
Jakarta, detikborneo.com – Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) DKI Jakarta menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) II, pada Jumat, 16 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula GKE Anthiokia, Cawang Jakarta Timur, dan dilaksanakan secara hybrid dengan menggabungkan kehadiran langsung dan daring.
Muswil ICDN DKI Jakarta ini bertujuan untuk memilih Ketua ICDN DKI Jakarta periode 2025-2030 sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi dalam menghadapi tantangan pembangunan dan modernisasi. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) ICDN, Dr. Ir. Willy Midel Yoseph, serta sejumlah intelektual Dayak dan perwakilan unsur organisasi.
Sidang Muswil dipimpin oleh Dr. Tirta Susila, D.Th selaku Ketua Sidang, didampingi dua anggota sidang yakni Timotius Sipur dan Benny Matriksa. Sidang dibuka secara resmi setelah seluruh peserta dan perangkat persidangan dinyatakan lengkap.

Dalam sambutannya, Ketua Umum ICDN Dr. Ir. Willy Midel Yosep menegaskan pentingnya peran cendekiawan Dayak sebagai jembatan kemajuan sumber daya manusia Dayak tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya. Menurutnya, modernisasi harus disikapi secara bijak agar kebudayaan Dayak tetap hidup dan berkembang.
“Cendekiawan Dayak memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal kemajuan suku bangsa Dayak, sekaligus menjaga dan mengembangkan kebudayaannya di tengah arus zaman,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga ditegaskan kembali visi dan misi ICDN. Visi ICDN adalah membangun ekosistem sumber daya manusia Dayak yang unggul dan berdaya saing. Adapun misinya meliputi penguatan pendidikan, riset, jejaring profesional, pelestarian budaya berbasis ilmu pengetahuan, serta partisipasi aktif dalam perumusan dan pengawasan kebijakan publik.

Tujuan akhir ICDN adalah menjadikan masyarakat Dayak sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek, serta sebagai pelaku utama yang bermartabat dan sejajar dalam pembangunan nasional.
Dr. Ir. Willy Midel Yoseph juga menekankan pentingnya peran intelektual Dayak dalam mendokumentasikan keragaman sub-suku dan bahasa Dayak melalui penulisan buku dan karya ilmiah sesuai wilayah masing-masing. Ia turut menyinggung keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dinilainya membawa peluang positif bagi masyarakat Dayak, sekaligus menjadi tantangan bagi ICDN dalam menyiapkan SDM yang kompeten dan siap bersaing.
Muswil kemudian dilanjutkan dengan sidang pleno yang membahas agenda utama pemilihan Ketua ICDN DKI Jakarta. Dalam forum tersebut, terdapat tiga bakal calon ketua yang diusulkan, yakni Benny Matriksa, Bias Layar, dan Marvel Nustra Bellem. Ketiganya diberikan kesempatan yang sama untuk memaparkan visi dan misi serta memperkenalkan diri di hadapan peserta Muswil.

Hasil musyawarah menyepakati pembentukan tim formatur guna mematangkan struktur kepengurusan serta penunjukan unsur Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) ICDN DKI Jakarta untuk periode 2025–2029.
Sementara itu, Sekretaris ICDN DKI Jakarta, Lawadi Nusah, S.Pd, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kerja kepengurusan periode sebelumnya. Laporan tersebut diterima secara resmi oleh pimpinan sidang dan peserta Muswil.
Muswil II ICDN DKI Jakarta diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran cendekiawan Dayak dalam pembangunan daerah dan nasional, sejalan dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. (Rudi Rehan)





