 pendeta dari 109 gereja, mewakili 12 provinsi di Indonesia serta dari luar negeri, seperti Malaysia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Mengusung tema:
“The Great Harvest: From Nusantara to the Nations”
(Tuaian yang Besar dari Nusantara ke Bangsa-Bangsa),
panitia berharap agar pelayanan GBN memberi dampak global, berakar dari kekuatan lokal.

Ketua Umum Sinode GBN, Pdt. Dr. Samuel Kusuma, dalam sambutannya menyatakan rasa syukur atas terselenggaranya sidang raya pertama ini di Balikpapan, kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). “Ini adalah momen penting untuk menetapkan strategi dan arah pelayanan. GBN dipanggil untuk bertumbuh dalam iman dan menjadi berkat bagi bangsa,” tegasnya.
Sidang Raya dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Jeane Marie Tulung, yang diwakili oleh Direktur Urusan Agama Kristen, Amsal Yowei. Dalam sambutannya, Yowei mengingatkan bahwa fondasi gereja harus dibangun di atas Kristus (1 Korintus 3:11), tidak hanya secara spiritual tetapi juga dalam tata kelola organisasi, kepemimpinan yang melayani, dan pelayanan yang transformatif — termasuk program pelestarian ekologi seperti penanaman pohon matoa.

Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy Lengkong, M.Th, turut hadir dan menyampaikan bahwa GBN kini menjadi anggota ke-98 dari aras PGLII, menegaskan bahwa GBN memiliki peran strategis dalam sinergi gereja-gereja Injili di Indonesia.
Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti:
- Dr. Yulianus Henoch Sumual, Anggota DPD RI Dapil Kaltim, yang menyambut Sidang Raya ini sebagai langkah maju bagi Gereja Tuhan di seluruh Nusantara.
- Troy Pantouw, Staf Khusus Kepala Otorita IKN, memaparkan progres pembangunan IKN,
Sidang Raya GBN ini berlangsung selama dua hari, 30–31 Mei 2025, dengan agenda utama: pembahasan program kerja sinode, pemilihan pengurus, dan perumusan kebijakan strategis yang dibangun di atas dasar Kristus.

Sebagai simbolisasi komitmen spiritual dan ekologis, pembukaan SR ditandai pemukulan gong serta penandatanganan MoU antara Dirjen Bimas Kristen dan Sinode GBN, yang menyepakati penanaman 10 pohon di setiap gereja GBN, dari kota hingga kampung, sebagai wujud pelayanan yang menyatu dengan tanggung jawab sosial.
Dengan semangat persatuan, iman, dan pelayanan kontekstual, Sidang Raya I Sinode GBN menegaskan komitmen untuk menjadi terang dari Nusantara bagi bangsa-bangsa. (Sumber: YM/Bajare007)





