
Pontianak, detikborneo.com – Riak menuju Musyawarah Nasional (Munas) VI Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) kian terasa di seluruh Kalimantan. Menjelang berakhirnya masa jabatan Presiden MADN ketiga, Dr. Drs. Marthin Billa, M.M., pada Juni 2026, sejumlah tokoh mulai mengemuka sebagai kandidat penerus untuk memimpin lembaga adat tertinggi masyarakat Dayak tersebut.
Di tengah dinamika suksesi, kembali mencuat kesepakatan tidak tertulis mengenai tradisi pergiliran kepemimpinan antarprovinsi di Kalimantan. Presiden MADN pertama, Dr. Teras Narang, S.H., berasal dari Kalimantan Tengah/Kalimantan Selatan; Presiden kedua, Dr. (H.C.) Drs. Cornelis, M.H., dari Kalimantan Barat; dan Presiden ketiga saat ini, Dr. Drs. Marthin Billa, M.M., mewakili Kalimantan Utara. Dengan demikian, Kalimantan Timur menjadi satu-satunya provinsi yang belum pernah memegang tampuk kepemimpinan MADN dan kini memiliki peluang besar di Munas VI.
Dari Kaltim, muncul tiga nama tokoh kuat yang digadang-gadang maju:
- Dr. Syaharie Jaang, S.H., M.H., mantan Wali Kota Samarinda.
- Dr. Yulianus Henock, anggota DPD RI.
- Dr. Abriantinus, S.H., M.A., Ketua DAD Kota Balikpapan sekaligus tokoh pengusaha Kaltim.
Sementara itu, dari Kalimantan Barat, nama Yulius Aho, S.H., pengusaha muda dan praktisi politik, turut mengemuka dan secara terbuka menyatakan kesediaannya maju jika mendapat restu masyarakat adat.
“Bila masyarakat adat dan para tetua melihat saya layak, saya siap untuk ikut serta dan berkontribusi. Tujuan saya sederhana: bagaimana MADN bisa semakin kuat, modern, tapi tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur Dayak,” ujar Yulius Aho di Pontianak.
Dari Kalimantan Tengah, nama Agustiar Sabran, Ketua Umum DAD Kalteng sekaligus Gubernur Kalteng, juga disebut sebagai calon kuat dalam bursa kepemimpinan.
Menanggapi dinamika tersebut, Selpanus Seko, S.H., M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) dan Pengurus MADN Bidang Pelestarian Hukum Adat dan Budaya, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para tokoh muda, khususnya Yulius Aho.
“Saya berterima kasih ada pengusaha dan tokoh muda Dayak yang mau ikut memikirkan kemajuan suku bangsa Dayak. Secara pribadi, saya senang dan mendukung perjuangan Pak Yulius Aho untuk mencalonkan diri menjadi Presiden MADN Periode 2026–2031.”
Selpanus kemudian menjelaskan alasan dirinya menilai Yulius Aho layak memimpin MADN:
“Mengapa saya memilih mendukung Yulius Aho? Karena beliau memiliki karakter pemimpin muda yang lengkap. Pertama, dari sisi integritas dan karakter, ia jujur, adil, beretika, dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai Dayak. Kedua, kemampuan komunikasinya sangat baik—mampu berkoordinasi, membangun kerja sama, serta terbuka terhadap pandangan orang lain. Ketiga, ia memiliki kepekaan sosial, mampu membaca situasi dan bertindak dengan tepat. Keempat, Yulius adalah figur yang cakap digital, mampu memfilter informasi, tidak mudah terpengaruh hoaks, dan memahami dinamika ruang digital yang menjadi tantangan generasi kita. Kelima, ia memiliki kualitas kepemimpinan: menginspirasi, mendorong inovasi, berani mengambil keputusan, dan tegas dalam menghadapi masalah. Keenam, ia dekat dengan anak muda, memahami apa yang mereka inginkan dan bagaimana memberdayakan generasi muda Dayak. Dan ketujuh, ia memiliki visi masa depan—memberikan perhatian pada lapangan kerja, pendidikan, dan membuka ruang berkarya bagi generasi muda Dayak.”
Menurut Selpanus, kombinasi kualitas tersebut menjadi modal penting bagi pemimpin MADN ke depan, terutama menghadapi perubahan besar yang hadir bersama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Munas VI MADN pada Juni 2026 diperkirakan menjadi momentum penting dalam perjalanan lembaga adat Dayak. Selain sebagai ajang regenerasi kepemimpinan, Munas ini diharapkan mampu memperkuat peran MADN sebagai pemersatu masyarakat Dayak di era transformasi baru Kalimantan. (Bajare007)





