
Jakarta, detikborneo.com – Johanis Chrisostomus Oevaang Oeray, atau yang lebih dikenal dengan JC Oevaang Oeray, merupakan tokoh Dayak pertama yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Barat pada tahun 1960 hingga 1966.
Karier politiknya dimulai ketika ia mendirikan Partai Persatuan Dayak (PPD), yang menjadi salah satu peserta pada Pemilu pertama tahun 1955. Melalui partai tersebut, ia berhasil mengantarkan satu wakil ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili daerah Kalimantan Barat.
Namun, pada tahun 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan yang melarang partai-partai berasaskan etnis, sehingga Partai Persatuan Dayak terpaksa dibubarkan. Setelah itu, Oevaang Oeray bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo).
Sebagai seorang politisi, Oevaang Oeray dikenal sebagai pendukung kebebasan beragama dan pemisahan antara gereja dan negara. Pada masa konfrontasi Indonesia–Malaysia, ia memberikan dukungan penuh kepada Presiden Soekarno, yang menentang pembentukan Federasi Malaysia.
Kedekatannya dengan Presiden Soekarno membawa dampak besar setelah peristiwa G30S/PKI. Oevaang Oeray bersama beberapa tokoh Dayak lainnya dituduh sebagai simpatisan komunis. Akibatnya, pada 12 Juli 1966, Menteri Dalam Negeri Basuki Rahmat memberhentikannya dari jabatan Gubernur dan menunjuk Letnan Kolonel Soemadi sebagai penggantinya.
Usai tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Barat, Oevaang Oeray bergabung dengan Partai Golongan Karya (Golkar). Ia dipercaya menjadi anggota DPR RI periode 1977–1982, dan hingga akhir hayatnya pada 17 Juli 1986, ia masih aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan DPD Golkar Kalimantan Barat.








