
Jakarta, detikborneo.com – Mengamati kiriman beberapa Video yang beredar di Group-group Whatshap, antrian panjang dan berlapis ada di SPBU. Pemandangan ini sudah terjadi hampir dua Minggu ini. Apakah ini dampak dari perang di timur tengah? Belum tentu juga. Yang jelas masyarakat resah dan panik.
Apalagi ada pernyataan dari salah satu menteri yang menyatakan bahwa stok minyak tidak banyak. Pernyataan ini muncul terkait kalau perang berlanjut dan berskala besar.
Namun perang sudah berhenti. Tapi antrian justru semakin menjadi-jadi. Hal ini terjadi di beberapa kabupaten yang berada di Kalimantan Barat.
BACA JUGA : Ada Pungli di SPBU Jalan Trans Kalimantan, Pelaku Dapat Rp 2 Juta Per Hari

Dengan adanya antrian di SPBU maka secara otomatis, masyarakat berebut untuk mendapatkannya. Ketegangan di antara pengantri dengan pengantri. Antara pengantri dengan petugas SPBU tidak terhindarkan.
Selain berpanas-panasan. Sudah ngantri ada yang main serobot. Sudah ngantri lama, datang di titik pengisian BBM-nya habis. Belum lagi terik panas matahari yang membakar kulit. Dampak lain harga di eceran melonjak naik diikuti harga barang-barang dengan alasan kelangkaan BBM tadi.
Entah siapa yang memulai dan bagaimana bisa terpola semacam itu. Sebenarnya stok normal. Jika di serbu sekaligus, otomatis tidak akan pernah cukup. Apalagi ada yang datang berkali-kali ke lokasi SPBU. Alasan untuk persediaan.
Situasi ini harus segera di atasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Jika tidak maka akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar pada masa mendatang. Masyarakat dirugikan sedangkan para pebisnis nakal diuntungkan(yang menampung). Adanya tindak tegas kepada mereka yang menimbun sangat diharapkan. Sedangkan masyarakat tidak perlu datang secara bersamaan ke SPBU.
Sebagai contoh di Kecamatan Mempawah Hulu desa Karangan, dalam sehari dua tangki minyak dikirim ke SPBU oleh pertaminanya. Pengirimannya normal. Antrian membludak karena datang bersamaan otomatis tidak akan pernah cukup.
Langkah berikutnya, pihak SPBU harus mampu mengenali masyarakat yang berkali-kali datang ke SPBU dan tidak dilayani mereka. Demikian juga yang bukan penjual eceran jangan diberikan ruang.
Ingat habis waktu di area SPBU, berpanas-panasan, adanya ketegangan dan kenaikan harga-harga barang sangatlah merugikan masyarakat. Semoga dalam waktu dekat kembali kepada situasi semula (Paran Sakiu)





